Earth Hour versus Pemadaman Bergilir

2 menit waktu baca

Kemarin saya lihat di tivi tentang pelaksanaan Earth Hour di beberapa negara. Beberapa obyek wisata penting dunia memadamkan sebagian besar lampunya selama 60 menit.

Di vivanews saya baca, beberapa obyek penting dunia yang ikut “memeriahkan” Earth Hour adalah Menara Eiffel, Big Ben, Colosseum, Sidney Opera House dan Forbidden City di Cina. Begitu juga Menara Pisa, Arc de Triomphe, stadion Amsterdam Arena, Buckingham Palace, dsb.

Bagaimana di Indonesia?

Di Jakarta, 170 gedung memadamkan lampunya yang diawali secara simbolis dari Taman Monas. Tugu Monas harus tetap menyala karena merupakan simbol masih “hidupnya” NKRI.

Program ini telah membantu Jakarta menghemat listrik sebanyak 50 megawatt. PLN mengklaim telah terjadi penghematan sebesar 811 megawatt untuk wilayah Jawa Bali.

Sekedar perbandingan, saat Hari Nyepi di Bali, listrik yang dihemat sebesar 450 megawatt atau senilai 5,5 miliar rupiah.

Berapa megawatt yang akan dihemat kalau Earth Hour diadakan sehari penuh seperti Nyepi?

Tapi perlukah Earth Hour diadakan di Indonesia?

Bandara Ngurah Rai Denpasar tidak mematikan lampu seperti yang dilakukan Bandara Schiphol di Amsterdam. Kesultanan Jogja tidak melakukan seperti apa yang dilakukan Istana Buckingham.

Apakah berarti sebagian besar warga Indonesia tidak mau ikut serta menghemat pemakaian listrik?

Bila di luar negeri bisa mematikan lampu selama 1 jam saja sudah disiarkan ke seluruh penjuru dunia, mereka seharusnya malu kalau melihat “perjuangan” masyarakat kita untuk menyelamatkan bumi.

Masyarakat kita secara (belum) sukarela, telah bersama-sama memadamkan lampu dalam program Pemadaman Bergilir PLN.

Memadamkan lampu selama 1 jam??

Ah, di Indonesia bisa dilakukan selama berjam-jam.

Jadi menurut saya, program Earth Hour yang digalakkan World Wildlife Fund (WWF) belum apa-apa.

Mari kita bandingkan. Earth Hour diadakan di beberapa titik saja di 4000 kota di dunia yang menyatakan ikut serta.

Sementara Pemadaman Bergilir PLN diikuti lebih dari 400 kota di seluruh Indonesia yang memadamkan listrik tanpa terkecuali.

Tapi bukan berarti saya juga mendukung sepenuhnya program PLN dan menolak Earth Hour.

Semua pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Kalau memang niatnya untuk kebaikan, harus dilakukan dengan sebaik-baiknya juga.

Selama ini yang menjadi keluhan masyarakat kita adalah bahwa Pemadaman Bergilir dilakukan tanpa sosialisasi yang baik.

Kalaupun ada pemberitahuan di koran lokal, pemadaman tidak sesuai jadwal dan lamanya pemadaman tidak pasti. Ini jelas mengancam hajat hidup orang banyak.

Kelemahan lain program PLN ini adalah Tarif Dasar Listrik (TDL) dinaikkan terus, padahal konon pemadaman dilakukan untuk penghematan. Ini tentu bertolak belakang dengan Earth Hour yang  cenderung tidak menimbulkan kerugian bagi pelaksananya.

Maka saran saya kalau Pemadaman Bergilir PLN dilaksanakan, sosialisasinya jangan kalah dengan Earth Hour. Kalau perlu, pakai juga selebriti kondang negeri ini untuk mengampanyekan program Pemadaman Bergilir PLN dan ditayangkan di televisi.

Bila program ini sukses dilaksanakan, tarif listrik tidak lagi dinaikkan.

Saya rasa masyarakat  akan dengan senang hati memilih listrik dipadamkan selama 1 jam dengan sosialisasi yang baik dan tepat waktu, daripada harus mendengar pengumuman bahwa tarif listrik naik dan naik lagi.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2016-2017 Agung Pushandaka

Related Post

25 thoughts on “Earth Hour versus Pemadaman Bergilir”

  1. Saya takut kalau sebenarnya promosi EH saat ini menghasilkan lebih banyak emosi karbon dibandingkan dengan penghematan yang diberikan 😕

    Tidak semua orang juga sadar di Indonesia ada kampanye ini.

    Btw, di Indonesia masih ada program yang jauh lebih keren daripada EH dan pemadaman listrik bergilir. Beberapa daerah pedalaman masih menerapkan penghidupan listrik bergilir, lha luar biasa kan hematnya 😀
    .-= Tulisan terbaru Cahya di [blognya]: Kejutan Con Te Partirò =-.

  2. mungkin yang membuata orang Indonesia kurag peduli dengan EH g seperti orang luar tu y karena disini listrik bisa nyala itu yang semakin langka, bukan padamnya listrik, hehehe….setuju tuh, pemadaman bergilir emang bikin hemat, PLN nya yang hemat, tapi masyarakat penggunanya makin boros dengan dinaikkannya TDL…hehe…repot…

  3. tujuannya sama, yaitu penghematan, masalah mana yang mau kita ikuti itu terserah saja, yang penting benar2 dilakukan, mari mulai diri sendiri 🙂
    .-= Tulisan terbaru imadewira di [blognya]: Hiatus Tanpa Rencana =-.

    Agung Pushandaka Reply:

    Saya sih mendukung keduanya. Tapi, kalau Earth Hour begitu dibangga-banggakan oleh penggagasnya, mereka harus melihat lagi di Indonesia. Bahwa memadamkan lampu selama 1 jam, sudah lumrah banget di Indonesia. Hehe!

  4. haha.. kamu lucu juga menulis ini..
    Tapi antara EH dan Pemadaman PLN jelas memiliki perbedaan yang besar menurut saya..
    EH itu dilakukan dengan sukarela oleh yang menyatakan ikut serta, sedangkan pemadaman yang dilakukan oleh PLN diterima dengan terpaksa oleh masyarakat yang kena giliran pemadaman.
    walaupun kedua-duanya sama-sama penghematan tetapi memiliki nilai yang berbeda. jika EH semua yang melakukannya dengan senyum dan gembira, pemadaman PLN di terima dengan cemberut bahkan makian dari masyarakat. hehehe
    .-= Tulisan terbaru yobel di [blognya]: Key SMADAV Pro Gratis 8.1 =-.

    Agung Pushandaka Reply:

    Dimaki masyarakat karena pelaksanaan Pemadaman PLN banyak kelemahan seperti yang saya bilang di atas. Coba kalau kelemahan itu dikurangi bahkan kalau bisa dihilangkan, pasti ndak ada makian lagi dari masyarakat. Saya jamin! Hehe..

  5. Sebenarnya untuk urusan penghematan, di dalam negeri lebih kreatif dan produktif daripada luarnegeri. Patut diakui urusan promotif mrk memang lebih aktif…

  6. iya juga ya, masbro. secara nggak sadar kita sudah sering “mengalami” earth hour. bukan sejam saja malah, berjam-jam di malam hari sampai-sampai kulit ini ikut-ikutan kelam karena terlalu lama di gelap malam. :mrgreen:
    .-= Tulisan terbaru morishige di [blognya]: Rafting dan Saya =-.

  7. Kalau bicara penghematan memang kan tidak harus listrik kan ya. Dulu sering mati lampu, itu udah hemat banged kan hehee…. Mungkin lebih tepat dikatakan dikurangi saja daripada dimatikan. Saya gak akan mau matikan semua selama 1 jam. Gelap! Takut!

  8. huehehe… kalau tinggal di luar jawa, akan terasa pemadaman itu lebih sering terjadi daripada nyuci sepeda motor deh. seminggu bisa 3x… durasi = suka-suka PLN, akibatnya = pembayaran listrik semakin naik, akhirnya = banyak yang maling kabel listrik dan nyolong tegangan. so solusinya? sudah banyak yg memberi solusi, di cari di google juga banyak. hehe,

  9. saya ndak ikutan matiin listrik dirumah, saya malah asik nonton bola liga inggris, ya gmn mau matiin, masa baru nyala udah dimatiin lagi listriknya, hehehe

  10. Hidoep PLN.. hidup pemadaman bergilir.. di tempat ku bisa berjam-jam lamanya saat ada pemadaman bergilir, paling cepat sekitar 5 jam.. bayangkan, secara gitu loh.. aq sih lebih mendukung EH aja deh, cuma 1 jam matinya.. dari pada PLN, yang berjam-jam itu.
    .-= Tulisan terbaru ChotaNaChoty di [blognya]: Kebagian Jatah PR 1 dari Google =-.

  11. Hidoep PLN.. hidup pemadaman bergilir.. di tempat ku bisa berjam-jam lamanya saat ada pemadaman bergilir, paling cepat sekitar 5 jam.. bayangkan, secara gitu loh.. aq sih lebih mendukung EH aja deh, cuma 1 jam matinya.. dari pada PLN, yang berjam-jam itu.
    .-= Tulisan terbaru ChotaNaChoty di [blognya]: Kebagian Jatah PR 1 dari Google =-.

Comments are closed.