Ironi Bengawan Solo

1 menit waktu baca

Saya mau bercerita tentang sebuah ironi. Situasi yang seharusnya terjadi, tapi kenyataannya tidak.

Saya menulis ini di kota Surakarta, atau yang banyak dikenal dengan sebutan Solo. Tidak, saya tidak akan membahas nama kotanya.

Saya menginap di sebuah hotel cukup ternama selama saya berada di Solo.

Saat saya masuk ke kamar hotel dan menyalakan listrik untuk pertama kalinya, tak cuma lampu yang menyala, tapi juga televisi.

Seperti kebanyakan tivi di beberapa hotel yang pernah saya kunjungi, tivi di hotel ini secara otomatis menayangkan saluran hotel.

Tau?

Saluran hotel yang saya maksud adalah channel dimana pihak hotel menayangkan informasi tentang hotelnya, tentang kota setempat, atau informasi lainnya kepada tamu yang menginap.

Nah, di hotel ini, beberapa lagu dipakai sebagai soundtrack. Saya tak tau apakah soundtrack istilah yang tepat untuk menjelaskan bahwa di saat kita menonton informasi di saluran hotel itu, ada lagu yang juga diperdengarkan.

Saya cuma tau satu lagu, berjudul I Believe I Can Fly. Selebihnya saya tidak tau.

Saya juga kurang paham, apa alasannya lagu itu yang dipilih. Rasanya bukan karena pesan dalam lirik lagu, bukan pula karena ada kerja sama antara hotel dan pemilik lagu.

Mungkin cuma karena lagu itu dianggap bagus dan cocok untuk dipakai sebagai pengantar informasi yang disampaikan.

Entahlah.

Tulisan ini bukan dibuat untuk mengkritik apalagi menghujat pemilihan lagu itu. Tidak, sama sekali tidak ada yang salah.

Semuanya baik-baik saja.

Tapi seperti yang saya bilang tadi, ada suatu ironi.

Saya ingat, saya pernah berkunjung ke Cina untuk sebuah pendidikan. Saya sekali pernah menginap di sebuah hotel di sana.

Saya lupa nama hotel dan kotanya. Bukan di Beijing, pastinya.

Hotel itu juga punya saluran hotel di tivi kamar. Tau lagu apa yang dipilih oleh pihak hotel sebagai soundtrack-nya?

Bengawan Solo. Ciptaan Gesang.

Ada yang salah? Tidak.

Ironis saja. Iya, kan?

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2019 Agung Pushandaka

One thought on “Ironi Bengawan Solo”

  1. Indeed an irony, we just don’t believe that our cultural works are also world-class. Just like how I don’t like our “sinetron,” but when I look at Hollywood or Bollywood television series, well, they are not different that much except for general themes. And just as how I write this not in Indonesia, aih… it saddening.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *