Menculik Miyabi, Seni atau Sensasi?

2 menit waktu baca

Sebenarnya, gosip tentang kedatangan Maria Ozawa, alias Miyabi, ke Indonesia sudah saya dengar sejak seminggu lalu. Tapi, waktu saya baca beritanya di The Jakarta Post edisi Sabtu, 19 September kemarin, saya terkejut juga. Ini serius? Soalnya saya kira itu cuma mimpinya siapa tuh, Raditya Dika ya, yang blognya diangkat menjadi sebuah film. Tapi kalau ini memang serius, yang jadi pertanyaan saya kemudian, apa film ini memang sebuah ekspresi seni atau cuma sekedar sensasi untuk popularitas saja?

Saya memang akui film lokal kita mulai bergeliat dari tidurnya. Banyak sineas muda yang berlomba-lomba menunjukkan kualitas dan kemampuan seninya. Tapi mohon maaf (mumpung lebaran), saya juga harus jujur, bahwa lebih banyak film yang dibuat asal-asalan saja. Kasarnya, film-film itu sekedar dibuat, atau ‘yang penting bikin film’. Lihat saja film-film bertema sex, komedi, atau horor yang pernah dibuat. Kebanyakan film-film itu cuma mengandalkan kemolekan tubuh bintang utamanya, atau cerita yang cuma berkisar di sekitar tempat tidur.

Lalu bagaimana dengan film Menculik Miyabi ini? Kalau melihat dari kualitas film sebelumnya yang berjudul Kambing Jantan, saya ndak menemukan sesuatu yang istimewa dari Raditya Dika sebagai penulis naskah. Filmnya memang lucu, tapi menurut saya masih film komedi biasa karena skenarionya berasal dari seseorang yang memang bukan penulis skenario profesional. Sekarang si penulis skenario memasukkan tokoh Miyabi ke dalam ceritanya. Saya kok merasa, film ini ndak akan lebih dari film-film komedi ngeres lainnya seperti Kawin Kontrak, Buruan Cium Gue, Suami-Suami Takut Istri The Movie, dan film-film sejenisnya yang jelas seberapa tinggi level mutunya.

Saya malah lebih takut, kalau rumah produksinya mau membuat film ini karena ada tokoh Miyabi-nya, bukan karena kualitas skenario atau filmnya secara keseluruhan. Apalagi setelah saya tau beberapa film yang pernah dibuat rumah produksi ini. Sebut saja judul Paku Kuntilanak, Setan Budeg, Kutunggu Jandamu, Tulalit, Mati Kemaren, Maling Kutang, dsb. Hmm., walaupun saya ndak pernah menonton film-film itu, rasanya saya tau seperti apa filmnya. Hehe..

Tapi bagaimana pun, saya tetap berterima kasih kepada si pembuat film karena masih mau berusaha ikut meramaikan perfilman Indonesia. Masalah bagaimana nantinya apresiasi penonton, ya tergantung selera masing-masing orang.  Apakah film ini murni merupakan ekspresi seni si Raditya Dika atau cuma mau membuat sensasi, kita lihat saja nanti kalau filmnya sudah ditayangkan. Kalau saya pribadi sih, lebih baik menonton Miyabi di filmnya yang mendesah-desah itu daripada di film Menculik Miyabi ini. Hehe!

Oh ya, saran saya untuk pembuat film, walaupun film ini dijamin ndak akan ada adegan sex-nya, tapi mohon, cuma untuk 17 tahun ke atas saja ya. Bagaimana pun, dengan menampilkan Miyabi, visualisasinya pasti ndak jauh-jauh dari image Miyabi yang porn-star dan berbodi luhur itu. Hihi! Terima kasih.

Related Post

14 thoughts on “Menculik Miyabi, Seni atau Sensasi?”

  1. hihihih gak sabar menunggu aksi Miyabi secara fans berat waktu kuliah hahahahhahahahha

    *masih tercengang dengan Merantau, film action paling berkwalitas Indonesia :)*

    Setiap orang pasti memukau kalau melakukan apa yang menjadi keahliannya. Jadi, saya lebih baik menonton Miyabi di film yang menjadi keahliannya daripada di film Menculik Miyabi. Hahaha!

    .-= co-that´s last blog ..Ingin Menulis Lagi =-.

  2. SETUJU bli gung…lebih mantaph nonton film yang jadi keahliannya…
    kalau ke Indonesia semoga dia syuting di Bali, mau minta TTD plus foto bareng….

    kalau ada filmnya bagi2 yah….saya kehilangan banyak filmnya setelah komp saya di instal ulang…

    Haha! Download donk, ka!

    .-= ekabelog´s last blog ..Linuh/Gempa mengguncang Bali =-.

  3. hahahahah
    gua pikir Miyabi itu jenis pilem…ternyata nama artisnya yak…oon.com

    emang sekeren apa sih acting si Miyabi ampe Indonesia memberi kehormatan buatin dia pilem???

    Acting-nya Miyabi? Dia jago banget berekspresi yang merem-melek gitu, plus mendesah-desah seperti lagi keenakan.
    Mbak ini cuma bercanda kan?? Hehe! Apa perlu saya cantumkan link ke filmnya Miyabi yang sesungguhnya? Hihi!

    .-= Miranda´s last blog ..Lebaran Unik ala Emak =-.

  4. Apapun itu, saya setuju dengan kebijaksanaan and dalam menulis ini, walaupun ada kritik, namun posting anda ini sangat menarik

    salam kenal
    blogger kalimantan selatan

    Hm.., terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar. Salam kenal kembali.

    .-= Wawan´s last blog ..Menapaki malam 1 Syawal 1430 H =-.

  5. Cara untuk menarik perhatian masyarakat yang sangat luar biasa…apalagi di tambah berita2 pencekalan…jadi semakin dahsyat deh :)

    Iya, kalau begitu, memang benar-benar dahsyat sensasi yang dihasilkan dari ide bikin film yang kualitasnya malah blum jelas. Hehe!

    .-= wahya´s last blog ..SEO adalah aktivitas marketing =-.

  6. Patut ditunggu dan perlu…
    mumpung lebaran…
    Pernah salah tulis, salah kutip atau salah dalam berkomentar, dibukakan keikhlasan untuk memaafkan semua kesalahan yang telah dibuat.
    Selamat Idul Fitri 1430H

    Kalau begitu, selamat menunggu mas. Hehe..

    Sama-sama..Selamat Idul Fitri juga ya. Begitu juga saya, kalau ada salah yang pernah termuat di blog ini, mohon dimaafkan. Terima kasih..

    .-= antokoe´s last blog ..Pulang Kampung dan Lebaran =-.

  7. mau jujur ah

    pertama: gue pikir Raditya Dika bukan penulis skenario yg cukup baik
    kedua: kalo filmnya ditambah Miyabi bukannya malah ujung-ujungnya bakalan masuk ke golongan film asal esek-esek doang yah?

    Thanks ya, sudah mau jujur. Saya sependapat dengan kamu.

    .-= senny´s last blog ..H.E.L.P! =-.

  8. Aku juga berpikiran sama & yang sangat aku kwuatirkan adalah para remaja Indonesia berlomba2 cari info tentang mayabi di internet (karena mengidolakan) dan ketemu yang xxx terus mereka rame2 ngikuti jejak idolanya. Ancur dah…… :shock:

    Good point, mas. Pemikiran yang logis..

    .-= Sugeng´s last blog ..Maria Ozawa Datang, Gejala Apa Ya ?!? =-.

  9. Selamat Idul Fitri 1430H.
    Minal aidin wal-faidzin.
    Mohon maaf lahir dan batin.
    Salam hangat dari Surabaya

    Mohon maaf lahir batin juga, pakde. Semoga berkah lebaran menaungi kita semua..

  10. untuk kualitas film Indonesia belakangan ini saya setuju memang masih jauh dari kata bagus, saya inget cuma satu film Indonesia yang kualitasnya bagus, AADC, inget kan?

    Tapi untuk pencekalan Miyabi, terus terang saya tidak setuju, karena bagaimanapun setahu saya belum ada undang2 yang melarang porn star main film di Indonesia. Masalah nanti jadi nafsu atau tidak, itu kembali ke tingkat kekotoran otak kita masing2.

    Saya justru merasa yang mencekal itu sudah termakan umpan dari si pembuat film, sehingga menambah sensasi murahan dan popularitas si Raditya Dika.

    .-= wira´s last blog ..Hati-Hati Uang Palsu =-.

  11. lebih ke sensasi saja film ini,tidak membawa dampak positif, malah dampak negatif akan lebih banyak thd pariwisata indonesia. akan lebih sering terjadi pelecehan seksual ke turis (wanita) jepang yang ke indonesia.seperti berita hari ini di balipost pembunuhan di sertai pemerkosaan thd turis jepang di bali.

    Wah, semoga keamanan terhadap wisatawan jepang ndak semakin parah ya, bli. Terima kasih.

Comments are closed.