Banyak Alasan Membenci Jakarta

5 menit waktu baca
Sejahatnya ibu tiri, masih lebih jahat ibukota. Apa itu alasan untuk membenci Jakarta?

Saya dulu pernah merasakan bagaimana kesalnya dengan segala hal yang berbau Jakarta.

Saya lahir dan tumbuh di Denpasar, Bali. Masa itu, sentralisasi a la orde baru sangat besar pengaruhnya sampai ke daerah, termasuk Bali.

Bahkan saya juga kesal kepada om dan tante saya cuma karena mereka warga Jakarta.

Tapi sejak menjadi warga Jakarta, saya merasa apa yang dulu saya pikir tidaklah adil untuk semua warga Jakarta. Sebab segala alasan saya membenci Jakarta waktu itu, sebenarnya bukanlah melulu Jakarta.

***

Misalnya, sistem sentralisasi yang berlaku. Banyak warga di daerah yang kecewa dengan kebijakan atau regulasi pemerintah pusat, karena merugikan atau tidak menampung kepentingan daerah.

Contohnya adalah isu reklamasi laut di Bali, yang sampai sekarang menjadi isu panas.

Padahal Jakarta juga mengalami isu yang sama, merasa diabaikan oleh kebijakan/regulasi pemerintah pusat terkait reklamasi.

Tapi tetap yang salah adalah Jakarta.

Alasan lain kira-kira adalah media massa dan sumber berita, hampir semua berada di Jakarta. Sehingga semua berbau Jakarta, menjadi berita nasional.

Seperti riuh rendah Pilkada Jakarta. Banyak orang di daerah jadi ikut perdebatan padahal mereka tak punya hak pilih.

Tapi warga Jakarta sendiri sebenarnya tidak mau warga di luar Jakarta ikut-ikutan berselisih pendapat untuk urusan rumah tangga kota ini.

Lagipula, di masa sekarang, media massa tidak lagi hanya berada di Jakarta. Setiap daerah punya sendiri. Warga daerah pun punya pilihan untuk menentukan, berita apa yang mereka inginkan.

Tapi tetap yang salah adalah Jakarta.

Alasan lain yang juga sering terdengar adalah kendaraan Plat B tidak tertib kalau di daerah.

Sering terlihat kendaraan Plat B memenuhi jalanan kota-kota di luar Jakarta pada saat liburan panjang. Seperti libur lebaran.

Sebenarnya, kalau boleh ngeles, hanya mobilnya yang terdaftar di Jakarta. Sementara pengemudinya adalah warga setempat yang menetap di Jakarta dan pulang kampung saat lebaran atau liburan lain.

Dengan akses tol yang lebih banyak dan menjangkau lebih banyak kota di Pulau Jawa, maka sepertinya akan semakin mudah menemukan mobil Plat B berkeliaran di kota-kota seperti Semarang, Yogyakarta atau bahkan Surabaya.

Lagipula, kendaraan Plat B tidak hanya milik Jakarta. Warga Depok dan Bekasi, yang termasuk wilayah Jawa Barat pun menggunakan kendaraan Plat B. Begitu juga warga Tangerang, yang termasuk provinsi Banten.

Tapi tetap yang salah adalah Jakarta.

Selebriti Jakarta tidak mendidik, bahkan tidak bermoral. Kira-kira itu juga menjadi alasan kenapa orang membenci Jakarta.

Mereka bilang, para public figure itu ikut merusak moral anak muda di daerah. Kisah cinta mereka yang putus-sambungkawin-cerai, menjadi santapan sehari-hari kaum muda di hampir seluruh penjuru Nusantara.

Kelakuan mereka yang tidak jelas, banyak ditiru oleh bahkan anak-anak di kota lain. Itu mencemaskan para orang tua.

Padahal, nasib warga Jakarta lebih mengenaskan lagi. Mereka harus hidup bersama-sama dengan para tokoh publik itu. Mematikan tivi, nyaris tidak bisa untuk menghindari hal-hal tentang mereka.

Tapi tetap yang salah adalah Jakarta.

The Jakmania biang rusuh, juga dikaitkan untuk menjadi alasan membenci Jakarta.

Memang saya harus akui, beberapa oknum the Jakmania masih ugal-ugalan. Tidak tertib di jalan, bahkan sampai terlibat kerusuhan dengan kelompok suporter lain.

Tapi sekarang mereka jauh lebih tertib. Away day ke beberapa kota juga diterima dengan baik oleh suporter tuan rumah, kecuali Bandung dan Surabaya.

Bahkan kalau boleh berkata jujur, bonek yang bagian dari pendukung Persebaya Surabaya, lebih sering terlibat keonaran dibandingkan the Jakmania. Bahkan di kota selain Surabaya.

Tapi tetap yang salah adalah Jakarta.

Jakarta merusak alam daerah. Ini sebenarnya mirip dengan alasan pertama, yaitu tidak suka dengan kebijakan/regulasi pemerintah pusat. Tapi alasan yang ini lebih kepada kelakuan investor nasional yang kebanyakan berkedudukan di Jakarta.

Misalnya, alam Papua yang rusak karena penambangan oleh PT. Freeport Indonesia yang berkantor di Jakarta. Atau rencana perusakan pantai dengan reklamasi Teluk Benoa, Bali, yang konon banyak dipengaruhi oleh keberadaan Tommy Winata, pengusaha yang berkedudukan di Jakarta.

Padahal, Jakarta justru menjadi wilayah pertama yang rusak oleh investasi, dan perusakan itu masih terus berlanjut. Jangankan sawah atau padang rumput, ruang publik sebagai tempat bermainnya generasi muda Jakarta pun tidak ada.

Ahok pernah membuat beberapa RPTRA, ruang publik terpadu ramah anak, tapi itu pun tak lebih luas daripada lahan parkir mall. Cuma mirip halaman depan taman kanak-kanak di luar kota Jakarta.

Miris? Iya. Tapi tetap yang salah adalah Jakarta.

***

Jangankan anda yang di daerah, banyak warga Jakarta juga merasakan hal yang hampir sama dengan anda. Warga Jakarta tidak mendapatkan banyak keuntungan dengan status Jakarta sebagai ibukota.

Kalau ada yang bilang, Jakarta tidak pernah mati listrik, seperti di daerah. Iya, tapi kota besar lain pun juga menikmati hal yang sama, terutama di Pulau Jawa. Bandung, Surabaya, atau Semarang, juga menikmati hal yang sama.

Tapi tidak ada yang membenci Surabaya atau kota selain Jakarta, kan?

Menjadi warga Jakarta itu sulit. Ruwet di kota sendiri, tidak disukai di kota lain. Padahal nasibnya juga tak beda jauh.

Mewahnya kota Jakarta, tidak sepenuhnya bisa dinikmati oleh semua warga Jakarta. Hanya warga bergolongan ekonomi atas yang bisa menikmatinya.

Sementara yang bergolongan ekonomi menengah, hanya bisa sesekali memaksakan diri untuk dapat menikmati kemegahan Jakarta. Seperti saya, status saya sebagai warga Jakarta tidak membuat kondisi saya jauh lebih baik daripada siapa pun teman-teman saya di daerah.

Sama saja.

Warga Jakarta tidak punya pantai yang gratis. Tidak bisa mengenalkan sawah kepada anak-anaknya, karena sawah sudah punah.

Anak saya pernah ke pantai Ancol, tapi pantainya mungkin lebih mirip seperti taman pasir di sekolahan yang ada di daerah anda.

Sempit. Tidak seru.

Anak Jakarta banyak yang main bola di halaman beton. Memang masih ada lapangan rumput, tapi hampir sulit menemukannya di sekitar pemukiman, kecuali yang seuprit prit.

***

Poin saya adalah, tidak pas rasanya kalau ada orang yang membenci Jakarta dengan segala masalah yang dihadapi di kampung halamannya. Apalagi membenci warga Jakarta.

Mengacungkan jari tengah kepada Jakarta, atau kepada warga Jakarta, cuma akan menambah rasa sakit sebagian warga Jakarta. Sudah hidup susah di kota sendiri, diacungi jari tengah pula.

Mungkin yang tidak sakit hati adalah mereka yang merasakan nikmatnya Jakarta dengan bisa membayar harga yang layak (baca: mahal). Mereka mah, bodo amat.

Derita lu!

Tapi tidak banyak yang bisa seperti itu. Kebanyakan masih susah. Bisa dicek, berapa jumlah warga miskin di Jakarta. Tidak sedikit lho.

Atau lihatlah the Jakmania. Jakarta punya klub sebesar Persija, yang menjadi kebanggaan mereka. Tapi tidak bisa setiap saat bertanding di Jakarta. Stadion layak terakhir milik Jakarta, stadion Lebak Bulus, dibongkar Ahok.

Ada Gelora Bung Karno, GBK. Tapi banyak orang luar Jakarta yang protes, itu bukan milik Jakarta. Tapi aset nasional.

Persija dan the Jakmania tidak bisa seenaknya memakai GBK.

Mereka selalu kesusahan untuk mendapatkan hiburan. Tapi mereka tetap setia mendukung Persija dan mencintai kotanya. Jakarta.

Jadi tolonglah, jangan benci kotanya, apalagi warganya. Sebab kita semua sama saja sebetulnya.

Begitulah kira-kira.

Tulisan ini hanya opini pribadi, tidak mewakili suatu kelompok, golongan atau sebagian/seluruh warga Jakarta. Terinspirasi dari twit seorang public figure di Bali yang sempat membuat saya buang waktu untuk nyampah di twitter.

Kurang lebihnya saya mohon maaf.
Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2019 Agung Pushandaka