The Hunting Party

3 menit waktu baca

Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Mabes Polri ternyata blum berhasil menangkap gembong teroris, Noordin M. Top. Berita terbaru yang saya baca menyebutkan bahwa penggerebekan di Temanggung kemarin ndak berhasil membunuh Noordin. Saya ndak tau pasti, apakah memang penjahat dari malaysia itu yang lincah dan lihai bersembunyi seperti tikus yang menghindari kucing, atau Densus 88 yang ndak serius mengejarnya? Saya sebenarnya ndak mau berprasangka buruk terhadap polisi kita. Bagaimana pun, kerja mereka Sabtu kemarin memuaskan banget, walaupun kritik dari Hendro Priyono ndak bisa diabaikan begitu saja.

Melihat bagaimana susahnya Densus 88 menangkap Noordin, saya jadi teringat dengan sebuah film yang dibintangi oleh Richard Gere dan Terrence Howard. Film ini menceritakan tentang seorang jurnalis yang ingin menangkap dengan tangannya sendiri, seorang penjahat perang yang dicari dunia. Film itu berjudul, The Hunting Party..

The Hunting Party
The Hunting Party

Adalah seorang reporter tivi, Simon Hunt (Richard Gere), dan rekannya yang bernama Duck (Terrence Howard). Mereka bersahabat karib sebagai sepasang jurnalis yang berani meliput kejadian berbahaya di tempat kejadiannya. Tapi, karena sebuah kesalahan kecil, Hunt harus dipecat dari tugasnya sebagai reporter.

Hunt menumpahkan kekesalannya atas kematian pacarnya di peristiwa berdarah yang terjadi di Bosnia. Pacarnya terbunuh dalam sebuah aksi bersenjata yang dilakukan oleh sekelompok orang di bawah komando Doctor Dragoslav Boghanovic yang berjuluk Si Rubah. Sialnya, kekesalannya itu dia tumpahkan dengan caci maki dan umpatan pada saat ia melaporkan secara langsung kejadian tragis itu di tivi nasional.

Singkat cerita, setelah Hunt dipecat dan Duck menempati posisi strategis di stasiun tivi itu, mereka bertemu kembali beberapa tahun kemudian. Tapi pertemuan itu malah menyeret mereka ke petualangan yang ingin dihindari semua orang, yaitu mengejar Si Rubah. Padahal saat itu, Boghanovic adalah penjahat perang yang sulit banget ditangkap, bahkan oleh NATO dan pasukan PBB sekalipun.

Hunt, Duck dan asistennya, Benjamin pun memulai petualangan yang mungkin saja mengantarkan mereka ke gerbang maut. Bahkan, komandan pasukan perdamaian PBB dan polisi internasional pun ndak mau ikut mencampuri usaha mereka. Padahal, mereka berusaha mencari orang yang paling dicari oleh dunia.

Tapi ternyata, mencari Si Rubah ndak sesulit yang saya bayangkan. Bagaimana mungkin, seseorang yang untouchable, malah ditemukan orang biasa seperti Hunt, Duck dan Benjamin setelah berusaha mencari selama beberapa hari saja. Bandingkan dengan usaha pasukan internasional yang blum bisa menangkapnya. Walaupun kemudian si Rubah berhasil meloloskan diri karena “bantuan” polisi yang — mungkin — berusaha menangkapnya.

Memang, film ini cuma fiksi. Isi ceritanya murni cuma imajinasi penulis naskah atau sutradaranya saja. Tapi, film ini juga mencoretkan tanda tanya besar di jidat saya. Apakah memang sulit mengejar seseorang yang wajahnya sudah mereka kenali? Apalagi pengejaran itu dilakukan oleh tim khusus yang beranggotakan orang-orang terlatih dan berpengalaman.

Di akhir film, penonton diingatkan kembali dengan usaha Amerika Serikat yang sampai sekarang masih berusaha “mencari” Osama bin Laden. Selama pencarian itu, Osama muncul berkali-kali dalam rekaman video yang ditayangkan tivi internasional. Apa memang selicin itu, sosok Osama? Setau saya, Osama cuma seorang kakek ringkih yang keberatan jenggot. Rasanya mustahil dia mampu dengan lincah menghidari kejaran pasukan Amerika Serikat yang cekatan, lihai dan teliti.

Lalu bagaimana dengan Densus 88 yang sejak Bom Marriott I sudah menjadikan nama Noordin M. Top sebagai sasaran penangkapan nomor satu? Mungkin ndak tuduhan film fiktif di atas benar-benar terjadi di drama pengejaran di negara kita ini? Densus selalu gagal menangkap Noordin. Bahkan, pada suatu kejadian, Densus 88 dan Noordin sudah pernah berhadap-hadapan secara langsung dalam sebuah baku tembak.

Ketika itu, Sabtu 29 April 2006, di Desa Binangun Wonosobo, Jawa Tengah, polisi sudah menemukan Noordin. Dalam keadaan terluka parah karena kakinya tertembus peluru pasukan Densus 88, Noordin masih bisa melarikan diri dan sampai sekarang menjadi buron. Apa yang sebenarnya terjadi? Kalau diibaratkan dalam pertandingan sepakbola, Densus 88 kebanggaan kita ini dikalahkan oleh lawannya di kandang sendiri.

Oke, film di atas mungkin berusaha mengajak penontonnya untuk “berpikiran negatif” terhadap kasus pengejaran seorang penjahat. Tapi, saya ndak mau seperti itu. Malah, dari film ini saya berpikir bahwa setiap orang bisa menjadi Hunt, Duck dan Benjamin. Bahwa si penjahat bisa saja berada di sekitar kita yang dengan mudah kita tangkap.

Densus 88 ndak bisa bekerja sendiri tanpa bantuan kita semua. Mencurigai seseorang secara positif mungkin bisa membantu polisi kita. Jadi, buka mata dan telinga kita. Mari kita bikin The Hunting Party versi Indonesia ini berakhir menyenangkan untuk pihak Indonesia.

Related Post

4 thoughts on “The Hunting Party”

  1. benar, peran aktif masyarakat sangat diperlukan untuk menangkap buronan, seperti yang telah dilakukan oleh masyarakat di Bali kemarin ketika melaporkan seseorang yang dicurigai adalah mertua Nordin M Top, walaupun akhirnya polisi memastikan orang itu tidak terkait dengan Nordin M Top.

    Tapi yang dicurigai jangan langsung sakit hati atau mengeluh. Seperti beberapa teman di facebook, malah mengeluh saat ada pemeriksaan yang lebih ketat. Giliran ada bom meledak, mereka komplain atas pemeriksaan yang ndak ketat. Serba salah! Hehe..

  2. kalau saya nangkap langsung Nordin M Top beneran ga berani, apalagi kata TV Nordin selalu pakai bom rompi….palingan melaporkan keberadaan saja cukup…


    ekabelog
    thebelogers.wordpress.com

    Menangkap penjahat kan bisa bermacam-macam caranya. Mau tangkap langsung, minta bantuan polisi, atau teriak-teriak agar orang datang berbondong-bondong menangkap penjahat itu juga bisa kan? Hehe!

  3. nice review.. wektu itu mau sempet nonton tapi gak jadi.
    kayaknya critanya terlalu mengenaskan..
    tul gak yaa?

    Mengenaskan sih ndak juga Mas. Coba saja ditonton. Tapi saya ndak merekomendasikan film ini bagus ya. Saya cuma mengkaitkannya dengan proses pengejaran terorisme di Indonesia saja. hehe!

  4. Biarpun Detasemen 88 tidak berhasil tangkap si noordin pengecut itu, gpp …
    mari kita sama2 bantu dan dukung, biar si pengecut itu segera tertangkap.

    Iya Mbak. Tapi tetap hati-hati. Yang kita hadapi bukan penjahat yang cerdas, tapi penjahat yang nekat.

Comments are closed.