Kenapa Kuta Murah?

2 menit waktu baca

Saya baca di akun twitter Balebengong yang pada intinya mengabarkan bahwa ada keresahan penduduk Kuta tentang keadaan desa mereka. Terdapat 7 butir tuntutan yang dibacakan perwakilan masyarakat di hadapan Gubernur Bali.

Pada butir ke-4 disampaikan perlunya filter terhadap wisatawan yang hadir, agar Kuta ndak nampak murahan.

Tentu saja sulit untuk membuat batasan siapa saja yang boleh datang ke Kuta. Ini bukan salah orang yang datang, tapi salah Kuta sendiri sehingga Kuta jadi terkesan ‘murah’ di mata wisatawan.

4. Filterisasi Wisatawan: Karena citra Kuta yang semakin ‘murah’, kualitas turis yang berkunjung ke Kuta pun mengalami penurunan termasuk tingkah dan perilakunya. Sudah banyak terjadi kasus-kasus memalukan yang disebabkan oleh perilaku turis-turis yang kurang berkualitas.

Kami menuntut pemerintah agar membuat sebuah sistem filterisasi wisatawan yang masuk ke Bali. Misalnya, syarat-syarat berkunjung diperketat agar Kuta/Bali tidak terkesan terlalu murahan di mata para turis. Jangan sampai terkesan Kuta/Bali mengobral diri.

Kenapa Kuta bisa semurah itu?

Menurut saya, karena Kuta menjual ‘barang’ yang sebenarnya tersedia di negara asal wisatawan. Kuta menawarkan diskotik, pub, cafe, restoran dengan menu mancanegara, dsb.

Untuk mendapatkan itu semua, mereka tidak perlu jauh-jauh datang ke Kuta.

Ibarat supermarket, menjual barang yang sama, maka cara tergampang untuk menarik konsumen dengan menawarkan harga yang lebih murah.

Daripada mempromosikan Hardrock Cafe, kenapa tidak lebih gencar promosikan balai kesenian yang mungkin ada di Kuta yang secara rutin menampilkan kebudayaan/tradisi lokal Kuta atau daerah sekitar?

Daripada menawarkan sexy dance yang menampilkan celana dalam penarinya kemana-mana, tawarkan pementasan tari tradisional.

Seharusnya itu yang ditawarkan Kuta, karena memang seharusnya itu yang dimiliki Kuta. Musik, tarian, makanan, minuman mereka sih bisa mereka dapatkan di negara asalnya.

Kalau Kuta pengen dihargai ‘lebih mahal’ seharusnya Kuta menjual apa yang hanya ada di Kuta. Selain itu, Kuta sendiri harus tegas untuk membuat diri mereka eksklusif.

Misalnya, saat diadakan upacara agama di salah satu pantai, tutup pantai itu untuk kunjungan wisatawan. Jangan malah membiarkan upacara itu menjadi tontonan gratis buat mereka yang sedang berjemur setengah telanjang di pantai yang sama.

Kalaupun wisatawan ingin masuk ke areal pantai saat ada upacara dan menonton/mengikuti upacara, berlakukan syarat berbusana seperti masuk ke pura.

Sekarang Kuta sudah terlanjur menjadi produk gagal dari sebuah konsep industri pariwisata yang tidak terencana dengan baik. Tugas pemerintah adalah berusaha sekeras mungkin mengalihkan perhatian para wisatawan dari Kuta.

Bali bukan hanya Kuta.

Pemerintah harus bisa mengajak wisatawan meninggalkan dan melupakan Kuta. Tawarkan kepada mereka hal lain yang eksklusif dari Bali.

Atau pindahkan sekalian airport ke Bali utara. Kalau tetap mendarat di Tuban, wisatawan akan cenderung untuk mencari penginapan di sekitar Kuta.

Nanti bekas airport di Tuban bisa dialihfungsikan untuk hal yang lebih bermanfaat untuk lingkungan. Misalnya dijadikan taman kota.

Tapi justru airport Ngurah Rai malah diperbesar. Ya sudah,,

***

Saya bukan seorang pengamat pariwisata, apalagi pelaku usaha pariwisata. Saya hanya warga Jakarta yang turut prihatin dengan kondisi Kuta.

Saya tidak pernah merasa nyaman setiap kali berkunjung ke Kuta. Tapi saya selalu berharap agar Kuta menjadi desa yang lebih nyaman bagi semua orang, terutama bagi penduduk lokalnya.

Ini penting!

Sebab kalau mereka semakin resah, bisa jadi mereka akan seperti Forum Betawi Rempug, yang akhirnya memakai ‘jalan lain’ untuk menuntut hak-hak mereka sebagai penduduk lokal. Saya harap Kuta ndak akan jadi seburuk itu.

Diedit terakhir 11 Juli 2017
Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2013-2017 Agung Pushandaka

Related Post

2 thoughts on “Kenapa Kuta Murah?”

  1. Mindset yang seperti itu memang susah diubah, tapi setidaknya masyarakat sudah mulai peduli, hanya saja penambahan sudut pandang mungkin bisa menjadi masukan yang membangun ke arah lebih baik.

    Saya suka tulisan ini.

Comments are closed.