Berdebat yang Baik dan Benar

Sekedar mengisi hari Minggu yang luang, saya lihat-lihat file berita di website Metro TV. Ada satu berita yang menarik untuk saya, yaitu berita tentang kericuhan rapat kerja antara Komisi III DPR dengan LSM anti korupsi, Kompak. Sebenarnya ini berita sudah agak basi, tapi saya blum pernah lihat kejadiannya. Saya cuma pernah lihat talkshow tentang itu di TVone.

Cuma sayangnya, dalam talkshow di TVone itu ndak ada yang namanya berbincang-bincang. Wakil dari Kompak, berbicara terus, sementara di sisi lain dia meminta pendapat anggota parlemen yang hadir tentang kasus Chandra-Bibit. Yang anehnya, berkali-kali wakil Kompak itu bilang, “Perbedaan pendapat itu hal lumrah dalam sebuah diskusi/debat”. Saya setuju itu, tapi yang saya kurang setuju adalah cara menyampaikan pendapat itu sendiri.

Related Post

Sang Bintang

Beberapa hari yang lalu, dalam sebuah tayangan tivi, seorang anggota parlemen diwawancarai oleh seorang reporter mengenai pelantikan presiden dan wakil presiden di gedung dewan. Sang legislator pun berusaha menjawab dengan nada bicara yang elegan walaupun jelas banget dibuat-buat. Ndak tertarik dengan komentarnya yang standar dan umum banget, saya pun mematikan tivi.

Related Post

Perang di Layar Kaca

Ikut menyimak bursa pertarungan ketua umum partai golkar belakangan ini? Di sana ada ‘orang-orang besar’ yang memperebutkan kursi tertinggi di partai beringin itu selepas lengsernya jusuf kalla. Mereka antara lain, surya paloh, aburizal bakrie, dan hutomo mandala putra. Ketiga calon itu dilengkapi oleh underdog, yuddy chrisnandi. Yah, yang namanya politikus, ndak jelas siapa yang bisa dipegang omongannya. Masing-masing calon mengklaim memperoleh dukungan di atas 50% dari total suara pemilih. Untuk masalah itu, saya sih akan menunggu saja hasil pemilihannya nanti.

Related Post