Berhenti Mempermalukan Diri Sendiri

2 menit waktu baca

Dari zaman kuda makan besi sampai zaman milenium sekarang ini, pemuda pasti jadi tumpuan dan harapan suatu bangsa. Begitu juga dengan pemuda Indonesia. Pemuda yang saya maksud bukan cuma anak muda laki-laki lho ya, tapi mencakup golongan muda secara luas tanpa memandang gender. Mulai dari zaman pra kolonial sampai sekarang pemuda adalah harapan bangsa dan negara ini. Tapi, belakangan saya baca dan lihat di berita, pemuda  Indonesia sering kali melakukan hal-hal bodoh yang seharusnya bisa mereka hindari.

Hal bodoh yang paling sering dilakukan pemuda Indonesia adalah berhadapan secara fisik dengan polisi dalam sebuah unjuk rasa. Maaf, bukan bermaksud kasar, tapi menurut saya tindakan itu bukanlah hal cerdas. Bagaimana pun, polisi memang terlatih secara fisik untuk menghadang demonstrasi pemuda (baca: mahasiswa). Kenapa mahasiswa sebagai pihak yang merasa lebih pintar ndak bisa menghindari hal itu?

Okelah, polisi seharusnya ndak boleh bertindak keras dalam menghadapi pemuda. Tapi dalam keadaan seperti itu, kejadian pemukulan oleh oknum pasti lebih berpeluang untuk terjadi. Benar, polisi bisa dituntut atas reaksi keras bahkan kasar mereka. Tapi apakah itu tujuan utama demonstrasi? Ndak, kan? Siapa sih yang menang kalau ada polisi yang melakukan pemukulan terhadap mahasiswa kemudian dipenjara karena tindakannya itu? Ndak ada!

Yang seperti ini bisa dihindari, kan?
Seharusnya bisa dihindari, kan?

Seharusnya pemuda melihat kembali tujuan awal melakukan demonstrasi, yaitu membela kebenaran dan kepentingan rakyat. Yah, at least seperti itulah yang mereka bilang. Tapi, kenapa niat baik itu dilakukan dengan cara yang salah? Kalau memang niatnya menyampaikan pendapat, bekerjasamalah dengan polisi. Kalau memang diharuskan minta ijin sebelum berunjuk rasa, lakukanlah. Toh, niat untuk menyampaikan pendapat bisa tetap dilakukan meskipun dengan ijin itu aksi unjuk rasa jadi dibatasi areanya. Sekali lagi, itu pun kalau memang niat mereka adalah menyampaikan kebenaran dan keadilan untuk rakyat, bukannya bikin rusuh.

Atau, lakukanlah hal yang lebih cerdas daripada cuma membakar ban di tengah jalan. Misalnya, dengan menulis. Bahkan menurut saya, selain menjadi cara yang lebih elegan, menulis juga menunjukkan kecerdasan dan keberanian ala pemuda Indonesia. Apalagi sekarang sarana untuk menyampaikan pendapat dengan tulisan sudah luas banget. Mulai dari koran cetak, sampai dengan blog. Tapi kenapa pemuda lebih memilih melakukan cara kuno seperti tawuran melawan polisi, membakar ban, merusak fasilitas umum yang sebenarnya dibiayai dari pajak yang dibayar oleh orang tua mereka, dsb.

Saya tau, golongan muda cenderung melakukan sesuatu berdasarkan hasrat dan emosi yang lebih banyak daripada dilandasi pikiran yang lebih bijak seperti para orang tua. Misalnya seperti berkelahi. Wah, memang keren kelihatannya membela kepentingan dan kehormatan diri secara heroik seperti itu. Tapi setelah ditampilkan dalam tayangan berita di tivi, ndak ada tuh gagah-gagahnya. Malah yang ada, jadi kelihatan konyol bahkan tolol. Iya kan? Kalau memang hobi beradu fisik, di sekolah kan ada unit kegiatan bela diri. Nah, duel deh sana melawan sansak. Hehe..

Saya sih bukan merasa paling cerdas atau paling pintar. Saya justru merasa mereka itu orang-orang yang lebih cerdas daripada saya. Tapi, kalau melihat tingkah laku mereka, kok rasanya saya pantas untuk bilang bahwa mereka cuma mempermalukan diri mereka sendiri. Terlalu banyak hal baik dan juga benar untuk mereka lakukan, tapi kenapa justru mereka melakukan hal yang cuma mempermalukan diri sendiri. Jadi teman, berhentilah..

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2011 Agung Pushandaka

Related Post

17 thoughts on “Berhenti Mempermalukan Diri Sendiri”

  1. seperti biasa, pedas dan menusuk jantung, hahahaha…

    setuju sekali, waktu kuliah dulu saya cuma pernah sekali ikut kegiatan ‘turun ke jalan’ seperti itu, itu ketika melakukan aksi damai (benar2 damai lho aksinya) setelah terjadinya peristiwa bom bali 1 (saya sebenarnya tidak menyebut dengan satu, dua atau lainnya karena seperti akan ada yg ketiga).
    .-= wira´s last blog ..Cara Membuat Istri Senang =-.

    pushandaka Reply:

    Waduh, saya ndak bermaksud berkata pedas apalagi menusuk jantung. Hehe..

    Semoga ndak ada pihak yang sakit hati dengan keprihatinan saya ini. Apalagi para pemuda, semoga mereka ndak marah, mengingat pemuda sekarang gampang banget tersulut emosinya.

    Damai teman.. 🙂

    Winarto Reply:

    Berbicara mahasiswa sebagai kelompok yang intelek, perjuangannya pun harus dengan intelek. Seperti apakah perjuangan yang intelek? Setuju dengan menulis, namun kudu ditambah pertanyaan, lalu setelah menulis, apa yang harus dilakukan sesudahnya?

    Tentu tulisan itu harus ditujukan/dipublikasikan untuk dapat direspon oleh masyarakat dan pemangku kepentingan. Kalau tulisan itu hanya disimpan dan tidak dipublikasikan, bukankah ibarat “onani” saja? Kalau perlu jika ada kesempatan untuk siaran di radio/TV, manfaatkan peluang itu.

    Menyangkut perjuangan dengan turun ke jalan, sebenarnya menurut saya itu adalah “jalan terakhir” yang harus ditempuh apabila jalur damai/diplomasi buntu. Namun, ada juga yang berpendapat, kalau jalur turun ke jalan dan jalur diplomasi dilakukan seiring dan sejalan. Kekerasan iya, diplomasi, menulis atau diskusi. Tentu, peristiwa sejarah tahun 1966 dan 1998 bisa menjadi pelajaran. Namun akhirnya, kita menjadi terjebak, bahwa semuanya bisa diakhiri/diselesaikan dengan aksi turun ke jalan.

    Kalau seorang blogger, bisa menulis di blog dan dipublikasikan ke masyarakat. Kalau seorang seniman, tentu bisa melalui karya-karya yang dibuat; contohlah Iwan Fals atau Slank dengan lagu-lagu kritik sosialnya.

    Kalau untuk yang “mempermalukan dirinya” melalui tawuran/percintaan yang direkam kemudian dipublikasikan, itu ibarat menelanjangi diri sendiri di depan umum, yang sebenarnya hanya pantas untuk orang gila. Kalau yang masih waras, tentu menelanjangi diri adalah tindakan yang tidak akan dilakukan.

    pushandaka Reply:

    Terima kasih untuk masukannya. Menurut saya, menulis adalah salah satu cara di antara sekian banyak cara. Saya bukannya ndak mendukung aksi turun ke jalan. Seperti yang saya tulis, pemuda harus melihat kembali tujuan aksi turun ke jalan.

    Kalau niatnya membela kebenaran dan keadilan untuk rakyat, lakukanlah dengan cara yang benar dan baik. Kalau akhirnya rusuh apa tujuan aksi akan tercapai? Blum tentu kan..

    Kalau mau, jangan bikin rusuh, sekalian chaos seperti yang terjadi tahun 1966 dan 1998 seperti yang anda bilang.

    Sekali lagi, terima kasih untuk masukannya mas..

  2. Setuju! Setuju banget! Ketimbang bakar2an ban di tengah jalan kan mending mereka menuliskan aspirasi tersebut. Sapa tau langsung ditanggapi oleh Pemerintah kan? 😀 ya tulisan yang sedikit heboh lah di internet (jadi ingat kasus Ibu Pritha) hehehe… mending kayak gitu ketimbang horor2an… tindakan gitu nggak jauh beda sama teroris; hanya merugikan aja (secara yang diteriakin oleh mereka nggak kedengaran lagi kalo udah jontok2an)… merugikan pengguna jalan, kalo lempar2an batu merugikan bangunan milik orang, dllnya 😀

    (ups!) :p

  3. kalo soal video-video heboh
    video perkelahian antar pelajar – gara2 kebanyakan nonton pilem gangster hongkong, efek liat smack down.
    video porno – gara2 kebanyakan nonton mieyabi ama baywatch.
    video konyol – kebanyakan nonton jackass

    Hmm…kebanyakan pengaruh smua sih
    .-= Action Figure Toy´s last blog ..Cute Mr. Bean Action Figure =-.

    pushandaka Reply:

    Jadi, salah siapa donk?

  4. Pak gung, sebagai pemuda yang masih bodoh saya mencoba menulis pendapat disini. 🙂

    Saya pernah beberapa kali ikut aksi temen-temen Walhi turun kejalan, tapi tidak pernah rusuh dan pukul-pukulan dengan Polisi karena terusterang saya takut dan malas beurusan dengan polisi. Kenapa? ya gitu deh.

    Aksi turun kejalan tentunya merupakan salah satu strategi kampanye. Yang namanya strategi tentu ada landasan, tahapan, dan tujuannya. Biasanya melibatkan tulisan juga (dalam bentuk poster dan press release). Harus ada unsur menarik perhatian (pemerintah, masyarakat, dan wartawan) sehingga biasanya dilakukan dengan teaterikal dan aksi lainnya. (klo bakar ban, itu penarik perhatian yg sangat tidak kreatif!). Sehingga aksi yang dilakukan mendapat perhatian dan publikasi agar tujuan aksi lebih tercapai secara optimal. Kalau soal bentrok dan rusuh saya kurang tau karena gak pengalaman :p Begitu kira-kira yang saya tau gung.

    Salam
    ~gt~
    .-= gustulank´s last blog ..Peubahan Iklim & Usaha Adaptasi =-.

    pushandaka Reply:

    Halo, Pak Gus, sebagai pemuda yang ndak lebih pintar dari anda, saya berusaha menanggapi pendapat anda.

    Saya sama sekali ndak pernah mempermasalahkan bentuk apa pun yang dipakai untuk menyampaikan pendapat, termasuk unjuk rasa turun ke jalan. Silahkan saja.

    Saya juga sependapat dengan strategi kampanye yang anda sampaikan. Tapi, kalau sampai mahasiswa atau pemuda kemudian ndak bisa menghindari kerusuhan, yang bodoh bukan orang lain, tapi ya para demonstran. Pemuda kan pintar, buktinya mereka tau apa yang dibutuhkan bangsa ini melalui aksinya. Tapi mereka juga harus cerdas. Kalau ujung-ujungnya cuma rusuh dan bentrok dengan polisi, tubuh jadi luka, aspirasi dan pendapat pun blum tentu kesampaian. Saya malah menyarankan, kalau perlu bekerjasamalah dengan polisi saat melakukan aksi. Jadi, aksi akan berlangsung sesuai tujuan, ndak mengganggu kepentingan masyarakat, dan ndak disusupi pihak yang ndak suka dengan aksi itu.

    Kira-kira seperti itu maksud saya gus. Terima kasih.

    Salam kembali. 🙂

  5. wah emang harus di rombak sistem di negara kita ini biar image yang selama ini tertanam ilang jika g gt bisa2 negara kita semakin di permalukan nih…………

    makasih uda berkunjung ke blog mbah yang sederhana

  6. salam bahagia, Sahabat ku WIra saya setuju dengan pendapat mu.Saya kira masih banyak cara yang lebih bijak untuk menyampaikan aspirasi kita, kan tidak mesti selalu bentrok ya…kan?
    .-= pakwo´s last blog ..Pacaran Setelah Menikah =-.

    pushandaka Reply:

    Wira? Anda salah masuk blog mungkin. Hahaha!

  7. kalau kita aja bisa melihat dan merasakan kekurangan kita.. tentu banyak orang luar yang melihat kita lebih ekstrim.. spt teroris kemarin..

    bahkan itu bibit2 teroris ya dr situ

Comments are closed.