Bola Api di SBY

2 menit waktu baca

Wah, setelah sekian lama ndak nulis di blog, saya jadi bingung harus memulai dari mana untuk memperbarui blog ini. Tapi mumpung masih hangat, saya pengen menulis tentang perkembangan terbaru perseteruan KPK dan Kepolisian. Setelah sekian pekan berlalu, sekarang ceritanya sudah sampai pada episode penentuan. Iya, ibarat bermain bola, SBY sekarang menguasai bola sepenuhnya. Cuma dia yang tau, bola akan diumpan ke mana. Tapi sayangnya, bolanya bukan bola biasa, melainkan bola api. Dioper ke mana pun, akan ada pihak yang panas terkena api, bahkan terbakar.

SBY harus ikut yang mana? Ikut rekomendasi Tim 8 atau tetap menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada Kepolisian, Kejaksaan dan Pengadilan? Maaf, saya ndak akan memprediksi ke arah mana bola api akan diumpankan. Saya tertarik untuk melihat posisi SBY yang terjepit di antara 2 kepentingan. Satu; tentu saja kepentingan yang diusung Tim 8, KPK dan pendukungnya. Yaitu memenuhi segala permintaan Tim 8 yang tertuang dalam rekomendasinya. Kepentingan lainnya tentu saja adalah kepentingan politik. Sebab bagaimana pun, Kapolri (sebagai ikon Kepolisian) adalah orang kepercayaan SBY sejak 2008. Ketegasan SBY akan semakin tercoreng karena mengabaikan orang kepercayaannya sendiri.

Kalau saya menjadi seorang SBY, maka saya akan menyesali pembentukan Tim 8. Tim ini terbukti mubazir dan malah memojokkan diri saya sendiri. Kenapa mubazir? Ya karena yang mereka lakukan sebenarnya bisa saja saya lakukan sendiri, ndak perlu membuat tim khusus yang cuma bertugas selama 2 minggu. Buang-buang waktu saja kan? Apalagi presiden sudah punya staf ahli untuk melakukan tugas Tim 8. Yang ada kemudian adalah Tim 8 malah lebih banyak omongnya daripada kerjanya. Posisi SBY pun jadi terpojok karena rekomendasi akhir dari Tim 8 cuma mencontek apa yang jadi kemauan pendukung KPK yang jumlahnya lebih besar daripada pendukung Kepolisian. Jadi kasarnya, kalau ndak ikut rekomendasi Tim 8, SBY sama saja dengan membuat gempa di tengah laut kemudian menunggu tsunami di pantai! Hehe..

Akhirnya, jadi bingung sendiri kan? SBY tuh geraknya lamban, tapi tetap saja salah. Kalau JK punya slogan “Lebih Cepat Lebih Baik”, nah SBY punya motto “Lebih Lambat Lebih Salah”. Iya kan? Buat apa sih membentuk Tim 8? Tanpa mereka pun SBY seharusnya bisa melihat solusi terbaik sebab dia berada di puncak teratas. Kalau memang pengen memecat Kapolri, dia bisa melakukannya sejak awal pertikaian ini. Malah dengan melakukan itu, SBY akan terlihat sebagai atasan yang tegas dan mempunyai standar penilaian dan pengawasan yang baik terhadap anak buahnya. Eh, ini malah berputar-putar dulu. Membentuk Tim 8 lah, menunggu rekomendasilah, mempelajari dululah, dan sekarang malah terpojok sendiri. Hehe..

Sekarang, kembali ke judul. Kita tunggu saja, siapa yang akan terbakar menerima umpan bola api dari SBY. Semoga kali ini SBY memutuskan yang terbaik untuk negeri, Indonesia. Capek banget punya presiden yang bertele-tele seperti ini..

Related Post

19 thoughts on “Bola Api di SBY”

  1. presiden yang percaya bahwa blue energy dari air jadi bahan bakar itu mungkin
    yang bilang bom JW Marriot dan Ritz adalah disinyalir kerjaan lawan di pilpres
    skarang, lagi bimbang dan raguu, begini apa begitu, nanti jadinya begitu bagaimana ya? mana publik dan media ngributin dan maki maki terus. Kepalang sudah dimaki maki, ya udah, lanjutkan kan tinggal sedikit langkah yang dimaui tercapai kok, yah puas untuk sementara gak apa apa..

  2. Tim 8 tuh pemborosan uang negara. Coba berapa honor yg harus dikeluarkan oleh negara. Coba berapa kerugian delay keputusan selama 1 minggu bagi masyarakat Indonesia ?. Wong sudah ada menteri (para pembantu) kok masih bentuk pembantu baru. Memang, SBY kurang sigap berikan solusi. Terlalu banyak pertimbangan.

    Boleh hati-hati, tapi jika kelamaan, biaya hidup & ketentraman terus menggerogoti sebuah kehidupan bernegara. Kangen dengan ketegasan JK ya ?
    .-= Hendra W Saputro´s last blog ..BBC Ultah ke 2 – Anti TongPess =-.

  3. waduh. tumben aku kecewa baca tulisanmu, gung. soale kamu juga peragu kayak SBY. aku pikir kamu akan kasih masukan buat dia dari sudut pandangmu. soal dibaca apa tidak itu urusan lain. setidaknya kamu udah ngasih tawaran utk memadamkan api. jadi bolanya bisa kita pake main futsal. ya toh?
    .-= a!´s last blog ..Kado Terindah Dua Tahun BBC =-.

    pushandaka Reply:

    Hehe, mohon maaf kalau mengecewakan. Tapi kenapa aku ndak ngasih solusi, sebab aku yakin sebenarnya SBY sudah tau apa solusi terbaik. Lagipula aku cuma pengen mengkritik keberadaan Tim 8. Hehe!?
    Thanks buat komentar dan masukanmu, ton.

  4. Lah, kan begitu ciri-ciri Indonesia.. bertele-tele.
    Kalau bisa diperlambat mengapa di percepat??

    C spasi D ya..

    Kita jadi penonton aja deh! 😉
    Btw, btw,… Saya tetap bingung mencari tombol “follow”
    Padahal isi blog ini,, kuerennnnn!!!
    .-= Gek´s last blog ..Ember Bocor! =-.

  5. Kemarin malam pak SBY sudah kasih tanggapan.
    Beliau memang begitu, menyatakan sesuatu agak muter, tp poinnya memang ada.
    .-= zee´s last blog ..Kelamaan Bolos Nih =-.

    pushandaka Reply:

    Yang menjadi pertanyaan saya, kenapa harus muter? Apalagi poinnya cuma “seiprit” itu. 🙂

  6. Iya, bang. Bingung banget sama keadaan sekarang ini. Istilahnya sih ; mau saya adalah A. Tapi karena semua punya mau adalah B, maka saya coba bikin tim untuk selidiki. Tapi ternyata hasil tim itu adalah B! Bukan A! Lha… saya bingung, jadi gimana saya berada di ‘tengah’ antara A dan B. Jadinya A Minor ya, bang..? 😛 huekekeke

    *kaborrrrrrrrrrr*
    .-= tuteh´s last blog ..Row(L)an Atkinso =-.

Comments are closed.