Kampanye Telah Tiba

4 menit waktu baca

Hari ini, masa kampanye terbuka pemilu 2009 sudah dimulai. Buat saya, masa kampanye sedikit mempengaruhi niat saya untuk memilih seorang caleg atau partai politik, tergantung dari cara kampanye mereka. Seperti yang saya lihat di tivi, hari ini ada Deklarasi Kampanye Damai Pemilu 2009.

Tapi buat saya, damai saja ndak cukup. Saya pengen kampanye tuh, yang tertib, santun, cerdas, dan bukan unjuk kekuatan. Bisa ndak sih?

Kalo saya perhatikan sejak saat saya pertama kali ikut memilih, saya sudah pernah lihat kampanye damai. Damai yang saya maksud, ndak ada bentrokan fisik antara pendukung parpol satu dengan yang lainnya. Tapi saya ndak pernah lihat kampanye yang tertib. Apalagi sekarang ini.

Lihat saja di jalan-jalan, banyak baliho partai yang ndak tertib cara masangnya. Tertib seperti yang dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia online:

tertib adalah teratur, menurut aturan, rapi, sopan, dengan sepatutnya, dsb.

Baliho-baliho dengan bermacam ekspresi wajah para caleg sudah jelas ndak tertib. Pemasangannya pun sembarangan, ndak memperhatikan keindahan, kenyamanan, dan bahkan keselamatan. Itu baru balihonya, kebayang kan gimana orangnya?

Kampanye santun, bisa ndak? Saya kok ndak yakin kampanye kali ini akan berjalan santun. Saya lihat di tivi, saat acara deklarasi kampanye damai pun, yang bersifat formal, ndak ada santun-santunnya. Sekali lagi saya harus lihat di Kamus Besar Bahasa Indonesia,

santun adalah halus dan baik (budi bahasa dan tingkah lakunya), sabar dan tenang, sopan, dsb.

Sempat lihat acara Dekalarasi Kampanye Damai ndak, yang disiarin Metro TV? Itu acara resmi lho, tapi para peserta sama sekali jauh dari santun. Mereka, para simpatisan setiap partai, berteriak-teriak di kursi belakang. Parahnya lagi, beberapa ada yang dengan norak-norak bergembiranya naik ke atas panggung, mendekati mikofon, dan berteriak-teriak, “Hidup bla..bla..bla..!!”

Kericuhan kecil pun terjadi saat petugas keamanan dan polisi menghalau mereka turun. Saya rasa, kericuhan ndak meluas karena di sana ada pejabat KPU, polisi, dan ketua parpol. Bayangkan ntar kalau di jalan, polisi berhadapan dengan simpatisan yang ndak tertib apalagi santun itu. Apa yang bakal terjadi? Minimal bakal ada adu jotos antara mereka. Hehe!

Kampanye yang cerdas juga bakal sulit terlaksana. Selama ini kampanye cuma jadi ajang unjuk kekuatan setiap parpol. Semakin ramai yang datang, kelihatan semakin kuat parpol yang bersangkutan yang tentu dikiranya akan semakin besar juga perolehan suara saat pemilu nanti. Padahal sudah pasti ndak seperti itu.

Kampanye bukan jadi ajang pemaparan visi dan misi secara kritis. Sang caleg cuma bilang ini itu yang diamini oleh teriakan lantang para pendukungnya. Kampanye cerdas tuh seharusnya, menurut saya, membiarkan masyarakat untuk datang ke atau pergi dari tempat kampanye. Bukan yang mendatangkan ribuan pendukung yang sudah jelas-jelas mendukung (ndak ngerti juga apa mereka benar-benar mendukung atau cuma dibayar untuk mendukung), tapi mestinya menarik masyarakat umum untuk datang ke tempat kampanye.

Saya malah melihat, penjual obat jalanan lebih hebat berkampanye. Mereka kerja sendiri-sendiri, ndak bawa ribuan pendukung, tapi mampu menarik minat orang-orang di sekitar. Bagi yang suka, mereka beli obatnya atau minimal tetap menyimak “janji-janji” si penjual. Sementara yang ndak suka, ya pergi saja. Ya jelaslah, caleg berbeda dengan penjual obat. Jadi seharusnya mereka bisa lebih baik dari para penjual obat itu kan?

Tapi saya yakin, itu semua tinggal harapan. Sebabnya? Pertama, calegnya memang seperti itu mentalnya. Kedua, simpatisannya yang norak. Beberapa caleg baik yang saya lihat, malah dipaksa untuk membuat baliho sebanyak-banyaknya, mengadakan kampanye terbuka di lapangan bola bukan di gedung atau balai desa. Ketiga, tim suksesnya ndak kreatif. Mereka cuma membantu menaikkan popularitas caleg lewat baliho-baliho besar, bukan dengan memberikan materi bagus untuk diuraikan sang caleg dalam debat.

Mental caleg, pendukung dan tim suksesnya banyak saya lihat di tivi atau koran. Kalo dikritik, mereka marah. Kalo balihonya ditertibkan, mereka protes. Udah salah kok masih protes? Diajak datang ke forum diskusi, ndak datang. Kalaupun datang, visi misinya ndak jelas. Giliran ditekan sama moderatornya, nadanya jadi meninggi dan cenderung marah. Mau gimana coba?

Pemerintah sebenarnya juga ndak diam kok. Mereka berusaha untuk membuat peraturan untuk itu. Tapi, malah yang bikin peraturan yang melanggar. Giliran diproses secara hukum, malah KPU yang disalah-salahkan.

Memang, ada beberapa caleg yang bisa berkampanye secara santun dan cerdas. Misalnya dengan mengundang masyarakat netral di daerah pemilihannya untuk datang ke balai desa membicarakan apa saja persoalan di daerah itu, menghadiri debat terbuka dengan orang-orang yang mau dan mampu berpikir kritis, dan berkampanye secara tertulis melalui media cetak dan online (internet). Tapi jumlahnya sedikit sekali.

Yang berkampanye lewat internet pun kesannya masih cuma untuk gaya-gayaan saja. Ndak peduli isinya, yang penting punya website. Tapi ndak apa-apalah. Yang penting mereka mau memilih cara untuk berkampanye secara tertib dan (mencoba untuk) cerdas.

Yah, saya cuma berharap, caleg-caleg baik yang ada sekarang, walaupun sedikit, ndak patah semangat untuk mendidik masyarakat gimana berpolitik yang baik. Kalo masyarakat sudah cerdas, saya yakin lain waktu yang berkampanye ndak cuma caleg-caleg berduit, tapi juga caleg-caleg kere tapi kaya ide dan kreatifitas dalam bekerja sebagai legislator nantinya. Untuk anggota masyarakat yang sudah cerdas, dalam arti kata mengerti apa fungsi dan tujuan pemilu, jangan lupa ajak masyarakat untuk menjadi pemilih yang rasional, atau anda jadi caleg sekalian. Hihi!

Kampanye seharusnya ndak mahal kan? Daripada duit habis untuk bikin baliho, kaos, stiker dan spanduk, mending untuk beli jajanan yang bakal disuguhkan pas pertemuan dengan masyarakat umum di balai desa. Lebih murah kan? Duit ndak habis, kampanye pun jadi tepat sasaran. Hehe!

Kembali lagi ke saya, seperti yang saya bilang tadi, kampanye punya pengaruh sedikit saja untuk bisa mempengaruhi saya untuk memilih nanti. Saya selalu serius menghadapi pemilu. Saya selalu datang ke bilik suara dengan membekali diri saya siapa orang yang akan saya pilih. Pilihan itu sudah saya persiapkan jauh-jauh hari.

Kecuali nanti saya menemukan atau melihat kampanye dari calon saya ternyata norak, ndak tertib dan cerdas, baru saya akan merubah pendirian saya. Tapi, saya yakin pilihan saya adalah yang terbaik, jadi rasanya mereka ndak akan melakukan kampanye seperti itu. Hehe!

Selamat nonton kampanye! Hati-hati di jalan, sekarang musim konvoi. Hehe!

Related Post

1 thought on “Kampanye Telah Tiba”

Comments are closed.