Kenapa Kita Repot?

3 menit waktu baca

Saya, menulis ini saat berada di Bali. Iya, saya sedang ditugaskan oleh kantor untuk mengikuti perundingan bilateral Indonesia-Korea, salah satunya adalah tentang investasi. Banyak hal yang dibahas oleh kedua belah pihak untuk mengatur tentang “tata tertib” berinvestasi di kedua negara oleh investor dari masing-masing negara. Hmmm,, sejujurnya saya malas mengikuti perundingan-perundingan seperti ini. Sebab jujur saja, selain saya memang seringkali merasa bosan dan mengantuk dengan kegiatan-kegiatan rapat semacam ini, saya juga ndak melihat banyak keuntungan dengan adanya perjanjian kerjasama di bidang investasi semacam ini bagi negara kita. Saya kadang merasa, kita ini punya hampir semua yang dibutuhkan oleh negara lain di dunia. Tapi, kita seperti negara yang ndak punya apa-apa. Bisa menangkap maksud saya?

Begini.., saya ambil contoh bagaimana sebenarnya kita punya segalanya tapi justru seperti ndak punya apa-apa. Waktu saya di Cina, tour guide yang mengantar saya selama di sana mengakui bahwa koleksi buah segar di Cina mungkin kalah dengan koleksi buah di Indonesia. Tapi dia ndak tau bahwa justru mungkin Indonesia adalah salah satu negara pengimpor buah terbesar di dunia. Buah apa sih yang ndak bisa tumbuh di Indonesia? Tapi di sisi lain, buah apa sih yang ndak diimpor ke mari?

Contoh lain,, teman-teman saya dari negara lain yang saya temui di Cina begitu kaget sewaktu mereka tau bahwa selama ini pemerintah memberi subsidi bahan bakar minyak. Mereka berkomentar, betapa kayanya Indonesia sampai sanggup membayar sebagian harga bensin. Bayangkan, bensin yang dikonsumsi setiap hari pun dibayari negara. Kurang kaya raya bagaimana negara kita, coba?

Sekarang, kita repot untuk membuat perjanjian negara lain yang ingin berinvestasi di negara kita. Bahkan seringkali mereka cenderung mendikte negara kita untuk “memanjakan” investor asal negara mereka. Kalau boleh jujur, investor asing memang memberi beberapa manfaat untuk negara kita. Tapi manfaat yang diterima oleh para investor jauh lebih besar daripada yang diperoleh masyarakat. Lihat saja perusahaan pertambangan emas di Papua. Sampai sekarang mereka blum kehabisan stok emas untuk digali. Tapi masyarakat Papua masih saja jauh dari sejahtera.

Kalau saya boleh bermimpi sih,, kenapa harus orang lain yang berinvestasi di negara ini? Kenapa bukan kita sendiri yang berinvestasi di tanah kita? Seperti yang sudah saya bilang, negara kita banyak uang, bahkan setelah dikorupsi oleh beberapa orang serakah di muka bumi pertiwi sekalipun. Kita punya badan usaha negara, kita juga punya banyak perusahaan daerah. Kenapa bukan itu saja yang dioptimalkan daripada mereka cuma jadi partner bagi investor asing? Kalau butuh tenaga ahli yang blum tersedia di negeri sendiri, kita mampu kok bayar ahli dari negara lain. Tuh lihat Garuda Indonesia, mereka sanggup membayar pilot asing dengan gaji mahal untuk menerbangkan pesawat-pesawatnya. Jangankan membayar tenaga ahli, membayar mahal anggota dewan yang ndak jelas keahliannya pun kita sanggup!

Saya rasa dengan uang kas yang kita punya, kita sanggup mendirikan perusahaan apapun yang dibutuhkan. Saya pernah dengar Pak Kwik, mantan menteri keuangan, bilang bahwa negara ini bisa menggali minyak sendiri. Tapi buktinya, hampir semua blok minyak dikuasai perusahaan asing. Saya yakin, Pak Kwik ndak asal bicara. Tapi fakta yang terlihat, Pak Kwik jadi seperti pemimpi di siang terik, karena analisisnya ndak bisa terjadi di sini.

Tenaga kerja potensial? Kita punya banyak! Contoh deh,, sudah nonton film Pacific Rim? Keren ya. Tapi apa anda tau bahwa animator film itu adalah orang Indonesia? Ndak perlu jauh-jauh, Ipin-Upin, bocah gemblung dari negeri sebelah pun “dilahirkan” oleh anak bangsa kita. Banyak kemampuan orang kita yang dihargai di negara lain, tapi negara ini justru sering mengeluh kekurangan tenaga ahli. Bukankah itu sebuah ironi?

Oke, kita punya uang, tenaga kerja melimpah, apalagi yang kurang? Lahan untuk diolah? Laut untuk diselami? Ah, percuma kita punya 17.000 pulau dengan segala potensinya serta ribuan kilometer persegi luas laut dengan aneka kekayaan di dalamnya, kalau masih mempertanyakan apa yang kita punya untuk diolah.

Nah, kalau kita bisa berdayakan itu semua, keuntungan yang kita dapat tentu saja berlipat ganda. Keuntungan investasi akan lebih banyak masuk ke kantong negara. Kita seharusnya bisa menjadi negara pembuat, bukan cuma pembeli.

Kalau sudah begitu, buat apa kita repot membahas perjanjian yang lebih banyak menguntungkan investor asing di negara ini?

Ah, mungkin saya cuma pemimpi. Tapi saya yakin, saya ndak bermimpi sendiri..

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2013 Agung Pushandaka

Related Post

2 thoughts on “Kenapa Kita Repot?”

  1. Wow…

    Beberapa kalimat di tulisan ini begitu menusuk.

    Entahlah, belakangan saya juga sering berpikir, kita ini (orang Indonesia) sebenarnya hebat-hebat, ditambah dengan apa yang kita punya disini di Indonesia mungkin jauh lebih hebat dari yang ada di luar negeri, jadi saya setuju dengan tulisan ini bahwa Indonesia sebenarnya bisa jauh lebih kuat dan mandiri dari negara lain.

  2. Ya, seperti itulah negara kita, kaya tapi miskin. Kita kaya tapi hidup kita miskin. Ini lama kelamaan menjadi negeri yang membosankan.

Comments are closed.