Katanya Kesehatan Nomor 1

Saya sangat mendukung pernyataan Bapak Presiden Jokowi yang bilang fokus pemerintah tetap kesehatan yang nomor satu. Tapi kok selanjutnya saya malah jadi geregetan ya.

Kemarin saya mendapat giliran piket masuk kantor di sela-sela kebijakan work from home. Saat jam makan siang masih tersisa beberapa menit, saya curahkan saja rasa geregetan saya di sebuah video.

Mau temani saya piket di kantor sambil mendengar keluh kesah saya? Bersiap-siap saja teman-teman jadi kehilangan sia-sia 11 menit waktu dan kuota internet anda yang berharga untuk mendengarnya.

Hehe.

Digiprove sealDigiproved

Author: Agung Pushandaka

Selain di blog ini, silakan temui saya di blog lain yang saya kelola bersama istri saya, Rebecca, yang bercerita tentang anak kami, K, di sini: Panggil Saja: K [keI].

14 thoughts on “Katanya Kesehatan Nomor 1

  1. aduh kalau ngomongin penanganan coroces di negara ini udah speechless
    maunya apa maunya gimana
    apalagi antara pusat dan daerah yang engga sinkron
    kalau bener kesehatan nomor 1 ya mau engga mau pengetatan dulu beberapa minggu tapi ya negara harus hadir
    engga dilepas gitu aja rakyatnya
    kalau engga ada kepastian orang orang ya masih pada keluar karena ya butuh makan
    yang bikin empet masalah testing dan tracing yg masih payah
    sama filipin aja, yg rakyatnya engga nyampe separuhnya Indonesia, kita masih kalah jauh
    lah jadi komen banyak wkwkwk

    1. Iya mas, geregetan saya juga melihatnya.
      Seandainya saja waktu itu pemerintah langsung fokus menanganni pandemi, mungkin kasus per hari tidak seperti sekarang yang mancapai 4000 kasus.

      Sehat selalu ya, mas.

  2. Bagus videonya mas.. Menyampaikan kegalauan banyak orang.

    Saya sendiri memang berpandangan bahwa yang terjadi sekarang adalah karena ketidakberanian pemerintah mengambil langkah tegas untuk menyetop pandemi. Mereka seperti hendak bermain aman dan tidak berani ambil resiko.

    Hasilnya memang sudah hampir bisa dipastikan akan seperti ini.

    Beberapa kawan saya tidak percaya ketika saya memprediksi kalau pasien Covid bisa mencapai ribuan perhari. Padahal saat itu yang terinfeksi masih 100-200 an menurut media, tetapi saya memprediksi sampai 3000-an, dan tidak ada kawan yang percaya.

    Hari ini saja sudah antar 4000-5000. Prediksi saya salah karena ternyata hasilnya lebih besar, tapi tidak dalam memprediksi bahwa penyebarannya akan meluas terus.

    Sikap tidak tegas pemerintah mendorong masyarakat menjadi abai dengan alasan ekonomi.

    Saya paham ada resiko lain, yaitu kolapsnya ekonomi, tetapi ketidaktegasan ini malah akhirnya merusak kedua sisi, ekonomi maupun kesehatan masyarakat.

    btw, video yang bagus.. Tambah lagi dong yang seperti ini

    1. Wah, terima kasih pak Anton. Cuma video keluh kesah saja.

      Saya waktu itu tidak berani memprediksi jumlah kasus harian, tapi meragukan target pemerintah yang kalau tidak salah bilangnya pandemi akan berakhir Juni (atau Juli ya). Ternyata sampai sekarang jangankan berakhir, menurun pun belum.

      Saya sepakat dengan pak Anton, karena kita tidak fokus kepada penanganan pandemi, sekarang kita malah menghadapi dua masalah, kesehatan dan ekonomi.

      Duh, semoga bangsa dan negara ini tetap sehat dan selamat, begitu juga seluruh penduduknya.

  3. waaah berat nih 😀
    Kalau saya lebih milih memprotect apa yang bisa.
    Biar gimanapun saya berpikiran mungkin pemerintah punya alasannya sendiri.
    Karena banyak hal yang harus dipertimbangkan.
    Amannya saya jaga diri dan anak-anak saja, dan berdoa semoga pandemi segera berakhir 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *