Jaksa Agung Kedaluwarsa

2 menit waktu baca

Pernah lihat berita dikurungnya mantan Menteri Yusril Ihza Mahendra di kantor Kejaksaan Agung (Kejagung) beberapa hari yang lalu? Kalau blum, saya ceritakan sedikit. Yuzril dipanggil ke Kejagung untuk diperiksa sebagai tersangka kasus korupsi sistem administrasi badan hukum (sisminbakum). Yusril jadi tersangka sejak 24 Juni 2010. Nah, Kamis (1/7) kemarin Yusril datang ke Kejagung, tapi cuma sebentar. Dia mempertanyakan kewenangan Jaksa Agung (Jagung) yang dianggapnya ndak pernah diangkat oleh presiden sejak pelantikan SBY sebagai Presiden RI tanggal 20 Oktober 2009. Tapi, saat Yusril mau pergi, semua pintu gerbang di Kejagung ditutup dan dijaga satpam. Maka jadilah kehebohan ini. Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita selama ini memiliki Jaksa Agung yang sudah kedaluwarsa?

Ada 2 versi pendapat yang saling bantah untuk kasus ini. Pihak Yusril bilang bahwa Jagung seharusnya sama dengan menteri dalam sebuah kabinet. Hendarman Supandji menjadi Jagung sejak Mei 2007, masih dalam periode Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I (KIB I). Kalau merujuk kepada pendapat ini, maka Jagung otomatis berhenti bersamaan dengan berakhirnya masa tugas KIB I. Maka menurut Yusril, Hendarman ndak sah di posisi Jagung.

Sementara dari Istana Negara muncul pernyataan bahwa Hendarman adalah Jagung yang sah sampai saat ini. Sebab menurut UU Nomor 39 tahun 2008 tentang Kementerian Negara (UU Menteri), Jagung ndak termasuk ke dalam 34 anggota kabinet. Dengan kata lain, posisi Jagung ndak terpengaruh oleh masa tugas kabinet itu sendiri. Maka menurut Istana, Hendarman masih sah di posisi Jagung.

Saya coba cari jawaban versi saya sendiri di UU Nomor 16 tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia (UU Jaksa). Saya ndak temukan jawaban yang tegas untuk pertanyaan apakah Jagung merupakan bagian dari kabinet. Pasal 19 ayat 1 cuma bilang, Jagung adalah pejabat negara. Sementara menurut UU Nomor 43 tahun 1999 tentang Kepegawaian (UU Pegawai), menteri juga seorang pejabat negara. Jadi, apakah Jagung dan Menteri adalah sama?

Trus, berapa tahunkah masa jabatan seorang Jagung? Lagi-lagi, ndak ada jawaban tegas dalam UU Jaksa. Pasal 22 UU Jaksa cuma bilang bahwa syarat berhentinya Jagung salah satunya adalah karena sudah berakhir masa jabatannya. Seorang Jaksa akan diberhentikan dari jabatannya kalau sudah lewat umur 62 tahun (pensiun). Jadi, apakah masa jabatan Jagung adalah sama seperti Jaksa yaitu sampai berumur 62 tahun kecuali diberhentikan oleh presiden sebelum itu?

Masalahnya kemudian adalah bahwa umur Hendarman Supandji sudah lewat 62 tahun. Dia lahir pada tanggal 6 Januari 1947 (sekarang 63 tahun). Artinya dari segi umur pun dia sudah ndak sah. Kalaupun Jagung kemudian dikategorikan sama dengan Menteri di dalam kabinet, maka umur ndak jadi masalah sebab anggota kabinet ndak mengenal batas umur. Tapi kalau begitu, artinya Jagung harus diangkat bersamaan dengan Menteri di setiap pembentukan kabinet. Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II (KIB II) dibentuk tahun 2009, sementara Hendarman menjadi Jagung sejak Mei 2007. Maka, dari sisi ini pun Hendarman ndak sah karena ndak pernah diangkat sebagai Jagung untuk periode KIB II.

Kok bisa seperti ini? Masa’ iya presiden dan para pembantunya lupa bahwa Hendarman seharusnya sudah pensiun? Atau apa iya presiden lupa untuk mengangkat Hendarman menjadi Jagung untuk KIB II? Bagaimana mungkin Kejaksaan Agung akan bekerja maksimal menegakkan hukum kalau terganggu oleh hal-hal sepele seperti ini. Ada-ada saja..

Bagaimana pendapat anda? Bingung? Saya juga bingung. Hehe!

Related Post

35 thoughts on “Jaksa Agung Kedaluwarsa”

  1. Begitulah politik di negeri ini. Apapun bisa dilakukan untuk melegalkan keinginan mereka. Dan sungguh, masyarakat sudah muak dengan segala kealpaan ini.

  2. udh kedaluwarsa,,,keputusannya banyak yg kontroversial..udh lah,,demo aja biar mau turun,,biasalah kalo udh pd diatas lupa turun,,,,,,,,

  3. Mungkinkah human error? Bisa jadi ada salah miskom saja, saya sih berusaha positif thinking hehee…

    Agung Pushandaka Reply:

    Mungkin saja mbak. Tapi seharusnya ndak boleh terjadi. 🙂

  4. Kalau yang ahli hukum saja bingung, saya ditampilkan ulasan seperti di atas jadinya ikut bingung dong 😕

    Agung Pushandaka Reply:

    Hehe! Saya bingungnya bukan dari sisi hukumnya. Tapi dari sisi politiknya.

  5. Hadduwh. . .politik nie. . .hemh. . .mengapa di indonesia.nie g djelasin scara jelas n trperinci. .kpan brahirnya masa jabtan itu. . .

    eh. . .numpang promo. . .tlog kunjungan balik dan dukungannya, cz blog.q lagi mengikuti lomba, mhon komen, di update.an terbru.q

  6. Menurut saya pribadi jika sampai lupa merupakan hal yang fatal karena itu masalah Bangsa, tapi yach…begitulah, karena komentatornya bingung, saya juga bingung 🙂

  7. wah, kalo sudah kadaluwarsa, mendingan nggak usah dimakan deh, nanti sakit perut. eh, jaksa agung ini kue bukan? 😉
    salam persahablogan

  8. kebingungan saya yang pertama adalah kenapa yuzril, yang mantan menteri itu, jika memang menganggap bahwa mekanisme pengangkatan jaksa agung sudah salah tidak melakukan gugatan dari dulu? kenapa gugatan ini baru diajukan ketika dia dijadikan tersangka. fakta ini, menurut saya, ternyata tidak semua orang memiliki niat untuk membangun negeri ini dengan tulus. yuzril salah satunya. ini juga menjadi bukti, politik dan hukum dicampuradukkan dan tidak diletakkan pada porsi yang benar.
    kebingungan saya yang kedua, di undang-undang dasar tidak saya temukan satupun kata jaksa agung. padahal menteri disebut di sana. artinya, apakah menteri dan jaksa agung tidak memiliki kedudukan yang setara?
    ketiga,di kuhap pun tidak ada penjelasan rinci mengenai siapa jaksa agung. *makin bingung
    keempat,saya makin bingung…

    Agung Pushandaka Reply:

    Wah, banyak banget kebingungan anda. Saya coba menambah bingung lagi;

    Bingung pertama, kenapa Yusril baru mempermasalahkan hal ini sekarang? Cuma Yusril yang tau alasan sesungguhnya.

    Bingung kedua, betul kata Mahfud MD yang bilang bahwa posisi Jaksa Agung memang problematis secara hukum. Banyak aturan hukum yang harus dibaca untuk mendalami jabatan ini.

    Bingung ketiga, menurut saya kenapa Jaksa Agung ndak disebutkan di dalam KUHAP karena posisi ini adalah jabatan struktural di dalam Kejaksaan Agung saja, bukan “jabatan” dalam hukum acara. Hukum acara cuma mengenal “jabatan” penyelidik, penyidik, penuntut umum, penasehat hukum, dan hakim.

    Bingung keempat, semoga anda semakin bingung..

  9. Wow, saya baru sadar kalau ternyata Jaksa Agung tidak lagi termasuk dalam Kabinet. Bagaimana ini?

    Agung Pushandaka Reply:

    Sebenarnya, sejak dulu posisi Jaksa Agung ndak pernah jelas apakah termasuk ke dalam kabinet atau ndak. Tapi, baru jadi masalah setelah Yusril menjadi tersangka kasus sisminbakum dan mempersoalkannya. 🙂

  10. katakanlah pemerintah dalam hal ini Presiden lupa (human error), apakah Presiden mau mengakui dan segera melantik ulang?

    Agung Pushandaka Reply:

    Hmm.., kalau untuk pertanyaan ini kita harus tunggu jawabannya langsung dari presiden.

  11. waaa.. ternyata Yusril membuat opini tsb juga ada dasarnya yaa..
    saya baru mengerti.. kayaknya.. Hendarman musti turun.. saya juga kurang suka dengan cara dia bicara dan gaya2 nya yang agak kurang goodlook…

  12. mungkin presiden dan ajjarannya gak punya FB jadi lupa ultah dan usia stafnya…. 😀 …… lagian si Mr HS udah gak layak lagi memimpin korps kejaksaan, prestasinya untuk pemberantasan korupsi 0 besar.

    Agung Pushandaka Reply:

    Tapi si mister itu masih dipakai sama presiden mas..

  13. saya juga binging ne sebenarnya legal gak pak Hendraman, satu lagi pak Bambang Hendarso juga gak ada pengangkatan pada pengumuman kabinet oktober kemarin

    Agung Pushandaka Reply:

    Kalau setau saya, Kapolri memang bukan anggota kabinet mas. Walaupun pada rapat kabinet, Kapolri juga datang. Yang pasti, posisi Kapolri di dalam kabinet pemerintahan, lebih jelas daripada Jaksa Agung. 🙂

  14. nice info
    membuktikan bahwa pemerintahan kita ini gak bener. pasal2 UU-nya ambigu. biar bisa dipleset2in, dikaret2in… heran deh… ini yang bodoh sbenernya siapa sih?
    *esmosi*

  15. Entah mau dibuat apa negeri ini oleh para petinggi.

    Jika berkiblat ke Istana, didepan mata jurangpun akan benar sepanjang memenuhi unsur menguntungkan pihak istana 🙁

    Mengacu kepada aturan, sampai gundul nih kepala nggak ada nyambungnya.

    Ampun deh Bli, jangan bikin saya tambah bingung 😆

  16. Berbeda dengan kasus-kasus korupsi yang lain, kali ini saya percaya Yusril hanya dijebak.. ntah kenapa.. Tapi dibalik itu saya juga merasa pada akhirnya Yusril akan ditahan. Susah melawan pemerintah 🙁

Comments are closed.