Saya Menolak Gang Dolly Ditutup!

1 menit waktu baca

Beberapa hari lalu, saya menyimak rencana penutupan Gang Dolly. Tentu saja ada yang pro maupun kontra.

Bagi yang belum tahu, Gang Dolly atau yang bisa disebut Dolly ini adalah kawasan prostitusi di kota Surabaya.

Saya pribadi tidak setuju kalau Dolly ditutup.

Sebab menurut saya Dolly justru membantu pemerintah membatasi penyebaran penyakit serta praktik-praktik prostitusi di sebuah area khusus sehingga tidak tersebar di penjuru kota.

Anda bisa menangkap maksud saya?

Saya merasa prostitusi telah ada di segala penjuru dunia. Ada yang terselubung, ada yang terbuka.

Ada yang kecil-kecilan, ada pula yang besar-besaran.

Saya juga merasa prostitusi tidak akan bisa dihapuskan begitu saja dari muka bumi. Prostitusi telah ada sejak lama dalam sejarah peradaban manusia.

Jadi, daripada praktik prostitusi malah tersebar secara diam-diam dan sulit terlacak, saya merasa Gang Dolly malah menertibkan praktik semacam ini.

Pemerintah akan lebih mudah mendata siapa saja pekerjanya dan pelanggannya.

Anak di bawah umur lebih mudah dicegah untuk menikmati atau melakukan praktik ini.

Anda pasti pernah mendengar, di banyak kota ada pekerja seks komersil yang berumur belasan. Mereka bekerja secara sembunyi-sembunyi, sehingga sulit didata.

Sementara di kawasan prostitusi jelas lebih mudah pengawasannya. Kalau ada gadis di bawah umur yang menjadi pekerja, atau remaja laki-laki menjadi pemakai jasanya, pemerintah lebih mudah mencegah atau menghentikannya.

Pun dengan upaya pencegahan menyebarluasnya penyakit seksual terutama HIV. Dengan adanya lokalisasi prostitusi seperti Dolly, orang-orang yang beresiko tertular penyakit jadi lebih mudah diawasi dan bisa diambil tindakan sedini mungkin apabila sudah tertular.

Pendataan ini saya rasa penting agar penyebaran penyakitnya bisa dibatasi. Misalnya, pelanggan Dolly yang tertular HIV jadi bisa ditangani dengan tepat sehingga istrinya tidak tertular dan bisa melahirkan anak tanpa virus mematikan ini.

Maka, daripada Dolly ditutup lalu pekerjanya malah tersebar ke mana-mana dan susah dilacak serta diawasi, sebaiknya dipikirkan kembali matang-matang rencana penutupan ini.

Menjadi kontroversi? Pastilah..

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2011-2017 Agung Pushandaka

10 thoughts on “Saya Menolak Gang Dolly Ditutup!”

  1. Mas Pushandaka, Anda memiliki poin pemikiran yang tajam. Sayangnya tidak semua orang setuju akan hal ini, ya pro dan kontra itu selalu ada sejak dulu.

    Saya ingat bahwa rasanya ada di staf bagian venerology yang memiliki daftar semua pekerja seks di salah satu area prostitusi di sini. Ini akan memudahkan kontrol, edukasi, penelitian, dan menjaga kesehatan dalam sudut-sudut pandangan yang mungkin terlewatkan bagi banyak orang, ya salah satunya adalah pengontrolan penyakit menular seksual termasuk HIV.

    Jika ada kasus, misalnya pasien A datang dengan PMS, lalu ditanya “habis jajan di mana”, maka si pasien bisa diterapi dan tempat dia mungkin mendapatkan bonus PMS ini pun pemberinya bisa mudah dilacak dan ditemukan serta diterapi juga. Menasihatinya agar jangan melayani pelanggan hingga sembuh, sehingga penularan bisa dikontrol di masyarakat.

    Tapi kalau tersebar dan daftar itu tidak ada, maka pengontrolan ini akan lebih susah lagi seperti yang Mas Agung sampaikan pada tulisan di atas.

  2. inilah indahnya demokrasi, semua bisa pro kontra dalam menyikapi penyakit masyarakat, apa pun cerita basmi HIV dengan mendekatkan diri pada-NYA

  3. sangat kontroversial bli pendapatnya, kalo saya justru tidak sependapat dengan anda, Sudah seharusnya pemerintah menutup gang dolly, kenapa?? ini masalah moral, dan masa depan kita di akhirat.. :nosara:

    1. hehehe.. no offense ya mas hakim…
      kalau dilihat dari sudut pandang moral memang itu meresahkan mas.. tp mas agung kan melihatnya dari sudut pandang lainnya mas dan kalau menurut saya, sudut pandang yg dikemukakan mas agung itu benar 😀

  4. Kawan, secara logika saya setuju dengan anda.

    Dan sedikit OOT, saya berpikiran yang sama sehubungan dengan Judi khususnya Tajen di Bali. Tapi sayang ini bertentangan dengan UU yang berlaku di negara kita.

    Daripada judi secara diam-diam dan uang “pajak” judi masuk ke kantong-kantong pejabat, bukankah lebih baik dibuatkan semacam lokasisasi aja seperti halnya prostitusi. Uang “pajak” nya pun bisa diatur lebih transparan dan digunakan untuk hal yang bermanfaat.

    Selain itu kenyataannya di arena Judi Tajen juga banyak membuka lapangan pekerjaan bagi sebagian pedagang kecil.

    Maaf, saya bukan bermaksud membela ataupun menyarankan serta setuju dengan Judi. Tapi daripada seperti sekarang, rasanya lokalisasi Judi Tajen lebih masuk akal.

    Dan seperti yang anda katakan, prostitusi sama seperti judi dan perang, dia sudah ada sejak dahulu kala dan rasanya mustahil untuk dilenyapkan.

    Bagaimana menurut anda kawan?

    1. Saya setuju, bahwa judi dan prostitusi ndak akan pernah bisa dihilangkan dari muka bumi. Satu-satunya cara yang paling bagus menurut saya adalah dengan membatasinya, seperti membuatkan lokalisasi.

  5. saya baru sekali ke gang dolly. 🙂 cuma jalan-jalan saja. hehe..

    yang saya lihat, sepertinya perputaran uang lancar sekali di gang ini karena tiap malam buaaanyak sekali orang berkeliaran di tempat ini. mucikarinya, pelanggannya, atau sekedar penjual rokok dan minuman. biaya parkir motor juga gak main-main, 5000 rupiah. 😀

    mestinya kalau gak dolly ditutup, harus sudah ada solusinya. liat aja ntar kalo ditutup gimana. 😀

    1. Nah, komentar dari anda melihat keberadaan Gang Dolly dari sudut kehidupan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Terima kasih, masbro.

      Saya setuju! Penutupan Gang Dolly seharusnya ndak cuma dipandang dari satu sisi saja, tapi dari banyak sisi termasuk dari sisi yang anda bilang. Jadi banyak solusi yang harus dipersiapkan terlebih dulu sebelum menutup Gang Dolly.

Comments are closed.