Cerita di Balik Satu Foto Dari Vietnam

Bulan lalu, seorang teman dari Vietnam bernama Nhan, mengirimkan sebuah fotonya kepada saya. Foto itu menampilkan dirinya sedang berada di atas pasir pantai Da Nang yang berkilau oleh cahaya matahari sore. Sepertinya sangat menyenangkan.

Eit, tunggu dulu! Bukankah situasinya masih pandemi Corona?

Pada saat ia mengirimkan fotonya, Jakarta masih berstatus PSBB, Pembatasan Sosial Berskala Besar. Saya tak tahu bagaimana di sana.

Saya tanya, apakah Vietnam aman dari virus Corona?

Katanya, sejak beberapa hari sebelumnya, Vietnam telah dinyatakan bebas dari kasus baru Corona, sehingga pemerintah setempat mencabut pembatasan sosial yang telah diberlakukan selama kurang lebih sebulan lamanya.

Vietnam mencatat nol kematian waktu itu.

Bagaimana bisa?

Nhan bilang, pemerintahnya langsung mengambil tindakan yang cepat dan tepat sejak ditemukan kasus Corona pertama di sana. Satu contoh kecil adalah dengan cara membagikan masker secara gratis kepada warga masyarakat.

Sementara di Indonesia, warganya justru kesulitan memperoleh masker karena kelangkaan barang dan mahalnya harga masker yang tersedia.

Pemerintah Vietnam tak takut kekurangan masker karena langsung mengontak pelaku usaha industri untuk ikut berkontribusi membuat masker dan alat kesehatan lainnya dalam jumlah besar.

Letak geografis Vietnam yang berbatasan darat langsung dengan Tiongkok juga membuat pemerintah Vietnam sudah mengambil ancang-ancang sebelum kasus pertama timbul.

Di Indonesia sendiri, bahkan kepala pemerintahannya masih sempat melemparkan joke terkait mengapa Indonesia masih bebas dari kasus Corona sementara negara sekitar telah mencatat kasus positif, tanpa melakukan persiapan pencegahan yang proporsional sejak dini.

Pemerintah Vietnam, masih kata Nhan, juga memberikan dana bantuan kepada warga yang terdampak secara ekonomi. Meskipun tak banyak, dana itu tepat sasaran dan cukup untuk membantu warga yang kesulitan.

Sebenarnya pemerintah Indonesia juga melakukan hal yang sama, tapi entah mengapa tidak sedikit terdengar kabar tak sedap terkait hal itu, termasuk program kartu prakerja bagi warga yang dipecat dari pekerjaannya karena penyebaran Corona.

Pemerintah Vietnam juga sangat tegas menegakkan aturan. Hukuman denda atau kurungan bisa dikenakan kepada mereka yang tidak patuh. Juga kepada mereka yang menyebarkan berita bohong.

Sementara di Indonesia, warganya banyak dibuat bingung bahkan lebih sibuk berdebat di media sosial karena banyak sekali berita simpang siur yang disebarkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

***

Saya tidak ingin membandingkan Indonesia dengan Vietnam.

Tentu apa yang dilakukan Pemerintah Vietnam juga tidak bisa serta merta dilaksanakan di Indonesia. Banyak faktor yang membedakan antara Indonesia dan Vietnam.

Tapi menurut saya ada satu hal yang seharusnya bisa diterapkan di Indonesia, yaitu pemerintah disiplin dalam membuat dan melaksanakan kebijakan dan aturan. Kalau aturan ditegakkan secara tegas dan disiplin, masyarakat pasti bisa menyesuaikan dan patuh.

Sejauh yang saya amati, pemerintah kita tidak disiplin dalam melaksanakan aturan yang dibuatnya sendiri.

Cepat pula berubah-ubah.

Misalnya, salah satu yang paling baru adalah pelonggaran atas pembatasan maksimal 50% kapasitas angkutan umum padahal grafik angka kasus Corona masih menanjak. Salah satu penyumbang angka tersebut adalah kepadatan penumpang angkutan umum.

Perubahan kebijakan tersebut hanya berselang sebulan setelah peraturan pembatasan penumpang angkutan umum diberlakukan.

Pandemi ini memang menimbulkan keadaan yang berisiko tinggi tidak hanya bagi lembaga kesehatan tapi juga lembaga bisnis. Kesulitan itu akan bertambah besar dengan adanya inkonsistensi kebijakan dan aturan.

***

Saya tak mau berharap terlalu berlebihan bahwa Indonesia akan segera bebas dari virus Corona dalam waktu dekat.

Tapi bolehlah saya berharap bahwa pemerintah bisa lebih tegas dan disiplin dalam membuat dan menetapkan kebijakan atau regulasi, dalam rangka menekan peningkatan kasus baru.

Sekaligus memberi dukungan kepada lembaga atau petugas kesehatan untuk meningkatkan angka kesembuhan pasien dan menghentikan angka kematian karena Corona.

Apalagi sebenarnya Indonesia cukup beruntung ‘kemasukan’ Corona agak terlambat dibandingkan negara-negara lain, jadi seharusnya Indonesia punya waktu untuk mempelajari situasi yang terjadi di negara-negara pendahulu dan mempersiapkan segalanya dengan jauh lebih baik.

Tapi apa yang kita lihat sekarang memang tak seideal harapan tersebut di atas.

Satu hal lain yang tak kalah penting, pemerintah pusat yang harus ambil kendali terbesar dalam penanganan pandemi ini, jangan membiarkan pemerintah daerah menangani sendiri. Sebab sekalipun setiap daerah memiliki angka kasus yang berbeda-beda tapi pandemi ini bisa dengan mudah berpindah tempat ke daerah lain.

Semoga lekas sembuh, Indonesia.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2020 Agung Pushandaka

Author: Agung Pushandaka

Selain di blog ini, silakan temui saya di blog lain yang saya kelola bersama istri saya, Rebecca, yang bercerita tentang anak kami, K, di sini: Panggil Saja: K [keI].

13 thoughts on “Cerita di Balik Satu Foto Dari Vietnam”

  1. Sedih kalau baca berita mengenai bagaimana pemerintah menanggapi Corona ? takut juga kalau nanti Indonesia dianggap negara berpotensi membawa virus dan membuat negara lain jadi tutup pintu untuk penduduk Indonesia ?

    Tapi kalau dilihat-lihat, sebenarnya, di beberapa bagian Indonesia, seperti Bali contohnya, penerapannya cukup bagus, mas. Saya salut sama yang di Bali (Semoga saya nggak salah duga hihi), meski tetap ada yang bandel satu dua orang tapi nggak sampai ekstrim banget baik itu di supermarket, pasar, dan tempat publik lainnya. Bisa jadi karena penduduk Bali sangat terdampak pemasukannya yang mostly datang dari pariwisata, jadi berusaha sekuat tenaga untuk bisa recovery agar wisata Bali bisa kembali normal. Entahlah ?

    Apapun itu, saya ikut mendoakan lekas sembuh Indonesia ~

      1. Hehe,, tidak apa-apa Mbak Eno.

        Sekarang saya cuma berusaha ikhlas saja melihat perkembangan penanganan Covid-19 di Indonesia.
        Negara lain itu baru new normal setelah grafik kasusnya turun dan stabil garisnya di bawah.
        Itu pun masih bisa new wave.
        Nah Indonesia, kasusnya masih banyak yang belum tertangani, grafiknya masih naik, aturannya tidak tegas dan berubah-ubah, malah mau new normal.
        Gelombang satu saja belum habis-habis.

  2. Melihat dari ulasan di atas, salah satu yang menjadikan Indonesia berbeda dengan Vietnam adalah tingkat kedisiplinan dan juga kesadaran dirinya yang masih rendah. Contohnya, saat sekolah diliburkan, banyak warga Indonesia yang berbondong-bondong pergi ke tempat wisata untuk berlibur.

    Jika terus seperti ini, entah sampai kapan pandemi di negeri ini berakhir. Semoga lekas pulih Indonesiaku

  3. ketegasan pemerintah dan kepatuhan warga adalah kuncinya? bagaimana dengan Indonesia?? saya mah cukup senyum ajaa 🙂 .. sekarang saya mah hanya bisa mencegah sebisanya dan pasrah akan upaya yang telah dilakukan..

    -traveler paruh waktu

    1. Betul Mas, justru dua hal yang Mas sebutkan itu yang kurang ada di kita untuk menangani pandemi ini. Kalaupun ada warga yang disiplin, cuma minoritas, bahkan kadang diremehkan oleh orang-orang lainnya yang jemawa akan selamat dari virus ini.
      Sedih.

  4. belum kelar pandemi pertama, di Beijing mulai muncul covid yang sepertinya gelombang kedua …

    new normal dianggap orang covid udah kelar, udah pada cuek mas
    yg gak pake masker banyak 🙁

  5. Saya juga gumun lihat mitigasi corona di Vietnam, Mas Agung. Serius banget. Tapi akhirnya mereka bisa lebih dulu sampai di garis finis.

    Sekitar seminggu lalu saya baca tulisan di Medium soal mitigasi corona di Mongolia. Keren juga di sana. Pemerintahnya mulai menutup sekolah 3 hari setelah Wuhan dikuncitara. Pelan-pelan, mereka menutup akses keluar-masuk negaranya, lalu mengevakuasi warga yang terjebak di luar negeri. Mereka bergerak bahkan sebelum kasus infeksi ditemukan. Akhirnya sekarang kasus kematian corona di sana mendekati nol. Banyak orang tak mampu juga sih di sana. Tapi mereka jelas punya prioritas lain.

    1. Sebenarnya kita beruntung lho, baru kemasukan virus ini setelah ‘menyerang’ negara lain lebih dulu. Seharusnya kita punya lebih banyak waktu untuk belajar dan mempersiapkan diri. Tapi kita memang selalu harus tertinggal dalam penanganan musibah seperti ini. Tak pernah terencana dan tersistem dengan baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *