Belajar dari Poldi

2 menit waktu baca

Saya pernah punya anjing peliharaan. Saya beri nama Poldi. Anjing rottweiller itu saya beli karena permintaan adik saya yang iba saat melihat anjing tersebut dikurung dalam kandang sempit di sebuah pet shop di Denpasar. Saat saya membelinya dengan harga murah, kondisinya sangat memprihatinkan. Badannya kurus, jalannya pincang dan seperti ndak terawat baik. Saat saya minta kartu dokternya, si penjual ndak bisa menunjukkannya. Saya memutuskan untuk membelinya setelah si anjing mendatangi dan menjilati tangan saya, begitu dibebaskan dari kandangnya.

Sampai di rumah, Poldi – tadinya diberi nama Rocky oleh pemilik sebelumnya – ternyata juga mencret. Tindakan pertama yang saya lakukan adalah memberinya air minum yang banyak. Benar, begitu air minum saya sodorkan ke hadapannya, Poldi langsung minum banyak. Mungkin itu gambaran sekilas mengenai Poldi. Kali ini saya mau berbagi cerita mengenai hal mengagumkan yang patut saya contoh dari Poldi, seekor anjing peliharaan.

***

Banyak sifat Poldi yang saya anggap mengagumkan. Poldi adalah anjing yang pekerja keras. Saat saya berusaha menyembuhkan kondisinya yang kurus dan pincang, dia selalu berusaha keras untuk berlatih berjalan dan berlari. Tanpa usahanya, pastilah niat saya yang ingin menyembuhkannya ndak akan berhasil. Tapi dalam waktu beberapa bulan saja, Poldi kembali menjadi seekor rottweiller yang gagah, tegap, kuat dan pemberani.

Saya juga harus mencontoh sifat setia Poldi. Poldi sangat setia kepada juragannya, terutama ibu saya yang merawat Poldi setelah saya harus pindah domisili ke Jakarta. Poldi ndak hanya setia untuk ndak pernah pergi ke luar rumah sendirian sekalipun pintu gerbang rumah terbuka lebar tapi juga setia untuk ndak menerima pemberian orang asing. Pernah suatu pagi, ibu saya menemukan banyak bakso berserakan di halaman rumahnya. Ibu ndak pernah tau siapa yang melempari rumahnya, tapi ibu curiga bakso-bakso itu sudah diisi racun untuk membunuh Poldi. Banyak motif yang mungkin melatarbelakangi niat itu, misalnya ingin masuk ke rumah dengan niat mencuri.

Tapi Poldi ternyata ndak menyentuh sedikit pun makanan dari orang ndak dikenal itu. Berbeda halnya saat ibu atau anggota keluarga di rumah memberi biskuit kepadanya. Poldi ndak pernah menolak, bahkan seperti ndak pernah sudi berbagi makanan pemberian ibu. Biasanya dia membawa pergi makanan itu ke kandangnya atau menghabiskannya seketika itu juga.

Ngemeng-ngemeng tentang kepatuhan Poldi untuk ndak keluar dari rumah juga patut saya acungi jempol. Sekalipun pintu gerbang terbuka lebar, kaki depannya ndak akan pernah melewati rel pintu gerbang, bahkan seujung kuku pun. Hal itu juga berlaku bahkan saat ada anjing lain atau kucing yang “menggodanya” untuk keluar rumah. Kami dari dalam rumah cukup mengingatkan dengan sepatah kata “Jangan”, maka Poldi ndak akan keluar dari rumah.

***

Tanggal 31 Desember, tahun 2013, menjadi bukti terakhir kesetiaan Poldi. Sejak meninggalnya ibu saya pada tanggal 25 Desember 2013, Poldi sama sekali ndak pernah mau makan. Saat saya belikan air kelapa yang merupakan air kesukaannya, Poldi pun ndak beranjak. Begitu pun saat saya belikan makanan enak kesukaan manusia, Poldi bergeming. Dia hanya berbaring malas yang membuatnya semakin lemah.

Sejak awal tahun 2011, Poldi memang hidup berdua bersama ibu saya. Ibu dalam kondisi sakitnya, tetap berusaha merawat Poldi, yang dibalas oleh kesetiaan Poldi menjaga rumah dan menemani ibu menonton televisi di ruang nonton. Mereka seperti ndak terpisahkan di rumah.

Setelah sekian hari ndak mau makan dan minum, akhirnya Poldi mati dengan tenang di halaman rumah. Uniknya, adik saya yang pertama kali melihatnya di pet shop jugalah yang melihatnya pertama kali kondisi Poldi yang sudah ndak bernafas. Akhirnya, Poldi kami kubur di halaman belakang rumah. Kesetiaannya akan selalu jadi pelajaran buat saya.

 

*RIP Poldi

 

 

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2015 Agung Pushandaka

Related Post

2 thoughts on “Belajar dari Poldi”

  1. Hu hu hu…hiks….
    Saya jadi nangis, menitikkan air mata karena saya juga punya peliharaan jadi tahu gimana rasanya ditinggalkan. Terakir ditinggal mati Bunny saya sedih kadang kalau liat fotonya suka kangen dan bertanya-tanya sedang apa ya dia….

  2. Poldi, yang punya nama lengkap Poldi Pushandaka, yang bikin gek iri karena udah duluan dapet nama Pushandaka. Tunggu aja Juli, gek bakal dapet nama belakang Pushandaka juga. Hehe.
    Iya, punya peliharaan anjing itu kaya punya temen yang selalu ada dan dengerin kita cerita, setia nemenin dengan tampang polos yang ngegemesin. Ah.. Jd pgn punya anjing lagi, nanti kita pelihara anjing bareng ya mas.

    Sekarang Poldi pasti lagi nemenin Ibu di surga.

Comments are closed.