Bayar Berapa?

2 menit waktu baca

Saya memperhatikan ada beberapa pertanyaan yang sering saya dengar sewaktu saya mengabari beberapa kerabat dan teman bahwa saya lolos seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) sampai tahap akhir. Memang beberapa pertanyaan itu ndak begitu saja ditanyakan oleh setiap orang yang saya kabari. Tapi, beberapa diantaranya paling banyak saya dengar baik secara langsung maupun ndak langsung. Ada yang bertanya dengan nada bercanda, tapi ada juga yang serius. Berikut di antaranya..

Di mana? Ini pertanyaan yang paling banyak ditanyakan. Saya telah berhasil melewati seleksi CPNS di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Republik Indonesia. Beberapa tahapan dan ujian yang harus saya lalui antara lain; Seleksi berkas lamaran; Tes Pengetahuan Umum; Tes Potensi Akademik, Psikotes, TOEFL, dan Ujian Wawancara. Tenang saja, selama mengikuti semua tahapan ujian tertulis, saya ndak pernah sekali pun menemukan pertanyaan basa-basi seperti: Apa judul lagu ciptaan Bapak Soesilo Bambang Yudhoyono? Hehe!

Kenapa PNS? Saya sebenarnya ndak menargetkan kerja sebagai PNS atau swasta, begitu pun wirausaha. Sebab saya merasa semua pekerjaan itu baik selama dikerjakan dengan dasar niat dan dengan cara yang baik sekaligus benar. Selama ini saya cuma berusaha melamar ke semua instansi yang membutuhkan jasa dan tenaga seorang sarjana hukum seperti saya. Sering kali saya gagal, baik di CPNS maupun perusahaan swasta, tapi niat saya cuma pengen bekerja, dan itu yang membuat saya terus berusaha, selain berkat doa dan dukungan dari orang-orang terdekat.

Bagaimana dengan entrepreneur? Saya selalu pengen bisa membuka sebuah usaha sendiri, kalau perlu sekaligus membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain. Kedua orang tua saya termasuk orang-orang yang punya jiwa wirausaha. Bapak saya, setelah pensiun, sekarang aktif dengan ternaknya. Sementara ibu saya, selain bekerja sebagai pengajar Bahasa Indonesia di sebuah universitas asing di Bali, beberapa kali juga membuka usaha jual-beli makanan, baik berupa katering, dsb., sekarang membuka warung makan yang sederhana di rumah. Mungkin suatu hari nanti, akan ada kesempatan lebih baik lagi untuk saya memulai sebuah usaha.

Bayar berapa untuk jadi CPNS? Sejujurnya saya blum terbiasa mendengar pertanyaan ini, sebab ini pengalaman pertama saya lolos sampai tahap akhir sebuah seleksi CPNS. Memang begitulah adanya citra seleksi CPNS. Selama ini, masyarakat luas yakin bahwa seleksi CPNS blum bisa lepas dari yang namanya uang pelicin, koneksi orang dalam, atau mungkin surat pengantar sakti. Faktanya, mungkin memang masih ada hal-hal seperti itu. Bahkan Bapak saya pun ndak percaya saya akan lulus sebuah seleksi CPNS tanpa uang pelicin waktu saya melamar di BKPM.

Tapi sekarang saya bisa buktikan, bahwa saya ndak mengeluarkan sepeser uang pun yang harus saya bayarkan kepada seseorang dengan jaminan kelulusan. Kalau saya mampu membayar uang semacam itu, tentu saya ndak harus menunggu sekian tahun untuk menjadi seorang CPNS. Lagipula, untuk apa saya kuliah tinggi-tinggi di salah satu universitas terbaik di Indonesia kalau saya membayar sejumlah uang demi menjadi CPNS. Selain tanpa uang, saya pun ndak punya kerabat di pemerintahan, juga di BKPM. Sebab, PNS bukan pekerjaan favorit di keluarga besar saya. Maka percayalah bahwa untuk lulus seleksi CPNS, murni karena kemampuan diri dan — tentu saja — faktor keberuntungan.

Atau anda punya pertanyaan lain? 🙂

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2016 Agung Pushandaka

Related Post

13 thoughts on “Bayar Berapa?”

  1. ya, abang saya sendiri lulus pns tanpa duit sepeser pun, tapi tak bisa dipungkiri banyaknya orang yang bermain di belakang, meski masih ada, saya optimis suatu saat budaya uang ini akan dihapuskan..

  2. Sebenarnya CPNS murni itu banyak, hanya memang tidak sesanter yang pakai pelicin, ndak enak digunjingkan jika lulusnya wajar saja. Jadinya ya yang lebih terdengar gaungnya ya yang pakai jalur belakang itu, apalagi habis itu merasa bangga karena sanggup membeli kursi – wealah…, habis sudah negeri ini.

  3. Mungkin karena banyaknya permainan uang dan kkn jadi wajarlah muncul pertanyaan2 begitu.
    Ada teman saya jadi cpns, saya tanya saja terus terang, namanya juga kita berteman.
    Tentu saja pertanyaan pertama, pns dimana… lalu berikutnya, tahu darimana dia buka lowongan, dan berlanjutlah ke pertanyaan2 berikutnya.
    Dan finalnya biasa saya tanya, bayar apa gak? Kalau gak bayar ya dia bilang gak bayar …. 🙂

  4. Mungkin pertayaan itu saya kira wajar saja karena memang di negeri ini sudah lumrah dan jamak dilakukan orang. Seperti pemberian grativikasi (uang persenan setelah proyek goal) itu sudah lumrah dilakukan oleh orang lapangan namun saat berhadapan dengan KPK kan berbeda 180% dan dianggap korupsi. Ya begitulah Indonesiaku yang tercinta ini, bagaimanapun ini juga negriku 😆
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  5. Wah, mirip dengan saya. Saya juga hingga saat ini terkadang menerima pertanyaan semacam itu. Parahnya, bahkan dulu ketika saya mengajar di Perguruan Tinggi swasta pun ada yang bertanya : “siapa yang naruh disana?”.

    What? Saya benar-benar kecewa dengan pertanyaan itu, pertanyaan itu benar-benar meremehkan kemampuan saya, itu sama dengan mereka mengatakan bahwa untuk di swasta pun saya butuh orang untuk menenteng saya. *lho kok jadi curhat.

    Dan ketika sekarang saya menjadi PNS mungkin ada yang mengganggap itu hasil KKN, apalagi kebetulan mertua saya mantan anggota DPRD Kabupaten Badung.

    Saya selalu berusaha menceritakan bahwa semua itu hasil usaha saya sendiri, bahkan sebenarnya saya lolos tes CPNS di 2 tempat dalam waktu bersamaan. Bukan bermaksud sombong, tapi sebagai bukti bahwa itu bukan hasil KKN.

    Sebelum ngelantur, selamat ya kawan. Semoga bisa memberikan yang terbaik untuk negara ini. Selamat bekerja.

Comments are closed.