Pakai Helm

3 menit waktu baca

Kemarin, saya lihat di jalan, banyak banget pengemudi sepeda motor di jalan yang berpakaian adat untuk bersembahyang. Tapi yang jadi perhatian saya, mereka berkendara tanpa helm dan dengan kecepatan yang lebih tinggi dari kecepatan motor saya yang kira-kira cuma 40 km/jam.

Yang jadi pertanyaan saya, kok boleh mereka berkendara tanpa helm? Sebenarnya ini pertanyaan lama. Dari dulu saya perhatikan memang seperti itu kebiasaannya. Apa memang ada ketentuan tentang syarat-syarat untuk berkendara tanpa helm? Saya mencoba untuk mencari-cari ketentuan hukum yang mungkin mengatur masalah itu.

Saya temukan UU No. 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Trus, di pasal 23 huruf e, saya baca, Pengemudi kendaraan bermotor pada waktu mengemudikan kendaraan bermotor di jalan, wajib:

memakai sabuk keselamatan bagi pengemudi kendaraan bermotor roda empat atau lebih, dan
mempergunakan helm bagi pengemudi kendaraan bermotor roda dua atau bagi pengemudi kendaraan
bermotor roda empat atau lebih yang tidak dilengkapi dengan rumah-rumah.

Ketentuan yang sama juga saya baca di Peraturan Pemerintah (PP) No. 43 tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan, di pasal 70:

Pengemudi dan penumpang kendaraan bermotor roda dua atau
kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang tidak di-
lengkapi dengan rumah-rumah, wajib menggunakan helm.

Di pasal-pasal itu memang disebutkan bahwa memakai helm adalah kewajiban pengendara kendaraan bermotor roda 2, bukan keharusan. Tapi kalau saya kembali lagi ke tujuan diterbitkannya Undang-Undang Lalu Lintas ini, yang tercantum di pasal 3:

Transportasi jalan diselenggarakan dengan tujuan untuk mewujudkan lalu lintas dan angkutan jalan dengan
selamat, aman, cepat, lancar, tertib dan teratur, nyaman dan efisien, …

maka seharusnya polisi ndak bisa membenarkan ada pengecualian mengenai kewajiban memakai helm. Dengan kata lain yang lebih gampang, ndak ada alasan apapun bagi polisi untuk membiarkan para pengendara kendaraan bermotor roda 2 menanggalkan kewajiban memakai helm, berkaitan dengan tujuan keselamatan dan keamanan tadi.

Tapi kenapa mereka yang bersembahyang bebas berkendara ndak pake helm? Saya ndak tau alasan pihak polisi. Tapi dari pihak pengendara, dari orang-orang terdekat, saya dapat beberapa alasan. Pertama, ndak mungkin pakai helm karena pake destar atau penutup kepala lainnya untuk pemeluk agama lain. Ah, saya pikir, penutup kepala itu bisa dipakai saat di tempat ibadah saja kan?

Alasan kedua, tujuan mereka kan sembahyang, jadi mereka pasti dilindungi Tuhan di jalan. Hehe! Masuk akal ndak sih alasan itu?

Dari 2 alasan itu, saya menyimpulkan bahwa kewajiban penggunaan helm ndak bisa ditanggalkan karena alasan apapun. Sebabnya, helm itu dipakai karena kaitannya dengan keselamatan. Okelah, dengan pakai helm ndak otomatis melindungi pengendara dari kematian kalau tertimpa musibah di jalan. Tapi paling ndak, kita sudah berusaha untuk melindungi diri semaksimal mungkin di jalan. Urusan hidup mati kan bukan kewenangan kita. Hehe!

Tapi trus, alasan saya itu dibalikin lagi oleh mereka yang saya tanya, gimana dengan anak kecil yang membonceng sepeda motor tanpa helm? Menurut saya, mereka juga punya kewajiban yang sama. Maksud saya, tentu saja kewajiban itu membebani si orang dewasa. Si orang dewasa wajib memakaikan helm ke anak-anak saat membonceng, dalam rangka menjaga keselamatan si anak.

Kalau ternyata ndak ada helm yang aman khusus untuk anak-anak (apalagi bayi), ya seharusnya ketentuannya menjadi “Dilarang membawa anak-anak (atau bayi) saat berkendara kendaraan bermotor roda 2”

Mungkin saya berlebihan mengenai ketentuan pake helm ini. Jujur, saya dulu merasa pakai helm itu nyusahin. Tapi, saya sendiri sudah merasakan gimana ndak enaknya jatuh ditabrak kendaraan lain di jalan tanpa helm yang bikin saya gegar otak dan harus mendapat beberapa jahitan di kepala. Andaikata saya waktu itu pakai helm, tentu ndak akan separah itu.

Saran saya, pakailah helm saat anda berkendara di jalan. Saya ndak bermaksud mendoakan terjadi kecelakaan menimpa anda, tapi kalau sampai kejadian, meskipun bukan mutlak kesalahan anda, paling ndak anda sudah berusaha melindungi diri anda dengan pengamanan maksimal. Urusan hidup mati, kita serahkan sama yang “Berwajib”.

Related Post

1 thought on “Pakai Helm”

  1. Saya juga sering kalo sembahyang cuma pake peci doang, soalnya kalo pake helm pas sholat rasanya aneh gimannaa.. gitu.

    //ehm, ini tentang helm dan jalan raya mas.. bukan helm dan mesjid. nyambung dikit napa?//

Comments are closed.