Hukum Kita, Racun Dunia..

2 menit waktu baca

Dalam terbitan hari ini, Kompas memberitakan bahwa Mahkamah Konstitusi (MK) menyatakan ketentuan yang mengatur siaran iklan niaga yang mempromosikan produk industri rokok tetap sah dan konstitusional. Melarang iklan rokok justru bertentangan dengan konstitusi. Pernyataan ini terungkap dalam putusan uji materi Undang-Undang Penyiaran (UU No. 32 tahun 2002), khususnya Pasal 46 ayat (3) yang dipersoalkan oleh Komnas Perlindungan Anak, Lembaga Perlindungan Anak Provinsi Jawa Barat, dan 2 anak Indonesia.

Saya menilai, permohonan yang diajukan oleh pemohon cukup beralasan. Mereka cuma berupaya melindungi generasi muda dari bahaya rokok. Tapi, yang saya kurang setuju, caranya yang ndak tepat. Kenapa ndak tepat? Begini..

Seperti yang dinyatakan dalam putusannya, MK berpendapat bahwa melarang industri rokok untuk mempromosikan produknya adalah bertentangan dengan konstitusi, khususnya Pasal 28 huruf F UUD 1945 yang berbunyi;

Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang berbeda.

Baiklah, karena aturan itu yang berlaku, maka sebagai warga negara yang taat hukum kita harus menghormatinya. Lagipula, iklan rokok sudah dibatasi banget penayangannya di tivi oleh pemerintah. Misalnya, jam tayangnya yang di atas pukul 22 (jam 10 malam) dengan asumsi bahwa ndak ada lagi anak-anak yang menonton tivi di masa itu. Selain itu ada batasan lain yang harus ditaati dalam iklan rokok tivi, yaitu ndak menampilkan adegan orang menghisap rokok. Jangankan menampilkan adegan seseorang menghisap rokok, menayangkan wujud rokok pun dilarang dalam iklan tivi. Saya merasa, itu sudah cukup membatasi iklan rokok.

Kalau boleh saran kepada Komnas Perlindungan Anak dan semua pihak yang peduli terhadap kesehatan anak dan generasi muda, sebaiknya jangan iklan rokok di tivi yang dipermasalahkan. Lebih baik anda mempermasalahkan iklan rokok melalui media lain yang jelas-jelas bisa tampil di segala waktu. Lebih baik lagi kalau mengajak Menteri Pemuda dan Olah Raga untuk menolak sponsor rokok di kegiatan yang melibatkan anak-anak muda seperti pentas musik dan pertandingan olah raga. Atau mengajak sutradara dan produser film untuk ndak menampilkan adegan orang merokok di dalam filmnya.

Kalau perlu, buatlah iklan tandingan di tivi. Tampilkan semua keburukan rokok di tivi. Kalau mereka boleh mempromosikan rokoknya, masa’ yang anti rokok ndak boleh menayangkan iklannya? Pasti boleh donk! Saya rasa itu lebih efektif daripada memohon kepada MK untuk menguji Undang-Undang Penyiaran. Ndak cuma Undang-Undang Penyiaran, banyak aturan hukum negara kita yang masih lunak banget terhadap rokok. Makanya banyak produsen rokok asing yang lari ke Indonesia, karena di sinilah surga rokok yang sebenarnya. Sementara di negeri asalnya, mereka malah terbunuh pelan-pelan. Meminjam lirik lagu band terkemuka di Indonesia, hukum kita memang racun dunia sekarang ini.

Mungkin hakim MK itu berpikir, gampang kok caranya mencegah anak-anak kita menjadi perokok. Saya juga setuju itu. Tapi, mereka ndak berpikir, bahwa susah banget menghindarkan anak-anak kita menjadi perokok pasif, yang walaupun ndak merokok tapi harus ikut menanggung akibat yang seharusnya cuma dirasakan oleh perokok. Saya pernah baca bahwa akibat rokok baru akan terasa 25 tahun setelah kita mulai merokok. Mungkin saat itu si perokok memang sudah tua dan sudah saatnya untuk sakit karena umur.

Tapi bagaimana dengan anak-anak yang menjadi perokok pasif? Mereka sudah “menghisap” rokok bahkan sejak masih balita. Haruskah mereka merasakan akibat rokok di usia “emas” mereka nanti (antara usia 25 – 30 tahun)? Itu mungkin yang blum dipikirkan oleh pembuat hukum di negeri ini. Kasihan anak-anak itu..

Related Post

12 thoughts on “Hukum Kita, Racun Dunia..”

  1. yah emang dalam menangani rokok kita g boleh asal menghakimi aj cz bagaimanapun juga banyak keluarga yg menggantungkan diri terhadap rokok……

    Saya sebenarnya bukan berharap agar rokok dilarang di Indonesia. Saya cuma mau hukum bisa melindungi anak-anak dan non-perokok dari bahaya rokok. Buat yang merokok ya wajarlah kalau mereka mendapat akibat negatif dari rokok. Tapi masa’ yang ndak merokok harus merasakan akibat yang sama? Ndak adil kan, mbah?

  2. Bener juga, mungkin maunya pemerintah, supaya masyarakat tahu saja kalau mereka sudah ambil tindakan untuk mengurangi informasi tentang rokok. Sisanya, negara masih butuh rokok untuk pemasukan duit.
    Bukankah uang negara banyak dari rokok?

    Tapi kalau mau positive thinking, mungkin pemikiran mereka begini : Anak-anak tidak akan terlalu tertarik dengan koran Kompas, Jawa Pos, dan sejenisnya yang banyak iklan rokoknya, tapi lebih tertarik pada majalah Bobo, CosmoGirl, HAI, dan sejenisnya yang sampe sekarang belum pernah kutemui ada iklan rokoknya… hehe!!

    nice thought by the way….

    Itulah parahnya negara ini. Pendapatan dari rokok besar banget. Padahal petani tembakau dan buruh pabrik rokok tetap saja miskin. Jadi percuma saja pendapatan besar dari rokok. Hehe!

    .-= putriastiti´s last blog ..Renita Renita =-.

  3. Terlepas dari iklan di media, sebenarnya anak-2 juga bisa mendapat contoh langsung orang merokok dari lingkungan. Mungkin bapaknya, kakeknya, omnya, tetangga, semua merokok. Belum lagi di lingkungan luar sekolahnya, suka ada tukang jualan yang mungkin juga merokok. Jd pembatasan iklan saja kurang efektif juga ya. Tugas berat memang hehheee……..

    Kita yg udah tua aja kena asap rokok bisa sakit, bagaimana dengan anak-2 yg sejak kecil sudah jadi perokok pasif ya?

    Saya selalu setuju dengan Mbak. Itulah maksud saya. Hihi!

    .-= zee´s last blog ..persiapan mudik =-.

  4. yang penting bagi perokok jangan sampe ganggu perokok pasif…

    Betul. Caranya adalah ndak merokok di keramaian di mana banyak anak-anak dan non perokok di sana. Terima kasih buat komentarnya mas ichsan..

  5. pengaruh rokok bukan dari media aja, bahkan lebih besar karena pengaruh lingkungan.

    Iya, makanya saya merasa langkah dari Komnas Perlindungan Anak di atas kurang tepat sasarannya. Terima kasih..

  6. kalo membahas tentang iklan rokok emang ga ada matinya
    walaupun sudah ada aturan tentang periklanan, ada banyak cara yang dilakukan oleh pihak rokok agar tetap laku dipasaran
    contohnya jadi promotor acara musik
    dimana setiap penonton akan diberikan satu bungkus rokok ketika akan menonton konser berlangsung

    Betul sekali mas. Banyak cara untuk mempromosikan rokok, ndak cuma lewat tivi. Justru media non-tivi yang harus dibatasi.

    .-= belajar blog´s last blog ..Blog Sebagai Situs Jejaring Sosial =-.

  7. Salah satu promo paling mantap yah pake SPG nan cantik and seksi.
    Huhu..sebagai lelaki sejati, baik perokok maupun bukan.
    tua atau muda…
    pasti bakal membeli rokok tersebut
    jadi inget waktu datang ke pameran kesenian daerah, saya ditawarin mampir ke stan rokok
    sang SPG berkata “mas, mampir…ada boneka2 imut gratis”
    Haduh, masa rokok pria punya selera nawarin boneka imut?? Apa saya yang dikatain imut yah ^0^

    Hehe! Jadi ingat waktu saya masih perokok. Tapi sebagai lelaki sejati, seharusnya bukan mendapatkan rokok yang dijual, tapi mendapatkan SPG yang menjual rokok. Hihi!

    .-= koleksi mainan´s last blog ..The Legend of Captain Jack Sparrow =-.

  8. Saya selalu salut setiap membaca tulisan disini, mantaf deh pokoknya.

    Untuk urusan rokok, saya terkadang miris melihat orang tua yang merokok di depan anaknya, bahkan ada yang sampai bangga melihat anaknya bisa merokok, duh… jaman udah semakin edan :-(

    Mudah2an saya bisa menjadi contoh yang baik untuk anak saya kelak.

    Saya doakan anak bli bisa lahir dengan selamat dan sehat. :)
    Yang pasti anaknya nanti pasti bisa mencontoh bagaimana cara menjadi blogger yang handal seperti ajinya ini. Hehe!

    .-= wira´s last blog ..Masalah Komentar Di WordPress 2.8.4 =-.

  9. Bukankah merokok itu hak azazi ? Tuhan saja tidak melarang merokok, lha pemerintah melalui ulama saja yang suka cari sensasi melarang merokok.
    Tetapi perokok berat seperti saya ( 3 bks / hari ), memang harus melihat sikontolpanjang jika mau merokok.

    Saya juga ndak setuju kalau merokok itu dilarang.
    Hak asasi? Mereka yang non-perokok pun punya hak asasi untuk menikmati udara tanpa asap/aroma rokok di sekitarnya.
    Intinya, saya cuma pengen keadilan. Biarlah akibat rokok cuma dinikmati oleh perokok. Sementara yang non-perokok, harus mendapat haknya juga. Btw, saya dulu juga perokok berat kok mas.
    Terima kasih untuk komentarnya, mas.

    .-= Aldy´s last blog ..Email, kesalahan yang seharusnya tidak terjadi. =-.

  10. Nyimeng juga hak asasi gak ya?? *ngumpet*

    Sebenarnya sih, kita punya hak untuk melakukan apa saja. Tapi kita ndak hidup di hutan rimba. Jadi, semua hak yang kita punya dibatasi oleh hak orang lain, bahkan hak untuk hidup sekalipun. Ya ndak? Hehehe!

    .-= co-that´s last blog ..Ingin Menulis Lagi =-.

Comments are closed.