“Dongkraknya, Pak!”

Suatu siang di sekitaran Renon, Denpasar, saya mengendarai sepeda motor saya dengan perlahan.

“Dongkraknya, Pak!” tiba-tiba terdengar teriakan seorang ibu muda kepada seorang pengendara sepeda motor lain.

Secara spontan yang diteriaki memperhatikan bagian bawah sepeda motornya. Setelah itu, ia melambaikan tangan sebagai tanda ucapan terima kasih karena sudah diingatkan bahwa “dongkraknya” belum diangkat.

Seketika saya jadi teringat perbincangan saya dengan beberapa teman di Jogja. Kenapa disebut dongkrak?

Anda tahu apa yang dimaksud dengan “dongkrak” oleh si ibu tadi?

Saya tidak tahu apa sebutannya di daerah anda, tapi di Bali, dongkrak adalah sebutan umum untuk kaki sepeda motor.

Kenapa dongkrak? Itulah yang jadi bahan perdebatan saya dan teman-teman saat di Jogja.

Menurut seorang teman, bagian bawah sepeda motor itu disebut dongkrak karena fungsinya. Tepatkah?

Saya rasa kurang tepat. Menurut saya, dongkrak fungsinya untuk mengangkat. Sementara kaki sepeda motor bukan untuk mengangkat, hanya membuatnya berdiri.

Beda di Denpasar, berbeda pula di Jogja sendiri. Di kota ini, sebutan untuk kaki sepeda motor yaitu “standar”.

Setahu saya, arti kata “standar” adalah ukuran atau patokan dasar, yang berasal dari kata “standard“. Namun ternyata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring, kata standar berarti “alat penopang yang berkaki (untuk menyangga sepeda)”.

Lalu dari mana asal kata “standar” untuk kaki sepeda/sepeda motor ini?

Saya menduga kata “standar” ini terpeleset dari kata “stander” yang artinya “yang memberdirikan”.

Kalau saya lihat di internet, sebutan untuk kaki sepeda motor adalah “kickstand foot“. Tapi mungkin, untuk memudahkan penyebutannya disingkat menjadi “stander“.

Nah, mungkin oleh orang Indonesia tempo dulu, terdengar sebagai “standar”. Jadilah kata “standar” dipakai untuk menyebut kaki sepeda motor.

Sekali lagi, ini cuma dugaan saya saja.

Kembali ke kata “dongkrak”, karena kata itu sudah diterima secara umum oleh masyarakat, maka menjadi kebiasaan yang dibenarkan.

***

Saran saya, sebelum anda mengendarai sepeda motor di Bali, pastikan bahwa dongkraknya sudah anda naikkan.

Digiprove sealDigiproved

Comments

  • michael says:

    Kalo di sini nyebutnya jagrak (di KBBI artinya kuda-kuda)

    Btw, di sininya di mana, pak michael?

  • ekabelog says:

    hahaha…jadi inget pernah godain seorang cewek…

    “Dongkraknya, Gek!!”

    padahal dia naik vario tapi cewek itu tetep aja noleh ke bawah, tau kan Vario kalau dongkraknya turun motor ga bisa hidup….hehehe

    Hehe! Kalau godain cewek di jalan harus hati-hati juga, ka. Takutnya cewek itu kagetan, malah jadi berabe.

  • Sugeng says:

    Itu kan basa Bali, basa spare parts nya Stand Comp main (untuk yang doubel) sedan yang sering di ingatkan orang namanya (samping) Side Stand. Prilaku ini mungkin cuma sekedar solidaritas antar sesama penguna jalan agar sama-sama selamat sampai tujuan 😆

    “Dongkrak” bukan bahasa bali asli. Setau saya ndak ada kosakata “dongkrak” dalam kamus bahasa bali. Hehe! Tapi “dongkrak” kemudian menjadi kata/istilah yang sudah diakui secara umum oleh masyarakat bali.

  • zee says:

    Kalo dulu kita di Biak bilangnya “standar”.
    Orang Medan bilangnya “cagak.”
    Baru denger ada yg sebut dengan dongkrak…

    Kalau “cagak” arti sebenarnya apa, mbak?

  • senny says:

    hehe… tadinya gue kirain motor jaman sekarang emang punya dongkrak hehe

    Cuma di bali yang ada sepeda motor pakai dongkrak. 🙂

    .-= senny´s last blog ..Pra 22 Syndrome =-.

  • mbah gendeng says:

    lain ladang lain belalang

    lain daerah, lain sebutan.

  • wira says:

    ngakak baca komennya ekabelog..

    jadi teringat cerita seorang anak pemilik bengkel honda yang cukup besar di daerah saya, ketika pergi ke warung tak jauh dari rumah di naik motor vario dan pulangnya dia bingung karena motornya nggak bisa hidup, dia bahkan akhirnya menuntun motornya sambil jalan kaki sampai kembali ke bengkel ayahnya, ternyata penyebabnya adalah “dongkrak” yang belum dinaikkan, hahahaha…. memalukan!!!

    Persis pengalaman teman kos saya di jogja. Pakai sok ngerti mesin segala, padahal masalahnya cuma di “dongkrak” yang blum diangkat. Seminggu jadi bahan ketawaan di kos.

    .-= wira´s last blog ..MU Di Puncak Klasemen Liga Inggris =-.

  • mbah gendeng says:

    nek di jember c malah lebih aneh lagi sebutannya jagrak

    Sama seperti komentar pak michael di atas mbah. Apa jangan-jangan kalian saling kenal. Hihi..!

    .-= mbah gendeng´s last blog ..Kampusku Kuburanku =-.

  • guskar says:

    wilayah jogya-solo mmg menyebutnya dng standar. saat ini saya tinggal di wilayah jawa barat, istilahnya jg standar..

    Mungkin karena kata “standar” lebih banyak dipakai, jadi dibakukan ke dalam KBBI ya, mas?

    .-= guskar´s last blog ..Baju Kotak-kotak dari Pasar Loak =-.

  • Ketut Wiyantara says:

    Kalau di Desa saya, sepertinya yang saya tahu bukan “dongkrak”, tapi “jongkrak”

    Hehe, ade-ade gen. Tapi inilah bukti bahwa Indonesia adalah bangsa yang sangat plural.

  • luhde says:

    aku juga bilang dongkrak. Di Bali, kan sangat mudah menyerap istilah begitu saja, ndak penting benar ato ndak. Misalnya, nyebut semua jenis motor dengan “honda”. Nyebut semua nomor pelat motor dengan “DK”, dll

    Malah ndak ngerti, knapa dongkrak pada vario bisa bikin mesin mati ya. Gak gaul

    Hehe, betul.
    Btw, untuk menjawab ketidak mengertianmu tentang dongkrak vario, silahkan tanya ke bengkel resminya kenapa kok dongkrang turun, motor ndak nyala.

  • putriastiti says:

    hal yang sama juga aku alami waktu aku di bali, ada mas-mas teriak “dongkraknya gek!” sampe 4 kali tapi tetep aja aku ga aku perhatiin. Aku pikir dia mau ngerampok.
    Dasar ga nyambung…. setelah aku tau “standar” motorku itu (sebutan di jawa yang biasa kupakai) bikin motorku ga imbang, aku langsung tau artinya dongkrak.
    Dasar Lola! 😀

    Memangnya kapan kamu pertama kali di bali?

    .-= putriastiti´s last blog ..Kuta Karnival 2009 =-.

  • Comments closed

    Newsletter

    Twitter

    Mbokya kalo lagi emosi di rumah sakit dan butuh pelampiasan, hajar security bukan perawat. Seimbang dan bisa mukul balik, walopun ujung²nya tetep siaran pers di kantor polisi.

    "Mankind's been fighting plagues from the start. We get our behinds kicked for a while, then we bounce back. It's nature correcting herself, restoring some balance." - The Walking Dead, 2011.

    We will bounce back.

    Load More...