Kembali ke Radio

3 menit waktu baca

Sejak pertama kali datang kembali ke Denpasar, setelah 10 tahun di Jogja, sejak Januari 2008 sampai beberapa hari kemarin, saya sama sekali ndak pernah mendengarkan siaran radio lagi. Sejak mulai mengenal internet, saya lebih memilih untuk mencari hiburan di internet, dan tentu saja tivi. Tapi, beberapa hari lalu saya mulai berpikir, saya ndak bisa setiap hari berinternet. Uangnya dari mana? Sementara siaran tivi, semakin ke sini, semakin porak-poranda saja kualitas program acaranya. Tentu saja yang saya maksudkan adalah tivi lokal dan nasional kita, bukan tivi internasional yang bisa kita tonton kalau kita berlangganan tivi berbayar itu.

Akhirnya, saya mencoba untuk kembali ke radio. Ada seonggok radio compo (saya ndak tau istilah yang tepat untuk benda ini, hihi!) tua di rak tivi lobi rumah. Saya perhatikan dan ingat-ingat lagi, radio ini pernah rusak, tapi saya ndak ingat sudah diperbaiki atau blum.

Untuk segera tau apakah benda ini masih bisa dipakai atau ndak, satu-satunya cara adalah dengan menyalakannya. Maka, terdengarlah bunyi-bunyi aneh begitu kabel stop/kontaknya teraliri listrik.

“Bletak! Bletak! Ngiiiiiing…” kira-kira bunyinya seperti itu.

Ternyata, benda ini sedang menjalankan fungsi vcd player. Bunyi berdenging itu dihasilkan oleh mesinnya yang bekerja tapi ndak ada cd di dalamnya. Tapi setelah saya coba, ternyata rusak. Vcd player ndak bisa dipakai.

Maka kemudian saya pencet tombol function. Beralihlah fungsinya ke fungsi tape. Saya mencobanya juga dengan memasukkan sebuah kaset lama dan ndak sabar memencet tombol play. Bisa! Tape nya bekerja, walaupun lagu yang terdengar kemudian seperti perahu di tengah lautan, yang terombang-ambing naik turun.

Akhirnya fungsi radio berjalan ketika saya pencet sekali lagi tombol function tadi. Yang ada cuma suara berdesis karena tunernya blum tepat di gelombang yang memancarkan sebuah stasiun radio. Dengan tuner otomatis, tertangkaplah sebuah lagu! Suaranya jelas dan jernih. Radionya berfungsi baik! Senangnya..

Buat yang masih terbiasa mendengar radio sampai sekarang, mungkin merasa saya ini berlebihan. Tapi, wah.., saya benar-benar merindukan radio. Sudah lama banget saya ndak pernah menikmati siaran radio. Apalagi sejak mengenal internet.

Pertama kali punya radio waktu sd kelas 5. Cuma radio kecil, paling-paling cuma seukuran batako. Radio berubah menjadi agak besar waktu smp. Masih model lama yang antik itu. Yang pakai jarum penunjuk gelombang radionya. Tunernya pun masih berupa knop yang harus diputar-putar dengan lembut supaya bisa tune-in secara tepat.

Beranjak sma, saya dibelikan radio-tape yang audionya besar banget. Volume suara ditambah sedikit saja, sudah cukup membuat benda-benda di kamar bergeser karena getaran yang dihasilkan. Intinya, keseharian saya dulu lebih banyak ditemani radio. Jarang banget nonton tivi.

Tapi kemudian, radio mulai saya tinggalkan sejak saya mengenal internet sekitar tahun 1999. Padahal waktu itu, saya sempat dibelikan mini-compo bermerk Philips. Tapi kemudian, malah hilang ndak berbekas. Apalagi waktu itu, stasiun tivi baru mulai banyak bermunculan. Semakin jauhlah radioย  tersingkir dari rutinitas saya. Sampai akhirnya saya memutuskan kembali ke radio beberapa hari lalu.

Radio menurut saya punya banyak kelebihan lain yang ndak dimiliki media lain. Pertama tentu, banyaknya pilihan stasiun radio. Kedua, adalah interaksi radio dengan pendengarnya. Kita bukan sekedar penikmat atau pendengar, tapi kita juga bisa memilih apa yang mau kita dengar. Tivi ndak bisa seperti itu bukan? Dari interaksi pendengar dan penyiar itu, bisa kita dapatkan banyak hal, termasuk kelucuan-kelucuan yang lumayan membuat kita tersenyum, bahkan tertawa.

Kelebihan lainnya adalah bahwa di radio kita bisa mendapatkan informasi yang beragam jenisnya. Bandingkan dengan tivi sekarang ini. Beritanya cuma berkisar antara berita serius, dan gosip selebritis. Sementara di radio, selain berita serius (RRI), kita bisa mendapatkan informasi yang ada di sekitar kita. Misalnya, berita tentang kemacetan yang terjadi di kota. Atau kejadian-kejadian lain yang disampaikan penyiarnya.

Kalaupun ada yang dianggap sebagai kelemahan radio adalah bahwa siaran radio ndak bervisual/bergambar seperti tivi. Oke, saya setuju. Tapi, radio pun ternyata mampu bervisual. Sekarang cobalah dengarkan sebuah lagu di radio. Seketika itu otak anda akan memunculkan gambar/visual di pikiran anda sesuai dengan imajinasi atau memori anda. Hebat kan? Anda bisa menonton gambar yang sesuai dengan pikiran anda. Berbeda dengan tivi, kita cuma bisa lihat apa yang ditayangkan.

Maka saya pun memutuskan untuk menjauhi tivi. Bukan menjauhi sepenuhnya sih. Bagaimana pun, saya masih membutuhkan tivi terutama di program berita dan siaran langsung sepakbolanya. Di luar itu, tivi cuma merusak mood dan rasa senang saya.

Satu-satunya media yang paling berimbang adalah radio. Beritanya, hiburannya, interaksi dengan pendengarnya, semua ada di radio. Lagipulaย  radio itu murah. Coba saja bandingkan harga tivi dan radio. Blum lagi katanya bahwa radio menghabiskan lebih sedikit listrik dibandingkan tivi. Kalau benar seperti itu, artinya bertambah lagi kelebihan radio. Hemat!

Hmm., senang rasanya bisa kembali ke radio..

4 thoughts on “Kembali ke Radio”

  1. bukan kembali ke laptop? hahahaha

    saya juga seneng dengar radio, trutama dengerin lagu bali, hahahaha.. tapi sering denger 91.00 FM juga

    *untunglah HP dilengkapi radio

    Wah, kalau saya ndak pernah dengar radio lewat handphone. Ndak nyaman..

  2. saya lebih memilih radio daripada tv, bisa betah tanpa tivi berbulan2 tapi tidak dengan radio ๐Ÿ˜€ btw, sudah sangat lama ga blogwalking, ga ngeh klo ganti urlnya ๐Ÿ˜€

    Betah berlama-lama tanpa tivi bukan karena ndak mampu beli tivi kan? Hehe! Becanda..
    url saya tetap di sini kok.., blum ganti-ganti.. ๐Ÿ™‚

  3. kalo radio online pasti lebih asik. ๐Ÿ™‚

    Hahah! Embel-embel ‘online’ masih agak memberatkan saya, boss!!

  4. sebelum saya baca blog ini, sayapun sama sepert penulis.. tidak pernah secara sengaja mendengarkan radio. tapi ternyata radio lumayan menyenangkan….

    Betul banget, bli ketut! ๐Ÿ™‚

Comments are closed.