Covid-19 Sampai Kapan?

Saat beberapa negara di Eropa sudah bisa menjalankan pertandingan sepakbola dengan stadion penuh penonton, dan beberapa negara lainnya sudah lebih siap menghadapi gelombang selanjutnya dari serangan Covid-19, di Indonesia sebagian warganya masih meributkan apakah Covid-19 berbahaya?

Sudah setahun lebih negeri ini berada di situasi yang tidak sehat akibat Covid-19. Selama itu pula tidak pernah ada penjelasan dan penanganan yang jelas. Sekarang, kondisinya semakin buruk, dimana jumlah kasus harian di beberapa daerah, terutama di Pulau Jawa dan Bali, meningkat sangat tajam.

Banyak yang bilang, ini adalah serangan gelombang kedua, tapi saya merasa ini masih gelombang pertama yang belum ditangani maksimal, ditambah melemahnya kedisiplinan warga untuk menjalankan protokol kesehatan. Terutama setelah vaksinasi massal mulai dilaksanakan.

Tapi di balik itu semua, ada satu hal yang paling menjengkelkan bagi saya. Yaitu tidak berhentinya orang meributkan apakah Covid-19 tidak berbahaya. Banyak yang sembuh. Banyak yang hanya gejala ringan dan bisa sembuh sendiri. Banyak pula yang meninggal, itu pun bukan karena terpapar virus Corona, tapi karena penyakit bawaannya. Begitu kata mereka yang meremehkan situasi ini.

Saya tidak ingin mendebat berapa banyak yang sembuh, karena memang benar persentase kesembuhan di Indonesia sangat tinggi. Tapi itu dengan pengorbanan yang sangat besar. Bisa dilihat berapa banyak nakes yang harus gugur karena menangani meledaknya kasus harian. Banyak pula warga lain yang tidak ada urusannya dengan Covid-19 harus meninggal karena tidak mendapatkan penanganan medis yang memadai karena konsentrasi nakes tersita kepada pasien Corona.

Saya juga tidak ingin meributkan apakah mereka yang terpapar virus Corona, meninggal karena virus atau karena penyakit lainnya. Melihat data banyaknya yang meninggal setelah tertular virus Corona menunjukkan bahwa virus ini memang berbahaya menurut saya. Terutama bagi mereka yang memiliki penyakit bawaan sejak awal.

Bayangkan diri sendiri sebagai orang lain.

Bagi anda yang bisa sembuh dari virus Corona hanya dengan isolasi mandiri di rumah, bagi anda yang selalu sehat meskipun tidak memakai masker secara benar dan disiplin protokol kesehatan saat berada di luar rumah, bagi anda yang tidak pernah merasakan kehilangan anggota keluarga atau sahabat di tengah situasi pandemi ini, saya ucapkan selamat.

Tapi jangan egois.

Tidak sedikit yang tidak seberuntung anda semua. Banyak orang yang tidak bisa menjalankan isolasi mandiri secara memadai. Banyak juga orang yang sudah menjalankan protokol kesehatan dengan ketat, masih tertular juga, dan menulari anggota keluarga mereka.

Cobalah untuk membayangkan diri anda sebagai orang lain yang tidak seberuntung anda. Bayangkan diri anda yang harus segera ke rumah sakit dalam keadaan darurat karena terpapar virus Corona.

Hal itu agar anda bisa membayangkan bagaimana khawatirnya seseorang yang dengan penyakit bawaan. Anda juga bisa merasakan bagaimana waswasnya seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan daya tahan tubuh yang tidak sehebat anda.

Daripada meributkan apakah virus ini berbahaya atau tidak, atau membahas kembali teori konspirasi yang anda yakini, cobalah berempati. Apa susahnya anda menjalankan protokol kesehatan, seperti memakai masker saat berada di luar rumah, demi kesehatan dan keselamatan mereka yang rentan?

Berdamailah.

Mari berdamai, tidak perlu lagi meneruskan keributan yang seharusnya tidak ada. Kita punya musuh bersama yang harus dihadapi dengan perhatian penuh segenap anak bangsa. Jangan malah membuat konsentrasi kita terpecah-belah dengan isu lain yang mempersulit kita menang menghadapi musuh terbesar.

Kebijakan penanganan yang tidak pernah jelas dan tegas, jumlah tenaga dan lembaga kesehatan yang belum memadai, dan kesenjangan ekonomi setiap warga yang cukup jauh perbedaannya, sudah terbukti membuat penanganan pandemi tidak maksimal. Tidak perlu lagi diperberat dengan isu bahwa Corona tidak berbahaya.

Apapun pandangan kita, apapun kayakinan kita, sebaiknya kita bisa menghargai mereka yang lemah, mereka yang tidak seberuntung kita, dan mereka yang pernah kehilangan.

Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat bersama seluruh keluarga dan sahabat tercinta.

Digiprove sealDigiproved

Comments

  • Phebie says:

    Cek kasus di Rusia dan Scotland.
    Eropa menurutku nekad bikin acara bola. WHO saja menegur tapi syusah kalau sudah soal uang.

    • Agung Pushandaka says:

      Terima kasih infonya, mbak Phebie. Saya baru baca.

      Nah, apalagi dengan kondisi demikian, artinya memang penanganan Covid ini tidak bisa dianggap remeh. Tidak cuma kebijakan dan regulasi yang tepat, tapi juga disiplin seluruh orang. Jangan ribut-ribut terus karena ada pihak yang harus mendapat perhatian lebih besar, tidak perlu melihat sebagian lainnya berdebat terus.

  • Peri Kecil Lia says:

    Kak Agung, sehat-sehat selalu ya untuk Kakak sekeluargaaa!
    Entah pandemi di Indonesia ini akan sampai kapan, titik cerahnyapun nggak kelihatan sedikitpun ๐Ÿ™
    Lama-lama, kita memang harus hidup berdampingan dengan covid ini tapi bukan artinya kita boleh lalai dengan prokes :'(

  • Hans says:

    Kalo emang bagi dia covid itu gak seberapa dampaknya, ya harusnya cukup buat dia aja.
    Gak perlu ngajak2 orang lain yang justru bisa berdampak negatif.
    Teman saya di kantor ada yang sedang positif.
    Ah semoga pandemi ini segera berakhir.
    Stay safe kak!

  • Comments closed

    Newsletter

    Twitter

    Malam setelah gempa di Jakarta bbrp hari lalu, doa K sebelum tidur jd berbeda,

    "God,, please dont shake the earth.."

    blum selesai,

    "... and dont move the mountain. Amin"

    ๐Ÿคจ

    Minggu lalu, K dipotong rambutnya.
    Tapi,,

    "Bapak, I dont like my new hair"
    "You sure?"
    "Yeah"
    "What do you like then?"
    "Gondrong"
    "๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„.. Ok!"

    Load More...