Belajar (Lagi) tentang Kebebasan

1 menit waktu baca

Kali ini saya memilih satu topik ringan sebagai tulisan pemanasan setelah cukup lama libur menulis. Yaitu tentang status facebook seseorang yang membuat sebagian umat Hindu marah besar.

Seorang bernama Ibnu menulis, “Nyepi sepi sehari kaya tai”.

Saya kira masalah ini akan berhenti dengan adanya permintaan maaf dari Ibnu.

Tapi ternyata di koran kemarin, diberitakan terjadi unjuk rasa untuk “melawan” Ibnu.

Memang setiap orang punya caranya sendiri untuk melampiaskan kekecewaannya walaupun saya sedikit tidak setuju dengan unjuk rasa itu.

Saya rasa kejadian ini adalah salah satu efek dari dibukanya keran kebebasan di negeri ini.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menunjukkan sikap/rasa. Mulai dari status facebook seperti Ibnu, atau juga dengan berunjuk rasa.

Semua jadi sah di jaman sekarang ini. Tapi, sudah seberapa baik kebebasan yang berlaku di negeri ini?

Sejak jatuhnya Pak Harto dari kursi kepresidenan, rakyat Indonesia diajari tentang kebebasan. Bebas berbicara, bebas berserikat, bebas berekspresi, dsb.

Tapi, pengajaran itu menurut saya salah.

Rakyat yang sebagian besar masih awam tentang kebebasan langsung diajari ilmu kebebasan tingkat tinggi.

Kasus Ibnu bukan yang pertama kali terjadi di negeri ini. Banyak sekali kasus hukum bertema pencemaran nama baik, penghinaan, dsb., yang dilatarbelakangi perkataan seseorang.

Saya melihat orang cenderung memanfaatkan momen kebebasan berbicara untuk menyampaikan apa yang tidak disukai. Tapi rasanya tidak banyak memanfaatkannya untuk menyampaikan pujian, kekaguman untuk sebuah prestasi.

Apa ini yang dimaui oleh penggagas kebebasan berbicara/berekspresi?

Saya menyadari bahwa kebebasan adalah hak asasi. Tapi, hak asasi bukan cuma milik sebagian orang.

Hak yang dimiliki orang lain seharusnya menjadi kewajiban untuk kita. Sayangnya saya melihat orang-orang hanya mementingkan haknya saja.

Begitu juga mungkin si Ibnu, yang merasa berhak menyampaikan kekesalannya di facebook.

Tapi dia lupa kewajiban yang selalu menempel pada haknya.

Sebaiknya kita semua belajar lagi tentang kebebasan (juga hak asasi manusia).

Bagaimana caranya memanfaatkan hak yang kita miliki dengan cara yang beradab. Begitu juga cara menghormati hak orang lain.

Termasuk juga menyikapi seseorang yang mungkin kelewatan memanfaatkan haknya.

Bebas tidak harus bablas.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2017 Agung Pushandaka

Related Post

24 thoughts on “Belajar (Lagi) tentang Kebebasan”

  1. hm.. keknya sebelum seseorang diperbolehkan mengakses internet, harus diberikan pemahaman dulu jika apapun yang ditulisnya di internet bisa dibaca oleh semua orang dari seluruh indonesia. dan seluruh dunia bahkan. :mrgreen:

    kebebasan sih boleh2 saja dijunjung tinggi. tapi kita tetap harus ingat jika kita hidup di timur. kawasan yang masih menjunjung tinggi norma kesopanan. termasuk kesopanan berbicara. 😀
    .-= morishige´s last blog ..Film: Im Juli (2000) =-.

  2. Analisa yang tepat. Masyarakat kita belum siap dgn yang namanya “kebebasan” sehingga bablas tanpa sempat belajar dulu mana yg seharusnya boleh dan mana yang tidak boleh. Bagaimanapun hidup memang tidak semudah itu, dan saya pikir memang harus ada pembelajaran nyata kayak begini baru orang2 kayak ibnu bisa sadar.

  3. Hogh pd kebablasan yak…Yg nuntut kebablasan, yg ngeluarin pendapat juga. Eh tp aku kok lebih sebel ama yg suka nuntut pencemaran nama baek yak….

    Agung Pushandaka Reply:

    Banyaknya orang yang melaporkan pencemaran nama baik seperti yang anda bilang juga salah satu bukti bahwa sebagian besar orang ndak siap dengan kebebasan itu. Makanya saya bilang, semua orang harus belajar lagi. Biar kita bisa tetap bebas bicara sekaligus bisa bersikap bijak kalau mendengar omongan orang yang menurut kita sudah kelewatan.

  4. itulah sedikit contoh dari kebebasan yang kebablasan. bangsa ini dan seisinya (tanpa terkecuali saya) masih terlalu hijau untuk mengerti apa itu kebebasan, apa itu hak asasi dan blablabla. klo seperti yang nampak di tipi tipi sekarang, terkesan jika lebih mudah mengkritik bahkan hampir menuduh dari pada bercermin. inilah demokrasi yang masih harus banyak belajar.
    postingan yang bagus bli, hahahhaa… mpe meres keringet saya bacanya.hihihiii 😀

  5. seyogyanya kebebasan itu di gunakan secara proporsional dan bertanggung jawab..
    kasus Ibnu harus menjadi pelajaran kita semua yg menganut azas demokrasi dan kebebasan.
    Mudah²an kasus ini menjadi yg terakhir, kita harus memumupuk rasa saling menghargai dan menghormati..
    bukan begitu kawan?
    .-= Caride™´s last blog ..Bungkus (Bingung Kasus) =-.

  6. Mudah²an kasus Ibnu bisa menjadi cerminan kita semua, agar tetap menghormati saudara² kita tanpa melihat suku, agama, ekonomi dan lain sebagainya..
    Kita pupuk rasa persaudaraan kita lebih erat demi terciptanya Indonesia yg bersatu padu..*halah jadi PPKn gini*

    salam, ^_^
    .-= Didien®´s last blog ..Tujuan ngeblog? =-.

Comments are closed.