Film Ndak Pernah Bohong

2 menit waktu baca

Hari ini, 1 Oktober, adalah hari Kesaktian Pancasila. Peringatan hari ini ndak bisa dilepaskan dari tragedi yang pernah terjadi sehari sebelumnya pada tahun 1965, saat sebuah gerakan yang bernama Gerakan 30 September (G30S) menculik dan membunuh beberapa petinggi Angkatan Darat dan sejumlah orang lainnya, dengan alasan menyelamatkan kedaulatan negara dari ancaman kudeta Dewan Jenderal. Konon gerakan itu didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), sehingga gerakan itu akhirnya lebih dikenal dengan sebutan G30S/PKI.

Peristiwa itu kemudian difilmkan pada tahun 1984. Film itu ditayangkan setiap tahunnya di TVRI pada tanggal 30 September. Tapi sejak tahun 1998, film itu ndak boleh lagi ditayangkan, bahkan ditarik peredarannya. Katanya, film itu ndak pantas ditayangkan karena mengkultuskan Soeharto sebagai presiden. Selain itu, katanya, film itu banyak memuat fakta-fakta yang ndak benar mengenai gerakan itu.

Menurut saya pribadi, film yang berjudul Pengkhianatan G30S/PKI itu keren banget. Semasa kecil, hampir setiap tahun saya menontonnya. Biasanya ditayangkan mulai jam 8 malam, untuk bagian pertamanya. Trus, setelah progam Dunia Dalam Berita ditayangkan yang bagian kedua. Belakangan, saya sering ndak melanjutkan nonton yang bagian kedua, karena takut melihat adegan penculikan dan pembunuhan beberapa jenderal dalam film itu. Apalagi scene itu dibuat sempurna banget dengan tata musik, dialog dan tata cahaya yang mencekam. “Darah itu warnanya merah, Jenderal” itu salah satu kalimat yang saya ingat dari film ini, bahkan dengan nada yang sama. Hehehe..

Pemilihan aktor dan aktris pendukungnya pun oke. Tokoh-tokoh penting seperti Sukarno, Soeharto, Aidit, Jenderal Nasution, dll, diperankan dengan baik, walaupun saya ndak mengenal secara personal tokoh-tokoh tersebut. Blum lagi, sang sutradara, Arifin C. Noer, adalah salah satu masternya film nasional. Sampai sekarang, buat saya pribadi, film Pengkhianatan G30S/PKI adalah film sejarah yang paling oke di antara film sejenis yang pernah dibuat di Indonesia.

Mengenai benar atau ndaknya isi yang tergambar di film itu, sejujurnya, saya ndak terlalu peduli. Film dibuat bukan untuk mencari keadilan. Sudut pandang film bergantung banget dari sudut pandang pembuatnya. Kalau kemudian di situ tergambar kekejian simpatisan PKI yang bahkan tega menyayat wajah seorang jenderal dengan silet, ya seperti itulah pandangan si pembuat film.

Begitu pula dengan film-film sejarah yang dibuat Holywood, blum tentu sesuai dengan versi dari pihak lainnya. Ambil saja contoh film sejarah tentang perang yang dilakoni Amerika Serikat. Dalam filmnya pasti tokoh baiknya adalah tentara Paman Sam, sementara yang jahat, sadis juga bengis, adalah tokoh dari pihak lawan. Apakah itu salah? Menurut saya, ndak juga. Itu karena, sekali lagi, film itu dibuat dari sudut pandang pembuatnya.

Maka begitu juga film Pengkhianatan G30S/PKI. Itu cuma sebuah film. Kalaupun di dalamnya terkandung muatan yang ndak benar, bukan salah filmnya, juga bukan salah pembuatnya. Jadi ndak pada tempatnya juga kalau kemudian film itu dilarang pemutarannya. Ketakutan akan munculnya gerakan berpaham komunis di Indonesia dari film itu tentu berlebihan. Jaman internet, semua bisa dibaca dengan mudah. Lebih banyak lagi akses untuk mempelajari ajaran komunis dari internet.

Menurut saya, lagi, sejarah ndak akan pernah bohong. Begitu juga film yang menggambarkan sejarah itu. Film tetap akan sebuah film, sebuah karya dari seniman film. Kalaupun ada yang dianggap berbeda, itu hanya cara dan sudut pandang orang yang melihat sejarah itu. Ndak ada yang salah. Bahkan film fiktif pun bukan sebuah kebohongan walaupun faktanya kurang bisa dipertanggungjawabkan.

Maka, kalau pemerintah sekarang keberatan dengan muatan dalam film itu, kenapa ndak membuat film dengan versi/sudut pandang pemerintah sekarang? Kita lihat, film mana yang lebih bagus. Selain membuka wawasan dan sudut pandang penontonnya tentang tragedi 30 September 1965, tentu juga akan menambah koleksi film nasional yang tayang di layar bioskop. Buat saya pribadi, sebagai penggemar film, Pengkhianatan G30S/PKI bernilai 90 dari skala 100.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2012 Agung Pushandaka

Related Post

7 thoughts on “Film Ndak Pernah Bohong”

  1. Jujur saja, saya juga menyukai film itu. Entah itu merupakan sebuah proganda atau alat politik penguasa, saya tidak peduli.

    Dan kalau kita mau jujur lagi, seperti kata anda, film hanyalah sebuah film.

  2. film itu memang membekas di ingatan. setuju dengan Anda, terlepas dari sudut pandang penceritanya, film ini berskala 90 dari 100 di mata saya.

  3. aku jg ingat film hitam putih itu dulu. salah satu film yg memang keren pada masa itu, terlepas dari kebenaran sejarah di dalamnya.

    sepakat juga. seharusnya film dilawan dg film. bukan dengan melarangnya. tapi, btw, apa benar film itu dilarang? apakah bukan karena mmg sudah terlalu propaganda ala orba sehingga tak ditayangkan lagi?

Comments are closed.