Memperlakukan Uang

2 menit waktu baca

Saya teringat kejadian di suatu malam. Saat itu saya menerima uang kembalian dari seorang kasir di sebuah jasa loundry.

Petugas kasir menyerahkan 2 lembar uang 10.000, 2 lembar uang 1000, dan sekeping uang 500. Saat saya merapikan uang-uang itu sebelum saya masukkan ke dalam dompet, saya terenyuh melihat kondisi salah satu uang 1000 tadi.

Kusam, kucel, gambarnya tidak jelas, warnanya buram, dan kertasnya pun sudah lusuh banget. Sebenarnya ini bukan pengalaman pertama kali. Tapi kali ini saya ingin berbagi di sini.

Saya pun jadi bertanya-tanya, sebenarnya uang ini palsu atau asli?

Kalau asli, uangnya diapakan saja sih, sampai bentuknya bisa seperti ini?

Kalau ternyata palsu, apa yang harus saya lakukan?

Uang kita dibuat sedemikian rupa oleh Perusahaan Uang Republik Indonesia. Mulai dari bahan, gambar, pengaman, dsb., tidak asal-asalan saja dibuatnya.

Uang rusak seperti itu cuma akan merugikan negara. Kenapa? Karena Bank Indonesia akan memusnahkan setiap uang yang rusak dan membuat lagi uang yang baru.

Apalagi pembuatan uang bukan hal yang murah dan gampang. Maka, sudah seharusnya kita memperlakukan uang dengan hati-hati dan penuh penghormatan.

100000

Menurut saya, ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk menghormati uang:

1. Perlakukan uang sebagai kertas berharga, bukan tisu bekas. Misalnya, sebelum menyimpannya di dalam dompet atau saku, kalau anda memang harus melipat uang itu, lipatlah dengan baik.

Cukup dilipat sekali saja, tidak usah berkali-kali seperti Deddy Corbuzier saat melakukan aksinya.

Kalau perlu sebisa mungkin uang itu jangan dilipat, seperti ibu kita yang menyimpan uangnya di dompet panjang.

2. Tidak usah terburu-buru saat anda berada di kasir. Terimalah uang dengan tenang dan senyum ramah.

Perhatikan uang dengan seksama, untuk memastikan tidak ada uang yang rusak. Kalau perlu, anda dapat meminta petugas kasir untuk menerawangi uang yang akan anda terima dengan alat yang mereka punya di depan mata anda.

3. Tolaklah dengan sopan kalau anda menerima uang yang sudah rusak. Uang rusak gampang dikenali karena secara fisik memang lebih mirip kain pel.

Misalnya uang disatukan dengan plester setelah robek. Lebih baik ditolak saja daripada anda yang rugi.

Tapi bagaimana kalau anda sudah terlanjur menerima uang yang rusak. Anda bisa menukarkan uang rusak itu ke Bank Indonesia untuk mendapatkan uang baru.

Kerusakan tidak melulu disebabkan oleh perlakuan orang, tapi juga dapat karena kesalahan cetak. Apa syarat yang harus dipenuhi untuk melakukan penukaran uang di Bank Indonesia? Silahkan lihat di sini.

Lalu kalau yang anda terima ternyata uang palsu, bagaimana?

1. Kembalikan uang itu kepada si pemberi dan mintalah agar si pemberi mengganti uang yang dia berikan. Lakukan saja dengan sopan.

Kalau si pemberi malah marah, lebih baik mundur saja, apalagi kalau orang itu badannya sebesar robocop.

2. Daripada berkelahi dengan si pemberi, bawalah uang itu ke Bank Indonesia atau bank umum lainnya.

Kalau anda menerima uang dalam jumlah banyak, dan sialnya, uang itu palsu semua, laporkan saja ke polisi.

Uang rusak atau palsu rentan kita terima dari transaksi “kecil”. Misalnya dengan pedagang asongan atau tukang parkir terutama pada malam hari.

Untuk itu ada 1 saran saya, siapkanlah uang pas kalau anda merasa ada kemungkinan akan bertransaksi semacam itu.

Jangan sampai anda menyerahkan uang 10.000 untuk membayar parkir senilai 1000 rupiah.

Atau bayar saja tarif parkir dengan uang rusak yang pernah anda terima. Biasanya tukang parkir tidak mempermasalahkan hal itu. Hihi!

Sejujurnya, saya jarang bisa berlaku seperti poin-poin yang saya sarankan di atas.

Tapi setelah saya pikir-pikir, saya juga yang akan rugi kalau saya tidak memperlakukan uang dengan baik.

Saya tidak akan bisa berbuat apa-apa saat orang lain menolak pembayaran yang saya lakukan dengan alasan uang saya rusak atau bahkan palsu.

Jadi, selama kita semua masih membutuhkan uang, maka perlakukan uang itu sebaik-baiknya.

Hiduplah Uang Republik Indonesia!

In Rupiah we trust!

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2017 Agung Pushandaka

Related Post

20 thoughts on “Memperlakukan Uang”

  1. percaya atau tidak saya termasuk orang yang cukup rapi dalam urusan menyimpan uang di dompet, biasanya saya simpan dengan terurut dan disusun sedemikian rupa. Tapi kalau di depan kasir yang antriannya panjang ya terpaksa uang kembalian disimpan begitu saja, sampai di rumah dirapikan lagi, hehe
    .-= wira´s last blog ..Cang Kemu =-.

  2. hehehe…saya termasuk orang yang kurang rapi dalam urusan menyimpan uang…apalagi uang seribuan…

    ehm…kalau uang seratusan ribu langsung saya simpan dengan sangat rapi..

  3. Kadang klo kita belanja trs dikasih uang yg agak lecek dan kita tolak, orangnya pasti cemberut. Bahkan lalu bs menjawab bilang gak ada lagi yg lain. Padahal seharusnya memang begitu kan, selalu gunakan uang yang bagus, baik pembeli maupun penjual.
    Klo uang2 jelek saya gak pernah mau tarok dompet. Buat dompet jadi bau :D

    pushandaka Reply:

    Betul. Giliran kita yang bayar pakai uang lecek, mereka tolak. Egois! Hihi..

  4. Sering juga menemui hal itu, tidak hanya uang kertas, tapi juga koin, meskipun nilainya kecil Rp 50, Rp 100 terbuang di jalan/selokan. Kalau dikumpul2, kan bisa jadi banyak. Masak hanya menghargai uang yang memiliki nilai nominal yang besar?

    pushandaka Reply:

    Karena di tulisan ini saya lebih fokus bagaimana supaya kita terhindar dari uang rusak dan palsu, maka saya lebih memperhatikan uang kertas dibandingkan uang koin. Karena yang rusak dan palsu selama ini lebih banyak berupa uang kertas.

  5. apakah sudah ada hukum yang mengatur tentang pidana terhadap orang yang merobek2? uang seratus ribu ?
    mohon informasinya bagi teman2 yang mengetahui dan uu no berapa ?

    pushandaka Reply:

    Sejauh ini yang saya tau, blum ada hukuman pidana untuk perbuatan merobek-robek uang. Tapi dalam KUHP diatur mengenai perbuatan “merusak uang”. Mungkin perbuatan yang anda maksud termasuk di dalam perbuatan merusak uang tersebut.

Comments are closed.