Galau di Pengadilan

Kira-kira dua minggu yang lalu, saya mendapat tugas untuk mengikuti sidang perkara pidana di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan. Saya berangkat dari kantor pukul sebelas siang, karena kabarnya sidang akan dimulai sejam kemudian. Tapi, setelah menunggu tanpa kepastian, sidang baru dimulai sekitar jam lima sore!

Minggu lalu pun tidak jauh berbeda.

Berangkat dari kantor lebih siang, sekitar jam satu, akhirnya saya pulang sia-sia karena sampai jam empat sore, para pihaknya, jaksa, pengacara, terdakwa dan majelis hakim yang seharusnya terlibat dalam pemeriksaan perkara tidak nampak batang hidungnya.

Saya tanya kepada panitera, dia juga bingung. Akhirnya, saya memutuskan pulang daripada galau di pengadilan.

Saya jadi membayangkan, bagaimana galaunya mereka yang nasibnya tergantung dari proses sidang? Pasti lebih dari kegalauan yang saya rasakan.

Dari dua kali pengalaman saya di atas, saya jadi berpikir, kenapa sih bisa segitu rumitnya, bahkan untuk sekedar mengetahui jadwal sidang saja?

Dari analisis asal-asalan, saya mendapatkan beberapa faktor yang menyebabkan tidak pastinya jadwal sidang di pengadilan.

Berikut beberapa di antaranya:

1. Jumlah hakim dan jaksa yang kurang? Saya pernah bertanya kepada panitera mengenai jadwal sidang yang ingin saya ikuti. Kata bapak panitera, mungkin setelah jam dua siang.

Waktu saya tanya lagi tentang alasan kendakpastian itu, si bapak menjawab, jaksa dan hakimnya sedang ada kasus lain yang harus disidangkan.

Saya jadi berpikir, apa memang kurang banyak pegawai yang dimiliki kejaksaan dan pengadilan negeri untuk memeriksa sebuah perkara?

2. Banyaknya masalah yang dimejahijaukan. Sungguh, bukanlah hal yang menggembirakan saat seorang nenek mencuri tiga buah kakao diajukan ke pengadilan. Bukan juga hal yang positif saat seorang anak diadili cuma karena memukul temannya.

Menurut saya, saat masyarakat lebih melek hukum, justru pengadilan akan lebih sepi dari acara persidangan. Lagian, mana tuh budaya musyawarah dalam menyelesaikan masalah di masyarakat nusantara?

Seharusnya polisi, jaksa, hakim dan pengacara lebih bisa mendidik masyarakat tentang penyelesaian sengketa secara damai.

3. Maraknya makelar kasus dan mafia hukum. Saya masih belum bisa percaya bahwa sistem hukum kita sudah bersih dari oknum-oknum nakal yang mempermainkan hukum. Misalnya saja, dalam suatu kasus si terdakwa seharusnya ditahan, tapi dia bisa hidup bebas di luar sana. Padahal syaratnya sudah memenuhi untuk penahanannya.

Kalau peraturan saja bisa mereka mainkan seperti itu, anda bisa bayangkan bagaimana mudahnya mereka mempermainkan jadwal sidang.

4. Gedung pengadilan yang kurang memadai. Sebenarnya, PN Jaksel punya jumlah ruang sidang yang mencukupi. Ada satu ruang sidang utama dengan kapasitas sekitar 50-an orang dan lima ruang sidang lainnya dengan kapasitas kecil.

Tapi melihat banyaknya perkara yang harus disidangkan, semua itu jadi tidak cukup.

***

Bukan hal yang mudah untuk memperbaiki ini semua sesegera mungkin. Banyak pihak yang harus dilibatkan, termasuk masyarakat sendiri. Saya tentu menggantungkan harapan lebih besar kepada mereka yang lebih mengerti praktik beracara di pengadilan.

Nasib seseorang bergantung kepada yang mulia sekalian. Jadwal sidang yang tidak pernah pasti, secara tidak langsung membuat nasib terdakwa, penggugat dan tergugat juga tak pasti.

Mereka akan lelah menanti dan membuat mereka menghalalkan segala cara untuk mempercepat segalanya demi kepastian nasib mereka.

Satu saran yang bisa saya sampaikan kepada anda. Cobalah sesekali bilamana ada waktu, berkunjung ke pengadilan. Mungkin dari sana anda akan tahu bagaimana menderitanya seseorang menanti kepastian akan nasib mereka.

Anda juga akan tahu, bagaiamana rasanya berada di pengadilan, bahkan saat anda hadir cuma sebagai penonton. Sehingga dari sana pula anda akan lebih berhati-hati dalam berbuat sesuatu yang mungkin merugikan kepentingan orang lain dan membuat anda terjerat aturan hukum.

Kalau perlu, ajak pula anak-anak anda, tentu setelah cukup umur, bukan balita, untuk berkunjung ke pengadilan dengan tujuan yang sama.

Terakhir, saya cuma bisa mendoakan, agar kita semua terhindar dari hal-hal buruk yang memungkinkan kita terseret ke ruang sidang pengadilan.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2013 Agung Pushandaka

Author: Agung Pushandaka

Selain di blog ini, silakan temui saya di blog lain yang saya kelola bersama istri saya, Rebecca, yang bercerita tentang anak kami, K, di sini: Panggil Saja: K [keI].

3 thoughts on “Galau di Pengadilan”

  1. haddeeh, jadwal sidang aja bisa kacau ya? dengan hanya membaca pokok2 pemikiran di tulisan ini tanpa membaca tiap paragraf saja saya sudah bisa membayangkan betapa ruwetnya urusan hukum di Indonesia 🙁

  2. Sepertinya beberapa waktu ke depan saya akan ikut hadir di persidangan untuk menemani seorang tetangga yang kena kasus hukum.

    Jujur saja, saya merasa sangat takut berurusan dengan hukum, maklum saya buta hukum.

  3. Ini di jakarta atau di mana bli gung?
    Kalau memang di Jakarta berarti ya sama dengan di Pengadilan Negeri di Bali, ya PN denpasar, Tabanan, dan Karangasem (yang lainnya belum tau karena belum pernah sidang di kabupaten lainnya).

    Yang sudah selangkah lebih maju adalah PA Kab. Badung, hakim dan paniteranya ready, sedangkan untuk para pihak ditentukan berdasarkan kehadiran, paling cepat dateng dan melapor ke panitera ya dapet nomor antrean awal dan duluan sidang.

Comments are closed.