Debat yang Ndak Hebat

5 menit waktu baca

Baca Kompas hari ini. Headline-nya berjudul ‘Debat Capres Dievaluasi’. Menurut berita itu, debat capres yang ditayangkan di tivi beberapa hari lalu berlangsung datar, monoton, dan mirip pidato. Saya sempat nonton sedikit saja acara debat itu. Tapi kemudian saya memutuskan mematikan tivi dan menonton vcd karena saya sudah tau apa yang akan terjadi di acara debat itu. Ternyata, dugaan saya benar, ndak ada perdebatan seperti judul acaranya. Trus apa penyebabnya? Menurut saya, ada beberapa hal yang berpengaruh.

Pertama. Mental bangsa ini kebanyakan ndak enakan. Beraninya ngomong galak kalau di belakang, tapi setelah berhadap-hadapan, jadi segan. Lihat saja bagaimana teganya para capres menghujat capres lainnya saat mereka berkampanye di depan pendukungnya. Tapi setelah bertemu di satu acara, ndak ada sekata pun yang keluar dari mulut mereka seperti yang mereka bilang di kampanye. Menyerang toh bukan cuma dengan kata-kata yang keras. Menyerang lawan debat bisa menggunakan kata yang sopan dan dengan nada yang lembut.

Ndak cuma capres kok, semua orang seperti itu. Saya pernah lihat demonstrasi di jalanan. Begh! Mereka ngomongnya galak banget. Hujat ini, hujat itu. Tapi begitu bertemu dengan orang yang dihujat, mereka jadi lembek banget. Yah, memang mental kita masih seperti itu. Beraninya rame-rame. Hehe!

Kedua. Pertanyaan sang moderator yang membosankan. Coba perhatikan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh moderatornya (Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina). Semua pertanyaannya sudah sering banget ditanyakan oleh host talk show lain kepada capres. Selain itu, pertanyaannya umum banget. Jadi jawabannya pun jadi lebar, dan ndak detail. Pertanyaan-pertanyaan semacam, ‘Apa yang akan anda lakukan untuk pemberantasan korupsi?’ seharusnya ndak usah ditanyakan lagi. Jawaban para capres pasti akan standar banget seperti yang biasa kita dengar.

Coba tanya, misalnya untuk SBY atau Kalla, ‘Dari mana hitung-hitungannya kok jatah BLT untuk satu orang cuma sebesar 200 ribu? Rasanya ndak cukup uang segitu untuk 1 bulan’

Atau tanya ke Mega, ‘Kenapa sih anda kok ndak setuju dengan program BLT?’

Atau tanya ke semua capres, ‘Anda sering bilang anggaran untuk alutsista TNI harus ditingkatkan menyusul banyaknya kecelakaan pesawat TNI. Duit dari mana? Anggaran pos mana yang akan dikurangi untuk meningkatkan anggaran untuk alutsista?’

Atau, ‘Bagaimana hitung-hitungannya kok anda yakin dengan peningkatan ekonomi sekian persen?’

Ketiga. Para capres bukan menjawab, tapi berpidato. Kenapa mereka bisa berpidato? Karena moderatornya habis bertanya cuma nonton. Moderatornya ndak berani bertindak sebagai rakyat. Mestinya antara moderator dan capres ada interaksi yang lebih aktif, seperti wawancara di tivi. Di mana sang penanya bisa menanyakan sesuatu kepada narasumbernya kapan saja dia mau, meskipun harus memotong kalimat sang narasumber.

Keempat. Jawaban (baca: pidato) para capres memang ndak bisa dibantah. Bagaimana mau membantah pernyataan mereka, kalau jawabannya memang baik. Jawaban semacam, ‘Saya akan berusaha menyejahterakan masyarakat, bla..bla..bla..’ mau dibantah sebelah mananya? Semua orang pasti sepakat dengan kesejahteraan rakyat yang lebih baik. Kecuali kalau para capres mengutarakan caranya meningkatkan kesejahteraan rakyat, mungkin bisa dibantah. Misalnya, SBY mengandalkan BLT untuk membantu kesejahteraan rakyat waktu harga BBM naik. Tapi ternyata Mega ndak setuju kan dengan cara itu. Nah, mestinya itu kan bisa jadi perdebatan seru.

Kelima. Penonton yang hadir di acara debat malah simpatisan dan tim sukses masing-masing capres. Malah saya lihat di bangku penonton umum, isinya kebanyakan pemain sinetron. Hehe! Aneh kan? Mestinya kursi penonton diisi oleh perwakilan kelompok masyarakat yang benar-benar tau apa yang dibutuhkan oleh anggota kelompok mereka.

Keenam. Acaranya terlalu formal. Malah sempat saya dengar moderatornya bilang, penonton dilarang bertepuk tangan sebelum capres selesai berbicara. Begitu capres selesai bicara, penonton diminta bertepuk tangan. Padahal penonton blum tentu sepakat dengan jawaban capres. Seharusnya biarkan saja para penonton mau tepuk tangan atau ndak. Kalimat ‘Kita beri aplaus untuk bla..bla..bla..’ ndak usah disebutlah. Biarkan penonton mau tepuk tangan kek, mau tidur kek, mau ngupil, dsb., terserah mereka. Kalau debatnya seru dan bermutu, penonton dengan sendirinya akan bertepuk tangan dengan semangat.

Tapi harus saya akui, sebagai penonton di rumah (bukan di tempat acara debat capres), mencari kelemahan acara itu adalah gampang banget seperti membalikkan telapak tangan. Saya pun menyadari bahwa pasti ndak gampang membuat acara debat seperti itu. Saya sempat melihat debat capres presiden Amerika Serikat antara Obama dan McCain. Mereka berdialog layaknya berbincang-bincang dalam sebuah diskusi. Jadi acaranya ndak kaku. Kadang, sindirian-sindiran pun dilontarkan yang disambut tawa dan tepuk tangan penonton.

Memang, ndak etis membandingkan kehidupan politik negara kita dengan negara lain. Indonesia ya Indonesia, bukan Amerika Serikat. Tapi, kita pernah mampu berpolitik seperti di Amerika Serikat sekarang. Saya pernah baca, Natsir bersahabat karib dengan Aidit, meskipun di gedung parlemen mereka adalah seteru karena yang satu dari partai islam sementara yang satu dari partai komunis. Di sebuah artikel saya baca, mereka pernah berdebat sengit dengan nada bicara yang tinggi di ruang sidang. Tapi begitu selesai berdebat, mereka minum kopi berdua di luar. Hebat kan?

Tapi sekali lagi harus saya akui, saya pun mungkin cuma bisa koar-koar di blog saja. Kalau saya ditunjuk menjadi moderator, mungkin saya juga cuma bisa manggut-manggut pasrah dengan jawaban para capres, meskipun dalam hati saya ndak setuju. Persis seperti moderator acara debat capres kemarin. Hehe! Semua karena kita blum berpolitik secara elegan. Misalnya hubungan antara penguasa dan oposan. Selama ini, oposan adalah musuh luar-dalam pihak yang berkuasa. Padahal oposisi seharusnya membantu yang berkuasa tapi dari tempat yang berseberangan.

Saya ambil contoh, sidang di pengadilan. Mereka yang terlibat di dalamnya adalah teman. Pengacara satu berdebat dengan pengacara lainnya. Mereka bukan mencari menang kalah saja, tapi membantu hakim menemukan kebenaran. Kelihatannya berantem, padahal mereka sedang bekerja sama. Di luar sidang, ya sudah, mereka akrab lagi. Gimana ndak akrab, lhawong mungkin mereka satu kampus dulunya, atau malah satu kelas waktu pelatihan advokat. Hehe!

Tapi saya ndak pengen asal kritik. Saya juga punya solusi untuk menciptakan sebuah debat capres yang mungkin lebih bermutu. Undang para capres ke dalam satu ruangan. Kecil saja ndak usah seperti studio transtv kemarin. Cuma ada 1 meja dengan 4 kursi. Ndak usah ada penonton, cukup 3 capres dan 1 moderator. Yang jadi moderator Gus Dur (Biar mampus deh para capres dimoderatori Gus Dur. Hihi!). Ndak usah dibilang bakal ditayangkan di tivi. Tapi tempatkan sejumlah kamera tersembunyi di beberapa titik. Nah, setelah itu biarkan mereka berdiskusi. Pasti seru kan?

Saya jamin, kalau ditayangkan di tivi, ndak ada orang yang akan rela melewatkan tontonan itu. Coba saja..

Hihi!

Related Post

8 thoughts on “Debat yang Ndak Hebat”

  1. kebetulan aku nonton acara di tipi itu hm…. cuman bisa ketawa, serasa nonton dagelan bwahahahaha…

    Wah, kamu hebat bisa ketawa. Aku malah ndak bisa apa-apa. Yang pasti aku jadi ngantuk. Hehe!

  2. setuju sekali…. ulasannya juga pas banget, dan ide terakhir kayaknya ide brilian walaupun hampir tidak mungkin untuk dilaksanakan di negera ini..

    Maaf Pak Wira. Ide saya bukan ide brilian, tapi ide gila. Benar kata anda, ndak mungkin dilaksanakan di negara ini. Paling ndak, untuk saat ini..

  3. mau nyaingin kompas ni opininya….. hihihi!!

    Hehe! Kompas kan cuma menyampaikan opini orang. Ini opini saya. Hihihi!

  4. Semuanya itu…selama masih bermental seperti yang disebut tadi di atas…ga bakalan bisa terjadi, karena semuanya masih pake ‘segan’. Giliran station TV nya brani…nti malah dicekal..he he he..

    Iya, kayanya memang seperti itu. Makanya masalah segan/ndak segan itu kutulis jadi alasan pertama.

  5. i like the your paragraph. but they dont (kpu, tim sukses)

    Hehe! Artinya kita sama-sama gilanya kalau setuju dengan ide terakhirku itu..

  6. mantap review nya! salam kenal pak agung

    Terima kasih untuk komentarnya. Salam kenal kembali pak..asn (??) ๐Ÿ™‚

  7. Hebat coy tapi sayangnya dinegeri kita bukan orang yang hebat dan berkarakter tapi yang berduit banyak lihat aja yang jadi pejabat maupun aparat banyak yang berandal dari pada yang berkarakter ,sebab yang menjadikan mereka uang bukan karakter

    Benar juga coy..
    Yang berduit lebih gampang menjadi pemimpin di negeri yang berpenghuni puluhan juta orang miskin ini.

Comments are closed.