Kasih Ibu Sepanjang Jalan. Jalannya Rusak..

6 menit waktu baca

Maaf, kalau judul tulisan kali ini rada panjang dan norak. Saya benar-benar lagi ndak ada ide untuk memulai tulisan ini dengan sebuah judul yang tepat. Tapi saya yakin, dari judul itu anda tau topik apa yang mau saya tulis di sini. Iya, tentang jalan. Kalau di Kompas kemarin membicarakan tentang jalanan rusak karena banyaknya truk-truk besar yang dengan leluasa menikmati jalan umum walaupun dengan berat yang melebihi aturan, saya akan mencoba melihatnya dari sisi lain. Yaitu dari sisi kepadatan jumlah kendaraan bermotor yang melintas di jalanan kita.

Pertama, kita harus akui bahwa pengguna atau pemilik kendaraan bermotor pribadi semakin banyak jumlahnya. Saya blum pernah melakukan riset untuk mendapatkan hasil yang solid dan valid, tapi saya kok yakin, hampir setiap keluarga mempunyai 1 unit kendaraan bermotor. Minimal sepeda motor deh! Apalagi di Bali, yang sempat saya baca menjadi daerah dengan predikat konsumen sepeda motor baru nomor 1 di Indonesia. Minimal ada 2 unit sepeda motor di hampir setiap keluarga. Yang Supra untuk bapak ke kantor, yang Vario untuk ibu ke pasar. Blum lagi yang Mio untuk kakak pergi ke sekolah. Hehe! Tapi iya kan?

Jadi bayangkanlah sendiri bagaimana padatnya jalanan kita, termasuk juga yang di Bali. Kemacetan menjadi salah satu dampak paling terkait dengan jumlah kendaraan bermotor yang melintas di jalanan. Kecelakaan tentu saja segera menyusul, apalagi mengingat tingkat kedisiplinan pengguna jalan kita yang masih rendah banget. Dampak selanjutnya, tentu saja kondisi jalan yang akan semakin cepat rusak. Pemerintah dengan sigap menambah jalan-jalan baru, atau minimal melebarkan jalanan yang sudah ada untuk berusaha sedikit mengurai keruwetan jalanan. Juga dengan menambah dana untuk perbaikan kondisi jalan yang semakin cepat rusaknya. Efektif? Saya rasa ndak.

Saya merasa membuka jalan baru atau melebarkan jalan yang sudah ada ndak akan bisa berlangsung terus menerus. Kita pasti kehabisan lahan. Mau bikin jalan di atas laut seperti Suramadu? Mau berhutang dari mana lagi? Salah satu cara yang paling bagus menurut saya adalah dengan mengurangi jumlah kendaraan bermotor di jalanan. Banyak cara yang bisa ditempuh, misalnya dengan meningkatkan tarif pajak kendaraan bermotor, meningkatkan tarif masuk tol, atau seperti yang dilakukan Pemkot Denpasar baru-baru ini, menaikkan tarif retribusi parkir.

Sialnya, masyarakat kita selalu memandang hal seperti itu dari sisi negatifnya saja. Tarif tol naik, mereka protes. Retribusi parkir dinaikkan saja, hampir semua masyarakat Denpasar mengeluh. Coba pikir dari sisi baiknya. Walaupun ndak ada tujuan langsung, tapi siapa tau dengan menaikkan tarif tol atau parkir, bisa sedikit mengurangi beban jalanan. Kenapa masyarakat lebih memilih untuk mengeluh daripada mengurangi kebiasaan memanfaatkan kendaraan bermotor pribadi mereka?

Okelah, kita blum punya transportasi umum yang bisa memanjakan kita dan membuat kita meninggalkan kendaraan pribadi kita. Tapi menurut saya, transportasi umum baru bisa dibangun apabila masyarakat lebih dulu meninggalkan kendaraan pribadinya. Selama masyarakat masih dimanjakan dengan nikmatnya kendaraan pribadi, seberapa pun baiknya kualitas transportasi umum kita, mereka akan tetap memilih kendaraan pribadi. Iya kan? Mengaku sajalah..

Ambil contoh, busway di Jakarta. Niatnya Bang Yos untuk mengurai kemacetan di Jakarta. Bus Trans Jakarta dibuat senyaman mungkin, bahkan dibuatkan jalur khusus untuk menghindarkan bus-bus itu dari kemacetan. Tapi, para pemilik kendaraan pribadi tetap lebih mempercayai mobil atau sepeda motor pribadinya. Malah, akhirnya jadi semakin macet, karena jumlah kendaraan pribadi ndak berkurang, ditambah lagi Busway.

Saya merasa, masyarakat benar-benar egois. Di satu sisi, mereka menuntut sarana transportasi yang nyaman dan aman. Tapi di sisi lain, mereka ndak mau sedikit pun meningkatkan kewajiban mereka untuk membantu pemerintah. Pemerintah mana pun ndak akan mampu menyelesaikan masalah jalanan di kota besar-kota besar Indonesia kalau masyarakatnya masih egois banget seperti sekarang.

Saya pernah kursus Bahasa Jerman waktu di Jogja. Salah satu native speaker waktu itu bercerita tentang lalu lintas di sana. Orang Jerman lebih memilih menggunakan transportasi umum daripada membeli kendaraan pribadi karena pajaknya mahal banget. Walaupun Mercedes bikinan Jerman, hampir ndak ada satu pun warga Jerman yang bercita-cita memiliki mobil itu di garasi rumahnya. Malah, di Indonesia mobil itu dengan bebas berlalu lalang di jalanan. Orang Jerman itu bilang, “Kalian memang orang-orang kaya”

Sekarang bayangkanlah apabila jumlah kendaraan bermotor bisa dikurangi. Kita ambil contoh di Bali. Bali ndak akan butuh jalanan selebar jalan Teuku Umar di tengah kota Denpasar seperti yang ada sekarang. Jalan Teuku Umar Denpasar lebarnya bisa memuat hampir 6 mobil berjejer. Apa ndak kebangetan tuh? Sementara trotoarnya rusak, banyak lubang menganga, panas tanpa pohon perindang, dsb.

Andaikata jumlah kendaraan pribadi bisa dikurangi. Saya yakin jalan Teuku Umar akan lapang banget untuk dilalui. Bahkan, jalan itu mungkin bisa dipersempit untuk membangun trotoar yang lebih nyaman dengan pohon perindang dan aman. Kendaraan umum pun akan lebih leluasa mendapatkan penumpang tanpa dihinggapi rasa takut akan macet dan pendapatan kurang. Kalau sopir kendaraan umum sudah tenang seperti itu, pasti ndak ada lagi angkot atau bemo yang ugal-ugalan di jalanan.

Tapi, saya akui memang ndak gampang menyelesaikan masalah macet. Banyak faktor yang mempengaruhi selain kemauan dari pemerintah dan masyarakat, juga tingkat kedisiplinan dan kesadaran aparat dan pengguna jalan. Selama ini, kolaborasi buruk antara aparat dan pengguna jalan mendominasi kehidupan lalu-lintas kita. Mereka sama-sama ndak tertib, juga bermental korup. Aparatnya nagih, masyarakatnya ngasih, begitulah kasarnya. Atau sebaliknya, masyarakatnya nawarin, aparatnya pas ngarepin. Klop banget kan?

Saya justru salut dengan komunitas bersepeda yang sudah mulai tumbuh menjamur di beberapa kota besar di Indonesia. Mereka tanpa mengeluh dan pamrih, rela mengorbankan kepentingan mereka untuk menikmati mobil atau sepeda motor pribadinya. Paling ndak, dengan pengorbanan mereka bisa sedikit mengurangi beban jalanan kita. Sedikit banget memang, tapi lebih berarti daripada ndak sama sekali bukan?

Jalan kita memang akan tetap rusak, karena memang seperti itulah adanya. Tapi, dengan ikut mengurangi beban jalanan akan memperlama daya tahan jalanan yang ada. Kalau memang blum mampu mengurangi hak untuk menikmati kendaraan pribadi (seperti saya ini), yang jangan cuma mengeluh kalau tarif tol dinaikkan, atau tarif parkir ditambah sekian ratus rupiah saja. Mengeluh ndak akan menyelesaikan masalah. Bukankah begitu? Iya begitu..

Saya berharap, Pajak Kendaraan Bermotor Progresif dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor segera disahkan oleh parlemen. Walaupun anggaran untuk perbaikan jalan masih cuma 10 persen dari pajak ini, paling ndak dengan pajak-pajak ini masyarakat akan berpikir seribu kali lagi untuk menambah koleksi kendaraan pribadi mereka di garasi rumah. Apabila kendaraan pribadi semakin berkurang, pemerintah bisa mengalokasikan dana yang semula akan dipakai untuk membuka jalan baru atau melebarkan jalan lama untuk memperbaiki kualitas jalan yang sudah ada atau memperbaiki kualitas kendaraan umum untuk kenyamanan dan keamanan penumpang.

Saya pribadi ndak akan mengeluhkan retribusi di jalan yang terus meningkat. Mulai dari parkir sampai pajak kendaraan. Selama saya masih mampu untuk membayarnya, saya akan bayar. Tapi kalau sudah mulai terasa memberatkan dompet saya, saya akan lebih memilih untuk meninggalkan sepeda motor saya dan membeli sepeda daripada mengeluh di sana-sini tanpa mau mengurangi hak pribadi untuk kepentingan bersama. Lebih enak kan? Parkir ndak bayar, pajak pun ndak. Kalaupun ndak mau terbakar sinar matahari saya akan memilih naik angkot walaupun dalam jangka waktu dekat ini, kondisinya ndak akan memberikan rasa nyaman dan aman kepada penumpangnya. Hehe!

Tapi siapa tau, dengan dimulai dari sekarang beberapa tahun lagi jalanan kota kita akan semakin lengang, nyaman, dan aman. Seperti di masa lalu, pengguna sepeda lebih mendominasi jalanan daripada pengguna mobil dan sepeda motor. Kalaupun ada mobil di jalanan, itu cuma bemo atau angkot yang berpenumpang penuh tapi ndak sesak.

Saya ndak mau negara kita akan seperti prediksi Ketua Program Studi Manajemen Infrastruktur Universitas Indonesia, Suyono Dikun, yang bilang bahwa tahun 2025 Pulau Jawa akan macet total karena akan dihuni 151 juta orang. Bayangkan kalau setiap orang minimal punya 1 unit sepeda motor atau mobil pada saat itu nantinya, penuh banget jalanan di Jawa. Macet total! Jadi buat apa punya kendaraan pribadi kalau akhirnya ndak bisa dipergunakan karena jalanan macet total. Iya kan?

Seperti judul tulisan ini di atas, bahwa kasih ibu sepanjang jalan. Bayangkan bagaimana sedihnya ibu kita apabila kasih sayangnya disamakan dengan jalanan yang macet dan rusak seperti yang ada sekarang. Ali Topan pun rasanya ndak akan mau lagi disebut anak jalanan. Iya kan? Hihi!

Related Post

3 thoughts on “Kasih Ibu Sepanjang Jalan. Jalannya Rusak..”

  1. masalah macet memang rumit sekali..

    **berdoa bisa beli sepeda bulan depan

    tapi rasanya nggak mungkin naik sepeda ke tempat kerja, jauh banget, kerobokan nusa dua, hehehe

    Wah, kerobokan – nusa dua bersepeda.., memang ndak logis, Pak Wira. Hehe!

  2. jujur neyh….di rumah saya aja ada 5 motor plus 1 mobil…hehehehe

    tapi sekarang udah saya usahain untuk jarang naik motor kecuali untuk bepergian jauh….kalau deket saya usahakan naik sepeda…

    @bli wira: ayo beli sepeda….

    ekabelog
    thebelogers.wordpress.com

    5 motor + 1 mobil?? Hehe, kok banyak banget, Ka? Tapi gpp, yang penting tetap bayar pajak dan parkir. :P

  3. Kasih ibu, meski jalan-nya mirip seperti situasi jalan di jakarta, tetep masih terus panjang dan berkesinambungan sampai akhir hayat.. :D

    Perihal jalan, selain itu adalah tanggungjawab pemerintah untuk menyediakan srana infrastruktur yang layak, apakah kita sebagai warganya juga sudah taat dengan membayar pajak? :D

    Also, think about going by bike to work? that’s a good sign…

    Nah, itu dia yang blum solid, kerja sama antara pemerintah dan warga negaranya. Padahal modal awalnya cuma itu tuh..

Comments are closed.