Kamu Mau Jujur?

Siang itu saya duduk berhadapan dengan seorang laki-laki warga negara Amerika Serikat dan seorang perempuan pribumi. Mereka menatap ke arah saya dengan pandangan yang mungkin meremehkan. Sebelumnya saya bilang ke mereka bahwa saya ingin melakukan semua bisnis dan usaha saya dengan jujur dan sesuai hukum. Ndak cukup dengan itu, saya mengritik cara mereka menjalankan bisnis yang mereka geluti. Ndak lama kemudian, salah satu dari mereka mulai menanggapi perkataan saya. Setelah itu, beberapa saat kemudian, mereka berdua secara bergiliran berusaha “mengajak” saya..

Related Post

Mereka Bukan Anti Amerika!

Setelah menonton Today’s Dialogue, Selasa (9/2) lalu, saya jadi memikirkan pendapat seorang pembicara bahwa aksi terorisme di Indonesia adalah bentuk perlawanan terhadap kesombongan Amerika Serikat (AS). Tapi saya kok ndak yakin bahwa mereka, anggota jaringan terorisme, “berjuang” untuk melawan kekuasaan AS dan sekutu-sekutunya. Kalau memang iya, kenapa beraksi di sini, di Indonesia? Indonesia bukan AS, walaupun saya ndak bisa membantah bahwa kekuasaan AS ikut mempengaruhi kebijakan pemerintah dalam mengelola negara ini. Tapi, saya merasa cuma sedikit banget kerugian yang dirasakan AS akibat aksi-aksi mereka. Kerugian terbesar jelas dirasakan oleh pemerintah dan rakyat negeri ini, kecuali mereka tentu saja. Dari hal ini saya semakin yakin bahwa mereka bukan anti Amerika.

Related Post

Mengenal Lambang Negara

Heboh kaos bermerk Giorgio Armani sepekan lalu, membuat saya penasaran untuk membuka Undang-Undang (UU) tentang lambang negara kita, Garuda Pancasila. Trus, saya akan coba kaitkan UU itu dengan kasus Garuda Armani.

Garuda Pancasila, menurut wikipedia, dirancang oleh Sultan Hamid II dari Pontianak. Waktu itu, beliau adalah Menteri Negara Zonder Porto Folio Republik Indonesia Serikat. Beliau memimpin sebuah panitia perancang lambang negara yang beranggotakan M. Yamin, K. H. Dewantoro, M. A. Pellaupessy, M. Natsir, R. M. Ngabehi Purbatjaraka. Melalui proses sayembara, terpilih 2 finalis lambang karya Sultan Hamid dan M. Yamin. Tapi, karena karya M. Yamin mengandung gambar sinar matahari yang dianggap menunjukkan pengaruh Jepang, maka karya Sultan Hamid yang kemudian diterima oleh pemerintah dan DPR sebagai “pemenang”.

Related Post