Negeri dengan Cita-Cita yang Ketinggian

2 menit waktu baca

Tahun 2011 sudah membuka pintunya untuk kita lalui mulai hari ini. Kata “kita” saya pakai sebagai makna diri kita masing-masing, selanjutnya sebagai anggota kelompok masyarakat, sebagai bagian dari bangsa Indonesia, dan akhirnya sebagai warga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kita sebagai diri masing-masing, ndak akan saya ulas di sini. Setiap individu punya rencana, cita-cita atau target yang berusaha diraih tahun ini sebagai bekal di tahun selanjutnya lagi. Tapi bagaimana dengan kita sebagai bagian dari NKRI? Kemanakah kita akan melangkah dan membawa negeri ini?

Sebenarnya tugas kita sebagai generasi sekarang dan masa depan negeri ini sudah dimudahkan oleh generasi pendiri. Beragam cita-cita sudah disusun sedemikian rupa agar kita mengerti ke mana sebenarnya tujuan negara ini. Baca saja alenia ke-4 Pembukaan UUD 1945. Di situ jelas disebutkan bahwa cita-cita negara ini adalah membentuk Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan, mencerdaskan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia. Cita-cita yang sederhana, nampaknya.

Tapi setelah hampir 66 tahun kita merdeka, sepertinya ndak satu pun dari cita-cita itu yang sudah berhasil kita capai. Melindungi setiap bangsa dan tumpah darah? Banyak TKI/TKW yang mati sia-sia di negeri orang tanpa ada perbaikan yang dilakukan. Hampir setiap tahun kejadian, TKI dihukum mati, TKW disiksa, dsb. Timor-Timur hilang, Sipadan dan Ligitan juga musnah. Entah tumpah darah yang mana lagi akan hilang karena kurangnya perlindungan yang tersedia.

Memajukan kesejahteraan? Mungkin cukup berhasil, tapi untuk segelintir orang saja dari 240 juta orang di muka bumi pertiwi. Lihat daftar orang terkaya di Asia. Beberapa orang Indonesia menempati ranking 10 besar. Artinya, negara ini sukses menyejahterakan mereka. Tapi, kalau dibuat daftar orang termiskin di Asia, mungkin lebih banyak lagi orang Indonesia yang berebut untuk menempati peringkat teratas. Trus apakah sejahtera itu harus kaya? Saya rasa ndak juga. Sejahtera menurut saya adalah bisa makan cukup, sekolah cukup, hidup nyaman, sehat dan bekerja serta berpendapatan baik. Ndak perlu kaya untuk memenuhi itu semua selama penguasa mampu mau menyediakannya dengan murah.

Bagaimana dengan mencerdaskan bangsa dan menjaga ketertiban dunia? Ah, rasanya masih jauh panggang dari api. Pertanyaan saya kemudian adalah mampu ndak sih negara ini meraih cita-citanya? Ataukah negeri ini ketinggian cita-cita? Apakah para pendiri bangsa ini terlalu percaya diri bahwa anak-anak mereka kelak akan mampu mencapai cita-cita itu “semudah” mereka membawa negara ini merdeka dari cengkeraman imperialisme negara asing?

Saya rasa mereka, generasi pendiri, sudah mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan anak-anaknya untuk mengantarkan NKRI menuju cita-citanya yang mulia. Untuk itulah kita punya UUD 1945 yang didasari 5 sila dalam Pancasila. Segala sistem yang sebaiknya dijalankan sudah diatur sedemikian rapi di dalam batang tubuh UUD 1945. Kalaupun UUD 1945 ndak detail dan cenderung (dianggap) kuno sekarang ini, adalah hal yang wajar sebab UUD cuma mengatur hal-hal pokok saja. Tugas pemimpinlah yang harus melengkapinya dengan UU, bukan malah mengubahnya sampai berkali-kali.

Kalaupun cara itu kemudian membingungkan dalam pelaksanaannya, kembalilah ke Pancasila. Pancasila seharusnya menjadi kitab suci bagi kita semua dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Saya yakin, segala pertanyaan tentang cara merawat negara ini sudah tersedia jawabannya di dalam Pancasila. Buka kitabnya, jelajahi butir-butirnya, maka akan kita temukan jawaban-jawaban yang mulia, yang saya rasa masih bisa dijalankan di segala masa dan jaman.

Untuk itu, mari kembali ke Pancasila secara murni dan konsisten. Pancasila yang dulu dikagumi para pemimpin besar dunia, sekarang semakin kesepian sendiri terperosok terlalu jauh dan dalam di sanubari kita sampai kita ndak menyadari lagi keberadaannya. Semoga kita dan para pemimpin blum terlalu jauh melaju di jalan yang sesat sehingga masih ada kesempatan untuk kembali ke jalan yang diamanatkan oleh leluhur kita seperti yang tersurat juga tersirat di dalam Pancasila.

Selamat tahun baru untuk negeri..

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2011 Agung Pushandaka

9 thoughts on “Negeri dengan Cita-Cita yang Ketinggian”

  1. Tunggu dulu deh bli, perasaan jargon yang saya kenal dulu adalah “Kembali ke Pancasila secara murni dan konsekuen.” Kira-kira mana yang tepat ya?! hehehe.

    Selamat Tahun Baru 😀

    1. Haha! Iya, saya dulu juga taunya seperti yang anda bilang. Ndak ada maksud apa-apa kok, mengubah kata konsekuen menjadi kata konsisten di tulisan ini. Saya cuma pengen, kita kembali ke Pancasila secara murni, dan konsisten (tetap) di jalan itu.

      Sebenarnya, arti keduanya juga ndak berbeda jauh kok. 🙂

      Selamat tahun baru juga ya mas..

  2. Yang sederhana itu begitu jauh tapi tampak dekat melaui pelbagai janji saat kampanye, sepertinya pendidikan kita sudah sukses mencetak banyak ahli dalam meneropong cita-cita bangsa dan menjiplaknya ke kertas politik.

  3. Kayaknya negara kita sudah menuju ke liberal kapitalis deh.. Pemimpoin kita sekarang menempatkan demokrasi ala barat di atas segalanya. Pancasila cuma simbol aja..

      1. nah, faktor X-nya itu mas yang jadi masalah dan harus dikuak sedini mungkin. 😀
        saya kira seandainya ada pemimpin yang sudah tak berkekurangan suatu apapun, faktor X bisa dihilangkan. He he..

        selamat tahun baru!!

  4. Selamat Tahun Baru, Bli.

    Sedih bacanya. Banyak orang kaya di negara ini, tapi yang miskin? Lebih banyak lagi. Banyak juga yang pintar dan berhasil juara di luar negeri, tapi yang putus sekolah? Lebih banyak lagi.
    Barangkali…. tidak semua pemimpin paham ttg UUD 45 dan Pancasila…

Comments are closed.