Perang di Layar Kaca

2 menit waktu baca

Ikut menyimak bursa pertarungan ketua umum partai golkar belakangan ini? Di sana ada ‘orang-orang besar’ yang memperebutkan kursi tertinggi di partai beringin itu selepas lengsernya jusuf kalla. Mereka antara lain, surya paloh, aburizal bakrie, dan hutomo mandala putra. Ketiga calon itu dilengkapi oleh underdog, yuddy chrisnandi. Yah, yang namanya politikus, ndak jelas siapa yang bisa dipegang omongannya. Masing-masing calon mengklaim memperoleh dukungan di atas 50% dari total suara pemilih. Untuk masalah itu, saya sih akan menunggu saja hasil pemilihannya nanti.

Tapi yang menarik buat saya adalah, bahwa semua calon memanfaatkan betul aset yang dimiliki sebagai kendaraan politiknya. Khususnya untuk paloh dan bakrie yang melibatkan 2 stasiun tivi terkemuka di Indonesia. Paloh dengan metro dan bakrie dengan antv-nya. Kebetulan, paloh adalah presiden komisaris metro tivi, sementara grup bakrie adalah pemilik antv.

Nah, jadilah kedua tivi berusaha menayangkan program-program yang berbau dukungan kepada jagoannya masing-masing. Seperti antv yang membuat program khusus untuk bakrie. Metro memang ndak segarang antv dalam mendukung jagoannya, tapi dalam tayangan berita, tetap saja terlihat keberpihakan tivi berita ini kepada paloh.

Saya sih ndak mempermasalahkan itu. Saya sejak lama sudah menyadari bahwa tivi dan/atau media lainnya ndak akan pernah obyektif. Bahkan, bisa dibilang bahwa tivi adalah sebuah media yang paling efektif sebagai alat propaganda.  Ratusan juta orang menonton tivi di seluruh dunia. Di Indonesia, tivi rasanya masih lebih dinikmati orang daripada internet.

pro·pa·gan·da n 1 penerangan (paham, pendapat, dsb) yg benar atau salah yg dikembangkan dng tujuan meyakinkan orang agar menganut suatu aliran, sikap, atau arah tindakan tertentu: — biasanya disertai dng janji yg muluk-muluk; 2 cak reklame (spt menawarkan obat, barang dagangan, dsb): perusahaan itu giat melakukan — produknya;

Sekarang kita sebut saja tvri sebagai contoh. Bagaimana pun, tvri ndak akan bisa lepas begitu saja dari kepentingan pemerintah. Melalui tvri, pemerintah bisa setiap saat menyiarkan segala keberhasilan program mereka. Menyiarkan kegagalan? Hmm..yang ini belakangan sajalah. Hehe! Hal ini sudah terlihat jelas sejak masa orde baru. Pemerintahan waktu itu memanfaatkan betul keberadaan tvri di tengah-tengah masyarakat. Sayangnya, peran tvri untuk pemerintah semakin berkurang karena stasiun ini mulai ditinggal penontonnya.

Begitu juga dengan perseteruan dua tivi ini. Keduanya juga berlomba-lomba memberikan dukungan dan peran sentral kepada bosnya. Kedua calon tampak seperti manusia tanpa cela di layar kacanya masing-masing. Ya, ndak apa-apa sih. Kalau semua kebaikan itu memang benar adanya, saya rasa ndak ada salahnya untuk diketahui publik walaupun rasanya kok ndak etis ya. Hehe!

Bagaimana dengan hutomo mandala putra alias tommy suharto? Sebenarnya dia pun punya akses di tpi yang dipimpin oleh keponakannya, dandy nugroho. Tapi, berhubung saya jarang banget menyimak tpi, termasuk siaran beritanya, saya ndak tau seberapa besar dukungan tpi kepada tommy. Kalau dilihat dari kekompakan keluarga cendana sih, saya yakin tpi ndak akan membiarkan tommy berjuang sendirian.

Yah, ndak apa-apalah. Menurut saya pribadi, hal itu ndak jadi masalah. Kalau saya punya stasiun tivi pun, pasti saya akan melakukan hal yang sama. Minimal, saya akan menayangkan program acara yang menjadi favorit saya. “Tivi kita yang punya kok, suka-suka kita mau apa” kira-kira seperti itulah kasarnya.

Tapi, saya harap stasiun tivi lain yang “ndak berkepentingan” mampu berdiri di tengah. Sehingga masyarakat luas bisa mendapat informasi yang lebih adil terutama untuk berita-berita politik seperti ini yang seringkali membingungkan orang awam seperti saya dan mungkin sebagian besar masyarakat kita. Di situasi negara yang carut-marut seperti ini, saya sih sebenarnya lebih berharap tivi bisa menjadi alat pendidikan dan pemersatu bangsa, selain sebagai media hiburan yang bermutu tentu saja, di atas segala kepentingan pribadi maupun kelompok.

Susah memang. Tapi, selama saya blum punya stasiun tivi sendiri, saya cuma bisa berharap dari tivi-tivi yang sudah ada..

Related Post

13 thoughts on “Perang di Layar Kaca”

  1. Saya nggak percaya tivi. Kalo orang-orang itu mulai kampanye di tivi, saya langsung ganti channel. Menurut saya, tidak keliatan kapasitas intelektual seseorang kalau belum nulis di media massa.

    pushandaka Reply:

    Kalau perlu nulis di blog ya, biar kita bisa mengomentarinya secara langsung..

  2. wah omongannya berat, udah ke politik. Persiapan kalo jadi mantu pejabat yaks gung? hehehe.

    pushandaka Reply:

    Sekali lagi, ini cuma tentang tivi dan program acaranya sob..

  3. memang begitu, gung. aku juga neg ngeliatnya. tv sebagai lembaga penyiaran publik ternyata sudah bener2 jd corong para pemiliknya: ical dan surya paloh.

    untung tidak perlu bayar seperti media lokal. :D
    .-= a!´s last blog ..Dunia Tanpa Kemiskinan Bukanlah Impian =-.

    pushandaka Reply:

    Menurut yang kubaca di majalan tempo dengan judul yang nyaris sama dengan judulku ini, tivi-tivi itu sudah disurati oleh kpi untuk ulahnya itu.

Comments are closed.