Kangen Gelora Dewata

Beberapa hari lalu, saya menonton pertandingan antara Persija Jakarta vs PSM Makassar di televisi. Seru sekali, gol penyama kedudukan terjadi di masa injury time. Setelah pertandingan berakhir, muncul rasa kangen di benak saya menikmati suasana hiruk pikuk yang sesungguhnya saat kita menonton pertandingan sepakbola di stadion.

Saya jadi merindukan suasana stadion Ngurah Rai saat menonton tim Barak-Putih-Selem, PS. Gelora Dewata ’89. Bertemu dan duduk bersebelahan dengan penonton lain yang tidak kita kenal tak pernah jadi masalah karena saat kita diskusi tentang Gelora Dewata sebelum pertandingan dimulai, rasanya kita sudah lama saling mengenal.

Tak peduli peduli cuaca, saya selalu menikmati suasana duduk di tribun ekonomi sebelah timur stadion karena dari sana sudut pandangnya lebih bisa menjangkau setiap sudut lapangan. Bolos sekolah pun pernah saya jalani demi menonton tim kebanggaan saya ini.

Pernah juga saya harus berhujan-hujan demi bisa menjadi saksi pertandingan seru melawan Persebaya Surabaya, yang datang ke Denpasar dikawal oleh ribuan bondo nekat. Pertandingan di dalam dan di luar lapangan sama-sama panas.

Suporter Gelora Dewata dan bonek seperti saling bersahut-sahutan melempari pendukung lawan dengan batu yang bisa bikin kepala bocor.

Banyak sekali kejadian yang pernah saya alami di stadion Ngurah Rai waktu mendukung Gelora Dewata secara langsung. Saya menggemari Gelora Dewata meskipun tak pernah mengangkat tropi juara nasional.

Seingat saya, prestasi terbaik Gelora Dewata adalah menjadi runner-up Piala Liga setelah kalah 0-1 dari Pelita Jaya Jakarta. Status runner-up itu menjadi pintu bagi Gelora Dewata berlaga di ajang Winners Cup Asia, karena Pelita Jaya harus berlaga di Champions Cup Asia sebagai juara Galatama.

Pertandingan Winners Cup Asia benar-benar menjadi pertandingan terbesar yang pernah diadakan di stadion yang terletak di Jalan Melati Denpasar ini. Saya ingat betul, belasan ribu orang, menurut berita sekitar 16.000 orang, memadati stadion mendukung Gelora Dewata menghadapi Perak FC dari Malaysia.

Padahal kapasitas stadion cuma 12.000 tempat duduk. Penuh sesak!!

Mungkin saya berlebihan, tapi saya merasa bumi berguncang hebat waktu skor berubah untuk Gelora Dewata. Merinding rasanya mengenang itu.

Waktu saya baca di koran nasional keesokan harinya, pemain-pemain tim lawan pun merasa takjub dengan suasana stadion seperti itu. Kata mereka, selama mereka berhadapan dengan tim-tim lain, paling banyak ditonton oleh sekitar 5.000 orang saja.

Sayangnya, kemenangan 2-0 Gelora Dewata berakhir tragis. Gelora Dewata didiskualifikasi oleh AFC karena legiun asing Gelora Dewata waktu itu, Vata Matanu Garcia, Abel Campos, dan Jeremy, belum resmi didaftarkan oleh PSSI ke AFC.

Sampai sekarang belum ada suasana dan sensasi sehebat itu saya alami di stadion sepakbola. Memang, saya pernah menonton pertandingan sepakbola di beberapa stadion di Jawa, bahkan di Gelora Bung Karno. Tapi tidak ada geregetnya karena yang saya tonton bukan tim kebanggaan saya.

Terakhir, saya mencoba mencari suasana itu di Gelora Bung Karno saat Persija Jakarta melawan Persijap Jepara beberapa bulan lalu. Setiap gol yang terjadi, saya tanggapi cuma dengan tepuk tangan lemah.

Melihat kondisi sekarang, rasa kangen itu sepertinya harus saya pendam lebih lama lagi. Tidak ada lagi kesebelasan dari Bali yang berlaga di kancah sepakbola nasional.

Kalau saja pengusaha-pengusaha di Bali diwadahi oleh pihak-pihak berkompeten di pemerintahan mau duduk semeja, saya rasa Bali mampu membentuk tim sepakbola.

Tidak perlu membentuk tim segemerlap Persija Jakarta atau Arema Malang yang membutuhkan dana puluhan miliar. Yang penting, nama Bali beredar lagi di sepakbola nasional, walaupun harus dimulai dari level terbawah.

Bayangkan kalau sekarang Bali punya tim sepakbola di kancah Liga Super Indonesia, pemain-pemain top macam Bambang Pamungkas, Ponaryo Astaman, dsb., akan bisa kita saksikan secara langsung.

Bahkan mungkin lebih hebat lagi daripada itu.

Asal tahu saja, Bali seringkali dikunjungi tim-tim luar negeri. Sebut saja AC Milan, SS Lazio, Sampdoria, dan PSV Eindoven. Tapi mereka ke Bali cuma untuk berlibur semalam, sebelum bertolak lagi ke negara lain untuk mengadakan pertandingan persahabatan.

Andaikata Bali punya tim sepakbola level nasional seperti Gelora Dewata, yang tentu saja didukung oleh stadion yang lebih baik dari stadion Ngurah Rai, rasanya tidak mustahil Manchester United akan memilih Bali sebagai tempat melangsungkan pertandingan tour Asia mereka bulan Juni nanti, bukan Jakarta.

Pembinaan lebih penting lagi. Sekarang buat apa kita punya klub sepakbola amatir kalau pemain-pemainnya tidak punya target tertinggi lagi. Dulu, kita punya Gelora Dewata yang mampu mengangkat pemain lokal kita ke level nasional seperti I Kadek Swartama, Wayan Sukadana, dsb.

Memang sih pemain-pemain lokal Bali masih bisa mengadu nasib di klub daerah lain seperti yang dilakukan Bayu Sutha di Persema Malang, I Made Wirawan di Persiba Balikpapan, I Komang Adnyana, PSMS Medan, dsb., tapi mereka pasti lebih menyenangi bermain untuk klub Bali.

Tapi ya, begitulah. Gelora Dewata, nampaknya akan selamanya cuma jadi kenangan. Mungkin Bali selamanya akan menjadi penonton sepakbola nasional. Saya tak akan pernah tahu.