Harus Tunggu Sampai Kapan?

4 menit waktu baca

Ada peribahasa mengatakan, bagai pungguk merindukan bulan, yang kurang lebih berarti seperti seseorang yang sedang menunggu suatu hal yang tak akan tiba.

Mungkin peribahasa ini yang paling tepat untuk menggambarkan kegalauan penggemar sepakbola menunggu timnas sepakbola Indonesia menjuarai turnamen prestisius.

Saya sudah cukup lama mengikuti kiprah Indonesia di ajang internasional. Sejak tahun 1989 saya mulai menggemari sepakbola dan menjadi loyalis timnas Indonesia. Tapi tak banyak prestasi yang diraih timnas sejak tahun itu sampai saat ini.

Prestasi timnas Garuda bisa dihitung dengan jari sebelah tangan, mungkin yang terbaik adalah raihan medali emas sepakbola di Sea Games 1991 pada tingkat senior. Walaupun cabang olahraga sepakbola di Sea Games tidak termasuk turnamen resmi FIFA, tapi prestasi tersebut cukup membanggakan.

Gelar juara terakhir yang pernah diraih timnas Indonesia adalah juara Piala AFF U19 pada tahun 2013. Meskipun cuma tingkat junior, tapi hasil itu cukup memuaskan suporter timnas Indonesia.

Sayangnya, sejak tahun 2013 tidak ada lagi prestasi yang bisa dibanggakan. Jangankan di level Asia atau dunia, menjadi juara di kawasan Asia Tenggara pun saya tak tahu entah akan kapan lagi.

Justru skandal yang lebih banyak saya ingat pernah terjadi di dunia sepakbola nasional dibandingkan prestasi yang diraih. Sebut saja skandal mafia perwasitan yang terungkap tahun 1998. Banyak wasit yang dipecat saat itu.

Isu suap juga pernah berhembus saat final Piala AFF 2010 yang mempertemukan Indonesia melawan Malaysia. Indonesia jelas diunggulkan karena pada babak penyisihan berhasil mengalahkan Malaysia dengan hasil akhir 5-1. Tapi di final, Indonesia dengan mudah dikalahkan Malaysia dengan skor total 4-2.

Skandal terbaru dan yang masih sedang diusut sampai sekarang adalah adanya isu mafia bola. Banyak pihak yang menduga bahwa jalannya kompetisi sepakbola Indonesia telah diatur oleh tangan kotor mafia, yang sayangnya juga melibatkan petinggi PSSI.

Kembali ke topik awal, sebenarnya banyak usaha yang telah dilakukan PSSI untuk mengangkat prestasi timnas. Misalnya, merekrut pelatih bagus untuk menangani timnas di kejuaraan tertentu.

Pada turnamen Piala AFF, Indonesia pernah memanggil Peter Withe untuk melatih timnas. Prestasi mentereng Peter yang pernah membawa Thailand menjadi juara Piala AFF (dulu Piala Tiger) diharapkan bisa menular kepada timnas Indonesia.

Tapi hasilnya tetap nihil. Indonesia sampai saat ini belum pernah menjuarai Piala AFF di level senior.

Tidak hanya pelatih asing, timnas juga mencoba mendatangkan “pemain asing”, yaitu pesepakbola berkewarganegaraan asing yang dinaturalisasi menjadi warga negara Indonesia, untuk tampil memperkuat timnas Indonesia.

Setali tiga uang dengan prestasi pelatih asing, pemain timnas hasil naturalisasi juga tak mampu mengangkat prestasi Indonesia.

Dua cara yang saya sebut di atas tadi, menurut saya adalah cara instant, dilakukan dengan cara cepat dengan berharap hasil yang memuaskan dalam waktu singkat. PSSI sebagai lembaga yang paling bertanggung jawab akan prestasi timnas tidak mempersiapkan segala hal yang diperlukan secara bertahap.

Sebenarnya ada beberapa faktor yang telah Indonesia miliki untuk menjadi negara yang disegani di ajang sepakbola internasional. Pertama, kita punya talenta yang berlimpah. Sejak dulu, Indonesia tak pernah kehabisan pemain berkemampuan individu yang baik.

Kedua, infrastruktur yang terus dibenahi, terutama stadion sepakbola. Sampai saat ini telah banyak stadion berstandar internasional yang berdiri di seluruh penjuru Indonesia. Fasilitas dan rumput berkelas dunia telah berdiri untuk menunjang perkembangan sepakbola nasional.

Kalau dilihat dari jumlah dan kualitas stadion sepakbola di Indonesia, saya berpendapat Indonesia sudah sangat layak menjadi tuan rumah piala dunia. Tapi dari faktor lainnya, nanti dulu.

Salah satu faktor penunjang tentu prestasi timnas di ajang lain sebelum pentas di kelas dunia. Saya tak mau, Indonesia menjadi tuan rumah piala dunia tapi cuma menjadi bulan-bulanan negara peserta lain.

Dulu sepakbola kita pernah lebih menakutkan daripada Jepang. Bahkan pada tahun 1991, Jepang mempelajari bagaimana Indonesia menggelar Liga Sepabola Utama (Galatama). Sejak tahun 1993, Jepang tak hanya meniru Galatama tapi juga mengembangkannya menjadi J-League, kompetisi sepakbola yang sekarang diakui sebagai salah satu yang terbaik di Asia dan dikenal dunia.

Dengan kompetisi di dalam negeri yang berjalan baik, Jepang menghasilkan pemain-pemain yang bagus untuk memperkuat timnasnya. Meskipun belum pernah berprestasi tinggi di ajang piala dunia, tapi Jepang sekarang menjadi raksasa di wilayah Asia.

Lalu kenapa Indonesia tidak bisa seperti Jepang?

Bila Jepang maju, Indonesia justru melangkah mundur. Galatama yang saat itu masih bersifat semi-profesional, justru dibubarkan, bukan dikembangkan menjadi profesional seperti yang dilakukan Jepang.

PSSI memaksa klub sepakbola untuk dijalankan secara profesional, namun PSSI sendiri tak pernah profesional. Kompetisi sepakbola di dalam negeri tak pernah konsisten, baik dari segi sistemnya, persyaratan pesertanya, termasuk juga peraturan lainnya.

Kejadian paling parah dalam pelaksanaan kompetisi sepakbola nasional tentu saja saat terjadi dualisme penyelenggara kompetisi pada tahun 2011. Kompetisi tandingan dibuat sebagai bentuk kekecewaan terhadap kinerja PSSI.

Tapi bukannya prestasi, nasib timnas dan pemain malah semakin tak jelas akibat dualisme itu.

Saya pikir, hal paling penting yang perlu dipikirkan oleh PSSI sekarang adalah bagaimana merancang kompetisi sepakbola yang baik dan konsisten. Tidak perlu buru-buru untuk melaksanakannya, yang penting dirancang dengan baik dan detail.

Tak ada lagi liga yang kacau balau, apalagi sampai terhenti di tengah jalan seperti kejadian di tahun 2015. Tetapkan regulasi yang detail dan laksanakan dengan tegas. Tentukan jadwal pertandingan yang telah disesuaikan dengan jadwal dari FIFA dan dijalankan konsisten tanpa mudah berubah-ubah.

Satu hal lain yang cukup penting adalah mendidik insan sepakbola Indonesia akan regulasi yang diberlakukan oleh FIFA. Mereka adalah para pemain, wasit dan termasuk suporter sepakbola. Hal ini penting dilakukan untuk menghindari kericuhan dalam suatu pertandingan yang disebabkan oleh pengetahuan regulasi yang buruk.

Mungkin untuk melaksanakan itu tidak mudah dan butuh waktu lama, tapi kalau dilakukan secara konsisten dan disiplin, rasanya sepakbola Indonesia bisa jauh lebih baik daripada yang terjadi sekarang.

Saya tak tahu masih harus menunggu berapa lama lagi untuk melihat Indonesia menjadi juara dan disegani oleh timnas sepakbola negara lain. Tapi paling tidak, bila PSSI bisa berbenah secara bertahap, konsisten dan mencuci bersih segala praktik kotor dalam penyelenggaraan kompetisi sepakbola di dalam negeri, saya percaya harapan itu akan menjadi kenyataan.

Saya mau entah kapan, timnas Indonesia tampil dalam partai final suatu turnamen resmi, diawali oleh lagu kebangsaan Indonesia Raya, dan ditutup oleh lagu milik Queen, berjudul We Are the Champions, saat kapten timnas mengangkat piala di akhir laga.

2 thoughts on “Harus Tunggu Sampai Kapan?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *