Harga Diri Bangsa

1 menit waktu baca

Pro kontra pembelian pesawat kepresidenan merembet ke masalah harga diri bangsa. Anggota DPR, terutama Ruhut Sitompul, berpendapat bahwa pembelian pesawat kepresidenan juga menyangkut harga diri bangsa, selain untuk mendukung kerja presiden. Pak Ruhut menyebutkan bahwa RI 1 sudah selayaknya memiliki pesawat kepresidenan dan membandingkannya dengan presiden Amerika Serikat dan Cina yang memiliki pesawat khusus kenegaraan yang mewah banget.

Saya justru takutnya, dengan pesawat kepresidenan yang mewah itu, harga diri bangsa Indonesia semakin melorot dan menjadi olok-olokan negara lain. Apa iya para anggota DPR tega melihat presiden Indonesia dianggap sebagai orang yang buta dan tuli, di saat rakyatnya masih menderita lahir bathin, pesawat kepresidenan yang ditumpangi presiden semewah dan sehebat Air Force One?

Saya merasa RI 1 blum perlu punya pesawat terbang khusus. Uang $ 58 juta itu ndak sedikit lho. Toh kita punya Garuda Indonesia yang siap setiap saat mengantar presiden ke negara tujuan. Daripada beli baru, ambil saja satu pesawat Garuda trus disulap menjadi pesawat khusus untuk presiden dengan kapasitas kursi yang lebih sedikit sehingga memberi ruang lega untuk presiden beristirahat atau rapat selama dalam perjalanan ke luar negeri. Saya rasa sudah cukup.

Kalaupun jadi terlaksana pembelian pesawat ini, saya berharap agar anggota DPR memberikan alasan yang lebih manusiawi. Ndak perlu bawa-bawa harga diri bangsa sebab setinggi apapun pesawat RI 1 terbang di angkasa, ndak akan mampu mengangkat harga diri bangsa ini di mata dunia karena di saat yang bersamaan dunia bisa dengan jelas melihat penderitaan masyarakat Indonesia yang hidup miskin, anggota dewannya korup, hukumnya mandul, dsb.

Maka, selamat naik pesawat Tuan Presiden. Sesekali tengoklah dari jendela pesawat, banyak rumah kumuh di sekitar bandara kita dan masih banyak lagi yang lebih parah di tempat lain negeri ini.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2011 Agung Pushandaka

Related Post

9 thoughts on “Harga Diri Bangsa”

  1. betuulll… vi3 ga setuju kalo pembelian pesawat presiden dikaitkan dengan harga diri bangsa.. sepertinya malah ga punya hati jika itu bener2 dilaksanakan… menyedihkan..
    btw, makasih dah mampir ke blog vi3… sibuk neh sepertinya ya…

  2. Emang ada korelasi langsung antara pesawat kepresidenan dengan harga diri bangsa? ach… aku malah ragu jika ada hubungannya, bukankah dengan dengan menaiki flag carrier seperti Garuda lebih baik dan hemat biaya? dan sepertinya harga diri bangsa ini tidak akan jatuh jika presiden menggunakan Garuda, kecuali kalau beliau dalam kunjungan kenegaraan menggunakan Fly Emirates atau Qantas…;) just my two cent.

  3. Kalau perdana menteri negara lain mau naik kereta dan berbaur sama warganya, mengapa tidak presiden kita naik pesawat komersial saja, kan gajinya cukup toh buat beli tiket :).

  4. Kalau mau harga diri tetap tinggi, urus dulu kesejahteraan rakyat. Atau kalau belum mampu, masih banyak cara yang lebih sederhana untuk mengangkat harga diri bangsa, memberantas korupsi misalnya. Ah, tapi saya pesimis mereka bisa melakukan itu.

  5. 58 juta dollar …. wow itu duit buanyaaaaaaaak sekali kalo dirupuahkan ya, cuma hanya utk beli pesawat buat presiden ? kalo bener jadi, bener bener nggak tahu malu deh presidennya

  6. setujuuu…saya rasa juga kita blm perlu beli pesawat kepresidenan ya…masih banyak rakyat yang sulit untuk makan sehari2 dan tdk punya tempat tinggal…sangat banyak…ada baiknya dibenahi dululah rakyatnya…

  7. Tapi denger punya denger, katanya dengan membeli pesawat kepresidenan itu sebenernya kita bisa lebih menghemat loh daripada terus menerus menyewa..coba deh ditanya ke orang2 di DPR perbandingan rincian biaya yang dikeluarkan untuk menyewa dan untuk membeli…untuk urusan kesejahteraan rakyat, beberapa kementerian sebenernya telah memiliki anggaran tersendiri untuk melaksanakan program pro rakyat, namun kenyataan yang terjadi adalah banyaknya penyimpangan di tingkat bawah..dan tugas kitalah sebagai masyarakat yang harus turut melaksanakan pengawasan dan mela[orkan hal-hal yang dianggap tidak sesuai…kurang lebihnya seperti itu…

Comments are closed.