Anjay, Gitu Aja Baper!

https://pushandaka.com
Kata anjay menjadi polemik.

Sempat jadi topik diskusi yang hangat di media sosial. Bilang anjay bisa dipidana penjara, kata ketua umum Komnas Perlindungan Anak (KPA).

Dia bilang, saya baca di tagar.id, memakai kata yang mengandung kekerasan atau bersifat merendahkan martabat manusia serta menanamkan ujaran kebencian dan persekusi, dapat dipidana lima tahun penjara.

Anjay sendiri, konon katanya, adalah plesetan dari kata anjing. Berfungsi untuk memperhalus umpatan, sama seperti anjrit, anjir, bahkan anjas.

Anjas bukan nama panggilannya mas Anjasmara suaminya mbak Dian Nitami, ya?

Apa salahnya anjing?

Menurut Ivan Lanin, pemerhati bahasa, di akun twitternya, semua kata bersifat netral, tapi persepsi manusia yang membuatnya tak netral.

Begitu juga kata anjing, monyet, kampret atau bangsat. Semuanya netral, tapi kata-kata itu bisa berbeda maknanya tergantung penggunaannya.

Coba bandingkan,

“Bu Guru itu sapi!” kata anak TK bersemangat kepada gurunya menunjuk seekor sapi di sawah.

“Bu Guru itu sapi!” kata seorang murid bercerita kepada temannya setelah dimarahi gurunya.

Apakah anjay memenuhi unsur kekerasan atau kebencian seperti yang dimaksud ketum KPA?

Bisa jadi iya, sekali lagi, tergantung persepsi orang yang mengucapkan atau mendengarkannya.

Tapi biasanya sih, kata anjay dipakai sesama teman yang sudah akrab dan saling mengerti. Sehingga seharusnya tak ada lagi persepsi yang keliru di antara mereka.

Lagipula, tidak mungkin rasanya dalam suatu rapat antar instansi pemerintah saya berkata, “Anjay, saya setuju dengan opini saudara”

Kalau dalam obrolan di pantri dengan teman yang sudah akrab, bahkan saya tak perlu memplesetkannya, “Anjing, bener juga lu”

Tapi memang penting kita membatasi berkata demikian.

Terutama bila ada orang lain atau anak-anak yang mendengarnya. Saya pernah mendengar dua pemuda bercanda di tempat umum, “Ah, ngentot lu

Hmmm…, kata-katamu menunjukkan kualitasmu, begitu kata orang.

Beda halnya kalau mereka berkata seperti itu dengan cara saling berbisik di telinga temannya. Tak masalah.

Mungkin yang dimaksud oleh ketum KPA tadi adalah untuk melindungi anak-anak kita dari kata-kata yang dipergunakan secara kurang baik.

Saya setuju.

Apalagi kalau sampai anak-anak kita menggunakan kata itu kepada orang atau dalam situasi yang tidak tepat. Misalnya kepada orang tua di rumah, guru di sekolah, orang asing yang lebih tua umurnya, dll.

Bisakah berujung penjara?

Bisa saja. Tapi saya pikir berlebihan.

Seperti dosen saya bilang di kelas, menyelesaikan perkara lewat jalur hukum hanya sedikit lebih bermartabat daripada main hakim sendiri.

Tindakan IDI yang melaporkan Ari Astina terkait kata kacung? Menurut saya berlebihan, walaupun saya tak mengerti kenapa si terlapor harus menggunakan kata itu.

Perkara tersinggung karena perkataan orang, salah mengerti dengan maksud ucapan orang, seharusnya bisa diselesaikan dengan cara damai. Tak perlu ke kantor polisi.

Anjay, gue kayak orang bener yak”

Digiprove sealDigiproved

Author: Agung Pushandaka

Selain di blog ini, silakan temui saya di blog lain yang saya kelola bersama istri saya, Rebecca, yang bercerita tentang anak kami, K, di sini: Panggil Saja: K [keI].

42 thoughts on “Anjay, Gitu Aja Baper!

  1. Kata-katamu menunjukan kualitasmu, benar banget.

    Kata-kata itu netral, persepktif kita yang membuatnya tidak. Benar banget banget.

    Tapi kalau sampai ngomong kata-kata kasar berujung penjara, rasanya terlalu berlebihan ya. Lagian nanti penjara jadi cepat penuh soalnya banyak banget orang yang sering ngomong kata-kata seperti ini kan wkwk

    1. Iya mbak Lia, kira-kira begitulah.
      Makanya supaya orang lain tidak menduga-duga kualitas kita, lebih baik kata-kata yang bersifat kurang baik itu digunakan kepada teman yang sudah mengerti siapa kita.
      Setuju mbak, nanti kalau penjara penuh dengan narapidana perkara seperti ini, koruptor yang curi uang negara kehabisan ruangan pula. Hehe.

  2. wah, lagi viral nih 😀 baru tau deh kalo anjing jadi anjas wkwkw….
    beneran ya, menurut saya agak lebay sih Luthfi. menurut saya kurang sepadan sih kata an#zai yang notabene kata slank dan merupakan ragam bahasa gaul dipermasalahkan sebagai kosakata bahasa tulis yang cenderung formal. Lagian gak ada kok ngomong ke orang tua, ke orang lain yg gak dikenal pake kata itu, yg ada malah mungkin digampar mas wkwkw

    Di jawa tengah, jawa timur saya sering dengar kata dan#cuk yang arti sebenarnya sangat kasar, tapi sering diucapkan ke sesama teman dekat, dan gak ada yg mempermasalahkan karena ini kosakata bahasa gaul, bukan bahasa resmi

    1. Iya nih bang, ada-ada saja perdebatan zaman sekarang. Hal remeh temeh begini bisa jadi trending topic dimana-mana.
      Tapi saya pikir mungkin maksudnya baik, cuma memang tanggapan banyak orang yang membuat topik ini menjadi ramai.

      Betul bang, memang ada baiknya juga anak-anak mengetahui banyak kosakata, mulai dari yang baku sampai yang nonformal atau percakapan.
      Tapi juga harus ditanamkan sejak dini kepada anak-anak kapan, dimana dan kepada siapa kata-kata tersebut boleh digunakan.

      Kalau sampai salah orang, tempat dan waktu, seperti yang abang bilang, siap-siap digampar. Hehe.

  3. anjay apaan si ahahahaha

    kalau menurutku juga sama sih seperti uda ivan lanin
    kata itu tergantung penggunaannya
    kalau orang jatim udah terbiasa dengan jancuk, jamput, dll wkwkwk
    tapi memang kalau punya anak kecil lebih baik diberikan kata-kata yang lebih baik
    cuma ya kalau terlalu dipermasalahkan kok ya berlebihan ya.
    ada banyak hal yang lebih penting untuk diurus.

    1. Nah iya mas, mungkin Komnas Perlindungan Anak ini maksudnya melindungi anak-anak dari kata-kata yang belum waktunya mereka dengar mungkin. Saya pun sebenarnya setuju, tapi bagaimana cara mencegahnya, bukan dengan membawa orang yang ngomong kata-kata itu ke penjara juga sih.

  4. Saya sempat baca berita soal kata Anjay ini mas meski nggak mengikutinya ? menurut saya terlalu berlebihan kalau sampai di penjara. Mana saya yakin pemakai kata Anjay ada jutaan orang dari hampir 300 juta warga negara Indonesia. Nggak kebayang nanti kalau penuh bagaimana ? hehehehe.

    Tapi saya pun setuju kalau kita harus lebih hati-hati dalam menggunakan kata-kata apalagi di tempat umum atau nggak sesuai tempat. Nggak mungkin lagi rapat bilang Anjay, kan ? eniho, saya sendiri nggak bilang Anjay Anjing dan mantemannya, tapi sometimes pernah bilang, “Njiiir..” hahaha *brb tobat*

    1. Njir itu kan termasuk plesetan dari kata anjing, yaitu anjir.
      Dan menurut saya tidak apa-apa ya, mbak. Selama memang kata itu digunakan di saat yang sesuai dan kepada orang yang sudah mengenal mbak.

  5. Aku juga tidak setuju dengan pemberian hukuman kepada orang yg mengucapkan kata anjay. Tak perlu dihukum, tapi diberikan kesadaran/pengertian kepada masyarakat tentang penggunaan kata (yang dianggap) kasar. Termasuk anjay. Hindari penggunaan kata-kata kasar itu jik ngobrol di depan anak-anak. Karena anak-anak sangat rentan untuk meniru apa yg dia lihat dan dengar.

    Kalau sudah akrab dengan lawan bicara dan tidak dalam kondisi resmi, penggunaan anjay bagiku tidak masalah. Kata memang netral, tergantung persepsi seseorang dlam menggunakannya.

    1. Halo mas, terima kasih sudah berkunjung.
      Setuju mas, saya sepakat dengan yang mas sampaikan. Yang penting tahu situasi dan kondisi untuk bercakap-cakap menggunakan kata-kata sejenis itu.

  6. Nggak papa mas Agung, seru juga kalau soal Anjay dibawa ke penjara. Pingin tahu mampukah kapasiatas penjara kita menampung .. hahaha

    Kadang saya pikir KPAI itu selalu cari panggung dengan seakan akan peduli pada anak, padahal saat diminta bertindak, mereka meneng ae. (Upss opini ya mas)

    Kupikir juga yang seperti ini bisa diatasi di dalam rumah, sekolah dibandingkan harus langsung berurusan dengan hukum.

    Dari sisi kemasyarakatan, penggunaan kata baru seperti ini sebenarnya tidak bisa dipandang saklek. Juga tidak seharusnya dipaksakan pandangan pemegang “kuasa” dan harus diikuti orang banyak..

    1. Siaap pak Anton. Tapi jangan sampai ke penjara dong, lha tulisan saya ini saja keywordnya anjay. Hehe.
      Sebenarnya mungkin maksudnya KPA baik ya, pak. Tapi masalah seperti ini terlalu remeh untuk diangkat, sementara masih banyak kasus kekerasan, penelantaran dan persekusi terhadap anak, yang justru sampai sekarang belum ditemukan solusi brilian.

      Mungkin KPA bisa collab dengan KPAI.

  7. wah kalau saya sih emang gak suka ngomong anjing atau anjay bli,, gimana gitu yaaa,, kok rasanya gak enak aja.. lebih enak ngomong “anjir”!! wkwkwkwk..

    tapi, saya pun sebenernya terganggu kalau ada anak kecil udah ngomong kata-kata kasar. hanya saja, kalau urusan anjay dipermasalahkan di ranah hukum menurut saya lebay. Lagian, memang, kata anjay biasanya diucapkan antara sesama teman aja dan gak ada maksud nyari ribut.. Justru kalau ribut beneran mah ngomongnya langsung “anjing”. Tapi kalau kata “anjing” diban,, lalu kata anjing apa harus diubah jadi “guguk” di kamus bahasa indonesia? 😀

    1. Sama aja atuh, anjay atau anjir, kang. Hahaha.

      Di Jakarta banyak tuh anak-anak bocah yang dalam bahasa pergaulannya menggunakan kata-kata yang mungkin agak kasar penempatannya. Misalnya temannya salah, direspon dengan kata-kata, “Ah bego lu! Gitu aja salah”
      Tapi sekali lagi, selama si temannya sudah mengerti bahwa respon seperti itu hanya bentuk “kritikan” dari teman akrabnya, saya pikir masih tidak apa-apa cuma harus dibatasi oleh orang tuanya, agar kalimat seperti itu jangan digunakan sembarangan.

  8. Halo Mas Agung!
    Baca ini dan kepincut sama tweetnya Ivan Lanin. Kece banget perspektifnya, kudu di simpan dalam-dalam ke otakku.

    Dan kalau berbicara kata anjay, aku sendiri berpendapat kalau ini berlebihan. Masih banyak hal penting yang seharusnya diurus KPA seperti pelecehan seksual yang terjadi pada anak dan KDRT yang menempatkan anak dalam keadaan sulit dan perlu dilindungi. Urgensinya berbeda, karena kalimat yang ditafsirkan manusia sebagai kalimat tidak pantas itu nggak hanya 1, ada ratusan dan tiap daerah punya ciri khas masing-masing. Terus mau dituntut satu-satu ini ceritanya? Ya g ada habisnya sih.

    1. Hai mbak Pipit. Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar.

      Iya, twitnya Ivan Lanin memang menarik dan menambah wawasan kita tentang bahasa Indonesia. Kosakata yang masih asing banyak diinformasikan di akun twitternya. Silakan difollow.

      Betul mbak, bukan berarti mengabaikan saran dari KPA tentang kata-kata yang kurang pantas tersebut, tapi memang masih banyak masalah yang lebih urgen yang mestinya dipikirkan oleh KPA dan KPAI untuk melindungi dan menjamin hak-hak anak.

  9. Saya pribadi sih, lebih memilih memakai kata anjing ketimbang anjay… 😀

    Dalam konteks apapun kata “anjing” lebih memuaskan, baik itu ketika memaki maupun menunjukkan keakraban.., tapi karena saya wong Jowo ya jarang make kata anjing selain untuk menyebut hewan anjing, biasanya saya pakai “asu”… 😀

      1. Haha..,
        Yang jelas bukan asoy juga…
        Kalau “bajingan” sih banyak versi halusnya, ada bajinguk, bajindul, bajirut, bajigur.., trus jadi jinguk, jilak, jigur dsb…
        Untuk “asu” apa ya? Saya sih curiga bahwa pisuhan “asem” itu sebenarnya versi penghalusaan dari asu.., jadi sudah bilang as.., lalu agak direm jadi as..sem.., asem ik…
        Karena asem merupakan kata yang juga sudah punya arti maka kemudian dia menjadi pisuhan yang mandiri…
        Mungkin gitu, penjelasan ngawurnya… 😀

  10. Memang seperi itulah
    Setiap kata akan mengalami reduksi pemaknaan
    Dan itu akan terus terjadi
    Jangankan kata yang awalnya dianggap kasar
    Yang kata sopan saja, kini juga mengalami penurunan makna dan pengertian
    Dulu kata Cinta kepada wanita, punya pengertian kasih sayang, menyatuni , menghormati dan merawat.
    Tapi kini kata cinta punya penyempitan makna, yaitu lebih mengarah ke nafsu.

    Saya sering ikut nimbrung ke anak remaja, kata anjay menjadi santapan kesehariannya. dan diantara mereka tak ada yang tersinggung, justru tampak bahagia menanggapinya.
    Ah saya hanya bisa menyimak fenomina berita kekinian saja.

    1. Iya om, bahasa akan terus berkembang sesuai dinamika pergaulan penggunanya. Kita juga mau tak mau harus beradaptasi kalau masuk ke dalam suatu lingkungan pergaulan yang biasa menggunakan kata-kata seperti itu.

      Kalau tidak cocok, tinggal lambaikan tangan, eh maksud saya tinggal jauhi saja tidak perlu melarang atau mengajari mereka berkata-kata yang sesuai dengan kemauan kita.

  11. Anjay, bener juga ya kang. Soal kata memang tergantung perspektif nya, jika orangnya santai maka tidak akan ada masalah, tapi kalo baper bisa jadi masalah.

    Tapi memang penting untuk menjaga kata terutama kepada orang yang lebih tua, setidaknya untuk menghormati. Tapi jika sudah akrab boleh lah sedikit santai.

  12. Setuju. Kata-kata yang dipilih dan diucapkan menunjukkan kualitasmu.
    Itu sebabnya kita terutama orangtua harus menjaga tutur kata di depan anak.
    Kata anjing, anjay artinya memang netral, tapi tergantung bagaimana digunakan. Kalau digunakan untuk memaki orang ya maka itu negatif.

  13. Wah, kalau bilang anjay sampai dihukum, kayaknya saya sudah kena hukuman ribuan tahun, Mas Agung. 😀 Soalnya saya juga sering ngomong aliasnya anjay kalau lagi nongkrong sama kawan-kawan akrab. Nongkrong tanpa ngeluarin penghuni kebon binatang rasanya kayak ada yang kurang. 😀 Dan rasanya jadi kayak berjarak gitu sama kawan-kawan.

    1. Iya, seperti ada yang hilang kalau ngobrol dengan teman dekat tanpa ada penekanan yang menggunakan nama-nama hewan atau kata-kata lain yang sebenarnya tidak masuk dalam konteks. Haha.

  14. Memang berlebihan banget kalo gitu aja dipidanain. Lagi pula, sekali lagi kan ini soal persepsi. Yang ngomong belum tentu maksudnya demikian.

    Saya yakin, beberapa orang yang menyebut kata Anjay bahkan ngga ada hubungannya dengan anjing.
    Apa lagi kata Anjir, itu kan nama kampung halaman suami saya. Bahkan salah satu teman saya menambahkan kata Al-Anjiry di belakang namanya.

    1. Halo, terima kasih ya sudah berkunjung.
      Saya baru tahu kalau ada daerah bernama Anjir. Di mana itu, mbak?

      Betul mbak, permasalahan berkata-kata tidak seharusnya dibawa ke ranah pidana. Itu bisa diselesaikan melalui musyawarah, ditanya dulu apa maksud perkataan orang kepada kita.

  15. Ha..ha..ngakak saya pas di bagian rapat?
    Untungnya di kampung jarang orang ngomong behitu, karena emang nggak biasa sih. Palingan sebagai gantinya misuh-misuh.
    Jadi inget suatu hari saya pergi sama temen saya beli geprek dan kami ngobrol-ngobrol, entah sejak kapan dia kalau ngomong banyakan anjirnya. Hampir semua perkataan yang keluar dari mulutnya ada anjirnya. Saya sampai bertanya-tanya apa dia dari jakarta atau kebanyakan nonton drama di sosmed, padahal setahu saya dia sukanya nonton drakor?

    1. Haha,, saya merasa lucu membayangkan teman kamu yang ngomongnya ada anjir. Kalau di drakor jelas tidak ada anjir ya, yang ada annyeong.

      Lalu tertular dari siapa dia pakai kata anjir ya?

  16. Kayaknya sih tergantung kita ngomong sama siapa dulu. Kalo sama anak kecil gak mungkin kan ngomong seperti ini. Apalagi sama orang yang baru kenal. Kalau misalkan sama teman yag sudah lama bersama-sama, mungkin kata anjing, anjay ini tidak berlaku dan tidk akan membuat mereka tersinggung, karena jika dalam circle pertemanan ini bisa dibilnag bahasa tongkrongan. Yang paling penting, lihat-lihat dulu aja ngomongnya sama siapa.

  17. hmm aja, kalau berdasarkan persepsi pribadi yang lagi gak enak hati, bisa membuat tersinggung atau perbuatan yang tidak menyenangkan. bisa pidana juga dong. lucu, lucu lucu, kayak yang kurang permasalahan aja di negeri ini tuh

    1. Iya mas, makanya memang persepsi orang akan menentukan makna sebuah ucapan.
      Bahkan sesama teman pun, meskipun sudah sangat akrab, saat sedang tidak mood bercanda, bisa saja “umpatan kasih sayang” menjadi bumerang.
      Cuma masalahnya, kalaupun memang kita sakit hati, atau tersinggung, sebaiknya tidak buru-buru membawa isu tersebut ke ranah hukum. Selesaikan saja dengan menyampaikan keberatan kita, diharapkan si pengucap akan minta maaf.

      Kecuali memang si pengucap berniat menghina, dia tak akan minta maaf tapi akan semakin menegaskan ucapannya tersebut. Barulah kita selesaikan secara hukum.

Comments are closed.