“Main di Luar, Sana!”

Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana kencangnya teriakan Ibu saya bila melihat saya sekarang yang sering menghabiskan waktu di dalam kamar, berhadapan dengan tivi, laptop atau handphone.

“Main ke luar, sana!” mungkin begitulah pekiknya. Continue reading ““Main di Luar, Sana!””

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2016-2017 Agung Pushandaka

Related Post

PS. Bali Ngipi

Melihat gegap gempitanya dukungan suporter Bali United Pusam pada turnamen sepakbola Piala Bhayangkara, saya teringat bagaimana suasana dukungan masyarakat Denpasar dan sekitarnya di stadion Ngurah Rai saat PS. Gelora Dewata menghadapi lawannya. Sekian tahun perjalanan sepakbola Bali yang saya tau, sejak jaman Gelora Dewata sampai dengan sekarang, Bali (pernah) memiliki beberapa pemain sepakbola yang diakui secara nasional, baik yang bermain di klub asal Bali maupun klub di luar Bali. Saya pun kemudian berkhayal, dari sekian nama beken pemain sepakbola yang pernah mengharumkan nama Bali, berada pada periode waktu yang sama, dengan kemampuan terbaik yang dimiliki seperti masa jayanya, akan terbentuk suatu tim yang kuat.

Kenapa Bali? Pertama, karena saya adalah warga Jakarta yang lahir dan tumbuh besar di Denpasar. Bagaimana pun, tetap ada rasa senang saat melihat seorang anak Bali yang memiliki prestasi di skala nasional. Kedua, karena selama ini Bali lebih dikenal sebagai pusatnya seni dan budaya. Sepakbola bukan sesuatu hal yang mengakar kuat sebagai tradisi di Bali. Berbeda dengan Jawa, yang fasilitas pembinaannya mungkin paling komplit, atau Papua yang secara alamiah selalu melahirkan pemain sepakbola berbakat, tentu ndak sulit untuk mencari pemain-pemain terbaiknya di setiap masa. Continue reading “PS. Bali Ngipi”

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2016 Agung Pushandaka

Related Post

Wisata Syariah: Kenapa Ditolak?

Belakangan, ribut-ribut tentang rencana pengembangan wisata syariah di Bali saya baca di mana-mana. Hampir seluruh masyarakat Bali menolak rencana tersebut. Ndak cuma warga Bali yang mayoritas Hindu, bahkan sebagian warga Bali yang beragama Islam pun turut menyampaikan penolakannya. Gubernur Bali yang selama ini berseberangan dengan mayoritas warganya dalam kasus reklamasi Tanjung Benoa, kali ini berada di pihak yang sama dengan ikut menolak rencana tersebut yang dibilang akan berpotensi menimbulkan keributan. Tapi kenapa topik wisata syariah ini sebegitu kerasnya ditolak di Bali?

Warga Bali seperti ndak mempermasalahkan saat Kuta menjadi “tidak berbudaya Bali” dengan menyediakan diskotik, cafe atau dengan membiarkan kesucian pantai “dikotori” oleh tubuh setengah telanjang para wisatawan yang “bergelimpangan” di sana? Warga Bali membiarkan wisatawan berkulit putih berciuman, bermesraan di tempat umum, sekalipun saya yakin, itu juga bukan kebiasaan dan budaya Bali. Warga Bali jadi akurapopo saat Kuta dijuluki Desa Internasional, tapi jadi gerah saat ada yang ingin membuat Desa Syariah. Pertanyaannya kemudian, kenapa saat ada wisatawan dari golongan lain membutuhkan pelayanan yang berbeda di Bali, warga Bali menolak dengan dalih ndak sesuai dengan budaya lokal? Padahal negara tujuan wisata yang merupakan kompetitor Bali sudah membangun wisata syariah, sebut saja Singapura, Thailand bahkan Jepang. Continue reading “Wisata Syariah: Kenapa Ditolak?”

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2015 Agung Pushandaka

Related Post

Kenapa Kuta Murah?

Saya sempat membaca di akun twitter Balebengong yang pada intinya mengabarkan bahwa ada keresahan penduduk Kuta tentang keadaan desa mereka. Di sana disebutkan ada 7 butir tuntutan yang dibacakan oleh salah seorang pemuda lokal di hadapan Gubernur Bali. Dari 7 tuntuan tersebut, saya tertarik pada butir ke-4.  Pokok dari butir ke-4 adalah adanya filter terhadap wisatawan yang hadir, agar Kuta ndak nampak murahan. Sulit! Tentu saja sulit untuk membuat batasan siapa saja yang boleh datang ke Kuta. Apakah orang yang datang ke Kuta harus punya banyak uang? Kalau begitu, mungkin warga Kuta lebih senang Djoko Susilo yang datang untuk menghabiskan miliaran uang hasil korupsinya. Atau wisatawan yang datang ke Kuta adalah mereka yang lulusan S2 atau Master? Ini bukan salah orang yang datang, tapi salah Kuta sendiri sehingga Kuta jadi terkesan ‘murah’ di mata wisatawan.

Continue reading “Kenapa Kuta Murah?”

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2013 Agung Pushandaka

Related Post

Contoh Dari SBY

Gunung Merapi blum berhenti menunjukkan kebesarannya. Korban berjatuhan, yang beberapa di antaranya disebabkan oleh keengganan mereka meninggalkan rumah. Mereka beralasan, ndak pengen meninggalkan rumah dan terutama sawah dan ternak mereka yang selama ini menjadi sumber penghidupan. Akhirnya, walaupun terlambat, SBY memerintahkan agar Gubernur Jogja dan Jateng untuk membeli hewan ternak para pengungsi dengan harga yang pantas. Pemerintah pusat menyediakan dana 100 M untuk itu. Walaupun sederhana, tapi keputusan ini saya rasa bisa mengurangi beban pikiran para korban sehingga mereka ndak tambah stres.

Continue reading “Contoh Dari SBY”

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2016 Agung Pushandaka

Related Post