Cuci Otak ala NKRI

1 menit waktu baca

Mungkin masih hangat menjadi bahan obrolan tentang istilah cuci otak, terutama yang dilakukan oleh Negara Islam Indonesia (NII) untuk merekrut anggotanya. Rasanya, saya juga baru saja mengalami pencucian otak semacam itu walaupun ndak sepenuhnya berhasil untuk saya. Bedanya, yang saya alami bukan dilakukan oleh NII, melainkan oleh NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Hehe!

Begini ceritanya..

Selama sebulan kemarin, dari tanggal 4 – 29 April di Wisma BKPM Cipanas, saya dan 59 CPNS BKPM lainnya mengikuti Diklat Prajabatan. Memang sih, pelaksanaannya ndak berbeda jauh dengan kuliah biasa di bangku universitas, tapi rasanya ndak berlebihan juga kalau saya bilang Diklat semacam ini juga berusaha mencuci otak para pesertanya dengan harapan setelah Diklat para peserta menjadi apa yang diharapkan si pencuci otak.

Saya dan peserta lain dicuci otak biar gambaran PNS selama ini hilang dari otak kami semua. PNS bukan lagi raja dan ratu, tapi justru pelayan bagi masyarakat dan negara. Hak dan kepuasan masyarakat dan negara jauh lebih penting daripada hak dan kebutuhan kami, sebagai pegawai negara. Ndak lupa juga, bahwa gaji kami dibayar oleh pajak rakyat. Maka, jelaslah siapa raja/ratu dan siapa pelayan.

Blum lagi otak saya juga dijejali dengan doktrin-doktrin anti korupsi, cinta negara dan sejarah bangsa. Menyanyikan lagu kebangsaan dan perjuangan di setiap pagi selalu dilakukan untuk meningkatkan semangat nasionalisme. Semua kegiatan dilakukan dengan pengawasan dan disiplin yang lain dengan biasanya, konon untuk menebalkan mental dan jiwa kepemimpinan kami nantinya.

Tapi..

Sepertinya semua program itu blum sepenuhnya terpatri di otak saya pribadi. Saya sih pengen banget citra PNS jadi jauh lebih baik di mata masyarakat, paling ndak untuk diri saya pribadi dulu.  Makanya saya cuma akan berusaha untuk melakukan yang terbaik minimal dari dan untuk diri saya pribadi, ndak muluk-muluk demi bangsa dan negara.

Seperti kata beberapa pengajar di Diklat Prajabatan BKPM kemarin, “Mulailah dari diri sendiri”. Saya ndak bisa menjanjikan akan jadi pelayan yang hebat, tapi saya cuma bisa janjikan akan bekerja sebaik-baiknya.

🙂

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2011 Agung Pushandaka

Related Post

6 thoughts on “Cuci Otak ala NKRI”

  1. sudah kelar ya bro?

    Selamat deh, semoga cuci otaknya berhasil diterapkan di dunia kerja ya seperti kata anda minimal untuk diri sendiri dulu.

    Saya sendiri mengalami, ketika Diklat Prajabatan semangat membuncah dan idealisme meninggi, tapi ketika diterjunkan ke dunia kerja dengan lingkungan PNS, tembok tebal mulai menghalangi, jadi sementara untuk diri sendiri saja dulu.

  2. yang saya tau, citra pns emang rata-rata buruk dimata masyarakat*tapi gak semuanya.
    PNS sering diplesetkan sebagai Pegawai Negeri Santai 🙂
    itu karena saya liat didaerah saya PNSnya kurang berdedikasi sama daerah sendiri, khususnya bidang pariwisata. Kota saya tinggal sama sekali tidak punya kemajuan disektor pariwisata.

    P.s: Bapak dan ibu saya juga PNS,om. PNS: Penjual Nasi Sop 😛

  3. Pada akhirnya, kesukaan pada pekerjaan itulah yang menentukan bagaimana orang menjalani pekerjaannya kan :).

  4. Weh. Benar-benar sebulan ya bli ikutan diklat.
    Ya, sama halnya dengan diklat, training, pelatihan, bila dilakukan dalam jangka waktu yang cukup dan terus-menerus pula, akhirnya memang bisa mencuci otak para pendengarnya.

  5. Selamat ya dah jadi CPNS, biasanya ajaran diklat dilupakan seiring waktu… jangankan 1 bulan diklat, yang 3 bulan aja sering terlupakan… tapi ga semua sih, ada nilai-nilai tertentu yang harus kita tanamkan di diri sendiri, gak harus lewat diklat.

    adin Reply:

    nah tuh bli, jangan sampe lupa 😀

Comments are closed.