Bangsa Penonton

1 menit waktu baca

Dulu, pemimpin negeri ini mengajak rakyatnya untuk ndak cuma menjadi bangsa penonton. Bukan bangsa yang cuma menonton perkembangan dunia tanpa bisa ikut serta di dalamnya. Kenyataannya sekarang, kita masih saja cuma bisa menonton negara lain meraih kemajuan yang signifikan, sementara kita masih blum bisa keluar dari bayang-bayang masa lalu. Istilah ini kemudian meluas untuk bidang lain. Seperti dalam bidang olah raga, terutama sepakbola. Negeri ini cuma masih menonton kehebatan kesebelasan negara lain di ajang Piala Dunia tanpa bisa menyertakan diri di turnamen paling bergengsi sejagat itu. Kira-kira seperti itulah makna dari istilah bangsa penonton ini. Tapi, bukan tentang itu yang mau saya tulis kali ini. Hehe..

Saya memperhatikan, sebagian warga masyarakat meluangkan waktunya untuk menonton kehebohan di sekitarnya. Bahkan ada yang sampai menjadikannya sebagai ajang rekreasi bersama keluarga apabila kehebohan itu terjadi di luar kota. Saya ambil contoh yang menjadi latar belakang tulisan ini, kejadian yang sering terjadi belakangan ini, yaitu penggerebekan kelompok terorisme. Ndak perlu menunggu lama setelah kejadian itu disiarkan oleh tivi, warga masyarakat akan berbondong-bondong mendatangi lokasi kejadian. Iya kan?

Fenomena yang sama juga saya perhatikan kalau terjadi kecelakaan lalu lintas. Kebanyakan yang terjadi adalah kemacetan setelah kecelakaan itu terjadi justru disebabkan oleh “antusiasme” warga yang menonton tragedi itu. Pernah karena rasa penasaran yang memuncak di pikiran saya tentang para penonton itu, saya pernah mendekati sebuah kerumunan warga saat terjadi kecelakaan. Yang jadi ironi adalah, mereka berkerumun membentuk lingkatan sambil memandangi seorang perempuan yang meringis kesakitan memegangi kakinya. Para penonton cuma berdiri mematung tanpa reaksi. Cuma segelintir orang yang tergerak untuk membantu sang korban kecelakaan.

Banyak kehebohan lain yang juga mengundang para penonton untuk hadir di lokasi kejadian. Padahal, kalaupun pengen menonton dari dekat, mereka bisa melakukannya lewat layar tivi. Malah biasanya, awak stasiun tivi mempunyai akses lebih ke dalam kejadian dibandingkan warga biasa seperti mereka. Lagi pula kehadiran mereka kebanyakan justru bukan untuk membantu, tapi malah merepotkan dan bahkan mengganggu proses pengamanan lokasi dan penanggulangan bencana yang terjadi. Misalnya, petugas medis dan polisi jadi kesulitan mendekati lokasi kecelakaan karena banyaknya penonton. Kadang-kadang juga terjadi, petugas pemadam kebakaran kesulitan menjangkau lokasi kebakaran karena terhalang kerumunan penonton.

Sumpah, saya ndak mengerti, apa sebenarnya yang mereka cari di sana. Mungkin anda tau? 🙂

29 thoughts on “Bangsa Penonton”

  1. y karena yang ditonton itu kan peristiwa langka yang terjadi di sekitar mereka, apa lagi klo disyuting tivi segala,hehe,idep-idep nebeng masuk tivi 😀

  2. Realita yg ironis ditengah budaya gotong royong yg sering dibangga2kan. Semoga bisa dibenahi sikap yg hanya menonton gratis seperti itu.

  3. Ha ha ha, topik yang mas Agung angkat kali ini sangat menarik.

    Masalah serupa yang saya soroti nih ya; pada saat ada pawai pembukaan Pesta Kesenian Bali. Padahal di TV itu sudah disiarkan langsung lho. Malah lebih jelas di TV dari pada nonton sendiri. Tapi mereka-mereka ini masih ngeyel aja ingin nonton langsung.

    Saking berjejalnya penonton, sering kali ada kejadian kecopetan, anak hilang dan kecelakaan lainnya. Ck ck ck.

    Satu lagi; biasanya penonton itu cenderung lebih hebat dari pemain [yg ditonton], contohnya penonton Catur, he he he.
    .-= Tulisan terbaru budiastawa di [blognya]: Berperang dengan Makhluk Penghisap Darah =-.

    1. Thanks Bli Budi, untuk sharingnya..

      Tapi kalau menurut saya, Pesta Kesenian Bali itu memang sesuatu yang layak ditonton secara langsung oleh mereka yang ingin menyaksikannya secara langsung. Begitu juga dengan orang yang pengen menyaksikan pertandingan sepakbola di stadion, walaupun disiarkan langsung di tivi. Menurut saya itu wajar.

      Sementara yang saya maksud di tulisan kali ini, adalah menonton kejadian yang seharusnya ndak menjadi tontonan semacam itu. Begitu kira-kira menurut saya..

  4. iya.. jujur lia akui kita suka menonton…:(
    kenapa begitu ya bli..

    pergeseran telah terjadi kah ?
    jadi ingat peristiwa dekat rumah dulu.. jadi ramai waktu ada kecelakaan… gak ada yg mau nolong tunggu polisi datang…
    dan aq juga berbuat hal yang sama 🙁

  5. suatu imajinasi yang kreatif bli,memang kita sadari kita lebih banyak menonton ketimbang berbuat, ketika melihat sesuatu sudah semestinya kita merefleksikan dalam diri, untuk mengambil suatu langkah nyata demi suatu kemanusiaan atau apapun itu bentuknya,so make your life useful to others
    .-= Tulisan terbaru budiarnaya di [blognya]: Nyanyian hati =-.

  6. kayaknya saudara2 kita itu masih norak mas…biasanya kan kalo ada kejadian besar akan diliput media..plus merasa bangga kalo mereka ada ditempat kejadian..

  7. saya juga ndak ngerti mas 😀 dahulu saat daerah saya kena gempa juga malah jadi ajang tempat rekreasi dadakan…nggak semua nonton sih..ada juga yang bantu namun kebanyakan nonton 😀 jalan utama macet semua 😀 menghambat evakuasi 😀 sampai 2 minggu lebih..ya kalau nonton trus terketuk hatinya sih nggak apa-apa..kalau cma nonton mending lewat tv aja! pura-pura marah 😀 salam kenal

  8. kenapa bisa seprti itu?karena kurangnya kesadaran dari mereka.
    seandainya saja mereka dapat memposisikan diri mereka seperti orang lain, mungkin tidak akan seperti ini.. *sotoy.com* hehehe
    .-= Tulisan terbaru Caride™ di [blognya]: Konsistensi Seorang Blogger =-.

  9. malah yg lebih konyol ada pemimpin di negara antah barantah yg ingin menjadikan sebuah lokasi bencana lumpur sebagai tempat wisata….. ganti rugi aja belum jelas tapi penderitaan orang sudah mau dijadikan tontonan…. untung di negara saya gak seperti itu 😀
    .-= Tulisan terbaru firdaus di [blognya]: Ngawruh Ilmu ke Petani Organik Sungguhan =-.

    1. Dulu pernah ada sih, reporter tivi yang tanya ke para “wisatawan aneh” yang mengunjungi obyek bencana Situ Gintung. Mereka bilang pengen lihat-lihat. Aneh, orang dapat musibah kok dilihat-lihat. Sama anehnya dengan orang yang hobi nonton kecelakaan. Ndak habis pikir saya. Hehe..

    1. Tapi saya rasa beda. Mereka di luar negeri biasanya mendatangi lokasi bencana untuk menunjukkan rasa duka, seperti yang saya lihat di ground zero. Sementara yang di sini memang cuma untuk melihat-lihat layaknya mengunjungi obyek wisata.

  10. Kira-kira penerapan praktisnya gimana ya mas, biar saya tidak termasuk orang seperti itu…
    kalo ada orang kesusahan langsung bantu kali ya, ga banyak kasih nasihat..gimana?

    Salam

    1. Langsung bantu juga ndak masalah kok. Kalaupun merasa ndak mampu untuk membantu, minimal jangan menontoni orang yang sedang kesusahanlah.

      Atau, kalau ternyata sudah terlalu banyak orang yang membantu, atau sudah ada pihak-pihak yang berkompeten yang memberikan bantuan, seperti polisi dan petugas medis, ya sudahlah kita ndak perlu lagi ikut-ikutan.

      Bukannya membantu, malah jadi menyusahkan. Begitu mas.

Comments are closed.