Fragile! Handle With Care.

2 menit waktu baca

Sore itu, pesawat yang saya tumpangi baru saja terparkir dan berhenti dengan sempurna di Bandara Ngurah Rai Denpasar. Semua penumpang sudah berdiri di gang dalam pesawat, ndak sabar untuk segera turun. Tapi pintu pesawat blum juga dibuka. Sementara yang lain masih menunggu sambil berdiri, saya tetap terpaku di kursi saya yang bernomor 29F. Saya hanya bisa memandang keluar lewat jendela pesawat. Sumpah, saya masih bete karena harus meninggalkan Rini dan Jogja. Saya cuma bisa mengumpat dalam hati, kenapa saya blum bisa berbuat sesuatu untuk membawanya pergi untuk menemani saya di sisa umur saya.

Ndak lama kemudian, pandangan saya beralih ke sebuah truk gandeng mini yang mendekati pesawat. Saya tau itu adalah kendaraan yang akan mengangkut barang-barang di bagasi pesawat untuk kemudian dibawa ke ruang pengambilan bagasi penumpang. Truk itu berhenti di samping pesawat, di sebelah jendela kursi saya. Lima menit kemudian, kesibukan di bawah perut pesawat pun dimulai.

Berbagai macam tas dan koper berukuran menengah sampai besar, mulai berpindah tempat dari dalam pesawat menuju ke bak truk mini tadi. Saya cuma bisa memperhatikan, bagaimana si petugas melempar-lempar sekenanya tas-tas itu ke dalam bak truk, termasuk juga tas saya. Saya pikir, tas-tas itu dilempar seperti itu mungkin karena berat banget. Lagipula, isinya toh bukan barang berharga karena sejak di ruang check-in penumpang pasti sudah diingatkan untuk ndak memasukkan benda berharga ke dalam bagasi. Jadi, saya berpikiran positif bahwa semua tas itu cuma berisi pakaian yang ndak akan rusak kalau terbanting-banting seperti itu.

Blum sempat saya mengalihkan pandangan ke arah penumpang yang blum juga keluar dari pesawat, saya tertegun waktu melihat si petugas bagasi di luar sana melempar sebuah kotak kardus berukuran sedang ke dalam bak truk. Parahnya lagi, kotak itu berstiker Fragile. Anda pasti tau kan stiker fragile. Biasanya stiker itu bergambar gelas retak dengan warna dasar merah yang mencolok mata. Iya betul, bungkusan berstiker itu berisi benda-benda yang mudah pecah dan menuntut perlakuan yang lebih hati-hati.

Fragile (Pecah Belah)
Fragile (Pecah Belah)

Tapi kehati-hatian itu sama sekali ndak diperlihatkan oleh para petugas airport. Mustahil rasanya mereka ndak tau arti kata fragile. Ndak mungkin juga mereka ndak pernah melihat stiker semacam itu. Logo fragile pasti sudah jamak mereka lihat mengingat pekerjaan mereka. Cuma kok mereka ndak bisa memperlakukan kotak-kotak itu dengan semestinya?

Saya prihatin banget melihatnya. Para petugas ini bukan cuma ndak peduli dengan hak orang lain, tapi juga ndak bertanggung jawab atas pekerjaannya. Mereka juga ndak menunjukkan disiplin dalam bekerja. Kalau saja tindakan mereka cuma akan merugikan kepentingan pemilik bungkusan itu, mungkin ndak jadi masalah besar buat mereka. Tapi, bagaimana kalau perbuatan mereka ternyata merusak citra semua petugas (yang lebih peduli, disiplin dan bertanggung jawab), citra Bandara Ngurah Rai Denpasar, citra pariwisata Bali, atau bahkan mungkin citra pelayanan publik negara kita? Mampukah mereka, para petugas yang seenaknya itu, menanggung semua akibat yang disebabkan oleh hal kecil yang ndak mereka perhatikan?

Disiplin dan tanggung jawab memang masih menjadi barang mahal di negeri ini. Saya ndak tau, kapan situasi ini segera berubah. Saya cuma bisa semakin bengong waktu melihat bahwa ternyata masih ada beberapa kotak berstiker fragile yang mengalami nasib serupa, dilempar dan kemudian terbanting-banting di dalam bak truk itu. Beberapa bahkan kemudian tertimpa dan tertimbun tas atau koper yang rasanya jauh lebih berat daripada kotak-kotak kardus itu. Menyedihkan banget..

Related Post

21 thoughts on “Fragile! Handle With Care.”

  1. saya pernah iseng minta stiker fragile di kardus penuh rendang dan makanan khas padang lainnya. 😀 untung isinya gak ngefek apakah mau dilempar atau ditangani dengan lembut.
    kalau untuk benda-benda yang “bener2” fragile, saya lebih milih untuk membawa ke dalam pesawat. lebih aman. :mrgreen:

    btw, your fragile heart should be carefully handled too i think.. :mrgreen:

    Saya sebenarnya juga pengen menempeli kardus berisi keripik dari jogja dengan stiker fragile. Tapi, saya sudah curiga kalau stiker ini ndak ada pengaruhnya di bandara. Jadi saya bawa saja ke dalam kabin. Kalau ndak, mungkin keripik saya sudah remuk redam ndak karuan.
    Btw, thanks for your advise.. :mrgreen:

    .-= morishige´s last blog ..Saling “Ngebuzz” Di Siak =-.

  2. Klo bicara tidak disiplin para awak bagasi di bandara ngurah rai sepertinya bukan hal baru untuk dibicarakan. Karena beberapa tahun yang lalu hal itu sampai sampe menjadi kasus kriminal karena bagasi di acak2 dan isinya hilang. Kalo sekarang mereka cuma sekedar melempar2kan mungkin sebagai ekpresi kekecewaan saja. Tapi yang jelas aku juga tidak setuju perlakuan mereka terhadap barang bawaan penumpang.

    Iya, aku rasanya masih ingat kasus itu. Thanks ya, untuk komentarnya..

    .-= Sugeng´s last blog ..Ayo Ramai-Ramai Kita Flagging Blog Penghina Indonesia =-.

  3. Yah ga heranlah.
    Kagak punya etika. Jangankan ngancurin barang, koper aja bisa dibongkar-2in…

    Yah, semoga saja pihak bandara bisa lebih teliti mengawasi pekerjanya. Biar ndak rusak susu sebelanga cuma karena nila setitik.

    .-= zee´s last blog ..gempa woi… gempa… =-.

  4. mereka itu bukan tidak mengerti apa arti dari Fragile tapi pura2 tidak mengerti :p *sangat klasik*

    Mereka juga ndak peduli.. *yang klasik banyak dicari orang* 😛

    .-= achill´s last blog ..Diam =-.

  5. tidak tanggung jawab + pura2 bloon jadinya yah seperti itu. karena mereka pikir itu bukan barang mereka, yah sudah cuek saja…toh protes juga tidak akan membuat mereka dipecat…boro2 dipecat, dikasih peringatan aja belum tentu.

    Semoga saja ndak ada barang milik penumpang yang rusak akibat ulah segelintir petugas bandara yang seperti itu.

    .-= frozzy´s last blog ..RAMADHAN-KU, MOMENTUMKU =-.

  6. saya pernah berangkat dari Makassar ke Bali, saya membawa keyboard yamaha psr 3000, saya pikir bisa di bawa ke cabin, eh ternyata harus di bagasikan, saya pun deg degaan. Seperti yang kita ketahui bersama, panel2 yg ada pada benda elektronik sangatlah sensitif, apalagi keyboard ini tidak dipacking dalam dos, hanya bermodalkan carrying bag dan sejumlah spons di dalamnya. Saya pun berulang kali memesan agar keyboard tersebut di letakkan di bagian paling atas di dalam bagasi pesawat. Dan syukurlah petugas Garuda Indonesia sangat tanggap dalam hal ini, sesampainya di Bali keyboard saya yang sudah di tempeli empat sticker fragile ini tetap mulus dan dan tidak rusak sama sekali 😀

    saya bukan mempromosikan sebuah instansi penerbangan di sini, saya hanya ingin membagikan pengalaman saya, trims 🙂

    Terima kasih sudah berbagi pengalaman di sini Pak Krishna. Dari pengalaman anda, kita semua jadi tau bahwa kejadian yang saya lihat itu murni cuma ulah segelintir orang saja. Bahwa masih banyak lagi petugas di Bandara Ngurah Rai Denpasar yang memiliki rasa tanggung jawab dan disiplin tinggi untuk melindungi barang milik penumpang.

    Tenang saja, ndak usah ragu untuk mempromosikan Garuda Indonesia. Kita harus selalu mendukung maskapai milik negara ini. Waktu saya melihat kejadian itu pun, saya juga menumpang pesawat berlambang burung garuda itu.

    Sekali lagi terima kasih..

    .-= krishna´s last blog ..Gempa 8,5 Skala Ritcher yang Tidak Jelas =-.

  7. begitulah mentalitas pekerja kita. payah. udah bayar mahal2 tp tidak pernah dihargai. kasusmu kok sama sih dg aku?

    btw, untung jg kripikmu kamu bawa ke kabin. jd bs selamat sampe rumahku dan aku hancurkan pake gigiku. wahaha..

    Iya tuh. Untung masih banyak juga pekerja yang bagus mentalnya.

    .-= a!´s last blog ..Sudah Bayar Dibentak Pula =-.

  8. Memprihatinkan ya mas kinerja mereka. Kita dah hati-hati mengemas barang dan ngasih sticker ternatra mereka main lempar saja.
    Mungkin mereka nggak peduli dengan barang orang, yang penting ” pekerjaanku selesai”.
    Salam hangat dari Surabaya

    Iya Pakde. Trus bagaimana ini? Hehe! Yah, mungkin kita cuma bisa sabar saja ya, pakde. Salam hangat juga dari Denpasar.

    .-= Pakde Cholik´s last blog ..Madame Tussauds =-.

  9. Sepertinya pemandangan begitu sudah merupakan ‘hal biasa’ di alam bawah sadar kita. Bekerja dilakukan sekedar memenuhi tugas dan kewajiban, tanpa ada pasionnya…

    Saya rasa komentar anda ada benarnya juga. Cuma sekedar menjalankan tugas dan kewajiban seadanya saja.

    .-= isnuansa´s last blog ..Jean Yip: Testimonial =-.

  10. Kisah klasik yg kerap terjadi di bandara. Aku pikir gak cuman di ngurah rai aja kok.
    Yg sering kejadian di aku sih pasti soal lenyapnya beberapa barang di tas… menyedihkan memang.

    Saya ndak tau kalau di bandara lain, karena saya melihat dengan mata kepala sendiri baru di Bandara Ngurah Rai saja. Terima kasih tanggapannya.

    .-= Brandal Surga´s last blog ..Mencari Uang Sambil Berbagi Kesenangan =-.

  11. kalo tas dibongkar, saya pernah punya pengalaman serupa di bandara adisucipto. tapi untung ngga ada barang berharga yang hilang (isi cuman pakaian), kecuali korek api gas biasa.. 🙁
    kalo pas ngelempar itu ada fotonya, mungkin jadi makin heboh. kok saya ngga pernah merhatiin mereka main lempar-lemparan itu ya. ah, bli memang kritis. 🙂

    Saya sebenarnya ada niat untuk mengambil fotonya. Tapi kamera saya ada di dalam tas yang saya simpan di bagasi kabin yang blum bisa saya ambil, karena gang di dalam pesawat penuh dengan penumpang yang sudah berdiri tapi blum bisa keluar, karena pintu pesawat masih blum tersambung dengan belalainya. Tapi saya yakin dengan apa yang saya lihat. Lhawong kejadiannya tepat ada di balik jendela kursi saya.

Comments are closed.