“Dongkraknya, Pak!”

1 menit waktu baca

Suatu siang di sekitaran Renon, Denpasar, saya mengendarai sepeda motor saya dengan perlahan.

“Dongkraknya, Pak!” tiba-tiba teriakan seorang ibu muda kepada seorang laki-laki mengagetkan saya.

Secara spontan yang diteriaki memperhatikan bagian bawah sepeda motornya. Setelah itu, ia melambaikan tangan sebagai tanda ucapan terima kasih karena sudah diingatkan bahwa “dongkraknya” belum diangkat.

Seketika saya jadi teringat perbincangan saya dengan beberapa teman di Jogja. Kenapa disebut dongkrak?

Anda tahu apa yang dimaksud dengan “dongkrak” oleh si ibu tadi?

Saya tidak tau apa sebutannya di daerah anda, tapi di Bali, dongkrak adalah sebutan umum untuk kaki sepeda motor.

Kenapa dongkrak? Itulah yang jadi bahan perdebatan saya dan teman-teman saat di Jogja.

Menurut seorang teman, bagian bawah sepeda motor itu disebut dongkrak karena fungsinya. Tepatkah?

Saya rasa kurang tepat. Menurut saya, dongkrak fungsinya untuk mengangkat. Sementara kaki sepeda motor bukan untuk mengangkat, hanya membuatnya berdiri.

Beda di Denpasar, berbeda pula di Jogja sendiri. Di kota ini, sebutan untuk kaki sepeda motor yaitu “standar”.

Setahu saya, arti kata “standar” adalah ukuran atau patokan dasar, yang berasal dari kata “standard“. Namun ternyata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring, kata standar berarti “alat penopang yang berkaki (untuk menyangga sepeda)”.

Lalu dari mana asal kata “standar” untuk kaki sepeda/sepeda motor ini?

Saya menduga kata “standar” ini terpeleset dari kata “stander” yang artinya “yang memberdirikan”.

Kalau saya lihat di internet, sebutan untuk kaki sepeda motor adalah “kickstand foot“. Tapi mungkin, untuk memudahkan penyebutannya disingkat menjadi “stander“.

Nah, mungkin oleh orang Indonesia tempo dulu, terdengar sebagai “standar”. Jadilah kata “standar” dipakai untuk menyebut kaki sepeda motor.

Sekali lagi, ini cuma dugaan saya saja.

Kembali ke kata “dongkrak”, karena kata itu sudah diterima secara umum oleh masyarakat (Denpasar dan Bali pada umumnya), maka menjadi benar.

Maka sebelum anda mengendarai sepeda motor di Bali, pastikan bahwa dongkraknya sudah anda naikkan.

Dongkrak Sepeda Motor
Dongkrak Sepeda Motor
Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2017 Agung Pushandaka

Related Post

12 thoughts on ““Dongkraknya, Pak!””

  1. hahaha…jadi inget pernah godain seorang cewek…

    “Dongkraknya, Gek!!”

    padahal dia naik vario tapi cewek itu tetep aja noleh ke bawah, tau kan Vario kalau dongkraknya turun motor ga bisa hidup….hehehe

    Hehe! Kalau godain cewek di jalan harus hati-hati juga, ka. Takutnya cewek itu kagetan, malah jadi berabe.

  2. Itu kan basa Bali, basa spare parts nya Stand Comp main (untuk yang doubel) sedan yang sering di ingatkan orang namanya (samping) Side Stand. Prilaku ini mungkin cuma sekedar solidaritas antar sesama penguna jalan agar sama-sama selamat sampai tujuan :lol:

    “Dongkrak” bukan bahasa bali asli. Setau saya ndak ada kosakata “dongkrak” dalam kamus bahasa bali. Hehe! Tapi “dongkrak” kemudian menjadi kata/istilah yang sudah diakui secara umum oleh masyarakat bali.

  3. Kalo dulu kita di Biak bilangnya “standar”.
    Orang Medan bilangnya “cagak.”
    Baru denger ada yg sebut dengan dongkrak…

    Kalau “cagak” arti sebenarnya apa, mbak?

  4. ngakak baca komennya ekabelog..

    jadi teringat cerita seorang anak pemilik bengkel honda yang cukup besar di daerah saya, ketika pergi ke warung tak jauh dari rumah di naik motor vario dan pulangnya dia bingung karena motornya nggak bisa hidup, dia bahkan akhirnya menuntun motornya sambil jalan kaki sampai kembali ke bengkel ayahnya, ternyata penyebabnya adalah “dongkrak” yang belum dinaikkan, hahahaha…. memalukan!!!

    Persis pengalaman teman kos saya di jogja. Pakai sok ngerti mesin segala, padahal masalahnya cuma di “dongkrak” yang blum diangkat. Seminggu jadi bahan ketawaan di kos.

    .-= wira´s last blog ..MU Di Puncak Klasemen Liga Inggris =-.

  5. Kalau di Desa saya, sepertinya yang saya tahu bukan “dongkrak”, tapi “jongkrak”

    Hehe, ade-ade gen. Tapi inilah bukti bahwa Indonesia adalah bangsa yang sangat plural.

  6. aku juga bilang dongkrak. Di Bali, kan sangat mudah menyerap istilah begitu saja, ndak penting benar ato ndak. Misalnya, nyebut semua jenis motor dengan “honda”. Nyebut semua nomor pelat motor dengan “DK”, dll

    Malah ndak ngerti, knapa dongkrak pada vario bisa bikin mesin mati ya. Gak gaul

    Hehe, betul.
    Btw, untuk menjawab ketidak mengertianmu tentang dongkrak vario, silahkan tanya ke bengkel resminya kenapa kok dongkrang turun, motor ndak nyala.

  7. hal yang sama juga aku alami waktu aku di bali, ada mas-mas teriak “dongkraknya gek!” sampe 4 kali tapi tetep aja aku ga aku perhatiin. Aku pikir dia mau ngerampok.
    Dasar ga nyambung…. setelah aku tau “standar” motorku itu (sebutan di jawa yang biasa kupakai) bikin motorku ga imbang, aku langsung tau artinya dongkrak.
    Dasar Lola! :D

    Memangnya kapan kamu pertama kali di bali?

    .-= putriastiti´s last blog ..Kuta Karnival 2009 =-.

Comments are closed.