Service Memuaskan UPT PUSPEM Badung

2 menit waktu baca

Kemarin, saya pergi ke Pusat Pemerintahan (Puspem) Kabupaten Badung. Saya dapat tugas dari kantor untuk melanjutkan segala urusan perijinan sebuah perusahaan yang macet di tengah jalan. Sebenarnya, saya ragu datang ke Puspem, karena niat saya cuma minta tolong agar membantu saya memeriksa kelengkapan syarat-syarat mengajukan permohonan Ijin Tempat Usaha (SITU) dan Ijin Undang-Undang Gangguan (Hinder Ordonnantie atau HO). Ini kali pertama untuk saya mengurusi hal beginian.

Sampai di loket UPT Puspem Badung, seorang bapak menyambut saya dengan cukup ramah. Setelah saya bilang bahwa saya mau mengurus SITU HO, dia memanggilkan staf lainnya. Seorang ibu muncul di balik kaca loket. Senyumnya menyiratkan keramahan.

“Ada apa, dik?” tanyanya. Jujur, saya agak risih dipanggil dengan kata ‘dik’ karena sebenarnya umur saya sudah cukup pantas dipanggil dengan kata ‘pak’. Tapi saya ndak mempermasalahkan itu karena sepertinya si ibu ini niat dan ramah banget menyapa saya. Hehe! Nama ibu itu adalah Karmini.

Setelah saya utarakan maksud kedatangan saya, si ibu masih dengan ramahnya meminta saya untuk menyerahkan form dan semua kelengkapan yang saya sudah persiapkan. Walaupun tergurat raut lelah di wajahnya – karena waktu itu sudah jam makan siang – tapi Bu Karmini dengan sigap memeriksa berkas-berkas yang saya bawa.

Segala kekurangan dia sampaikan dengan nada dan mimik wajah yang bersahabat. Sama sekali ndak ada ekspresi menyalahkan apalagi membuat saya tampak bodoh, walaupun saya memang bodoh. Bayangkan bagaimana bodohnya saya ndak melampirkan fotocopy IMB di dalam berkas-berkas itu, padahal sudah jelas tertulis di form permohonan bahwa copy IMB adalah mutlak.

Saya bilang, “Oh ya, Bu. Besok akan saya lengkapi”

Seperti yang saya bilang, saya datang ke Puspem cuma pengen dibantu memeriksa kelengkapan. Niat saya, pengajuannya besok saja setelah semuanya pasti lengkap. Tapi Bu Karmini malah bilang, “Kalau bawa IMB-nya sekarang, dicopy saja. Saya tunggu di sini..”

Setelah kembali dari fotocopy, ternyata Bu Karmini memang benar menunggu saya. Padahal seharusnya dia bisa saja meninggalkan saya untuk makan siang. Saya pun mulai merasa ndak enak hati.

“Saya minta maaf, Bu. Sudah merepotkan Ibu” kata saya untuk menunjukkan perasaan ndak enak hati saya sudah membuatnya menunggu.

“Ndak apa-apa!” jawabnya sambil tertawa. “Ini memang sudah tugas saya kok!” sambungnya dengan nada bersemangat. Ya ampun.., jujur saja, walaupun masih merasa ndak enak, saya bangga banget melihat staf pemerintahan mengucapkan kalimat seperti itu.

Sambil membiarkan Bu Karmini memeriksa berkas-berkas saya lagi, saya menoleh ke loket sebelah. Seorang staf cowok sedang melayani seorang bapak. Sama seperti yang saya alami, si bapak itu pun mendapat perlakuan yang ramah.

Akhirnya Bu Karmini bilang bahwa berkas saya sudah lengkap. Niat saya adalah pulang dan mengajukannya besok. Tapi Bu Karmini malah bilang kalau sudah lengkap kenapa harus besok. Ternyata, masih ada kekurangan lagi. Map plastik warna hijau ndak saya bawa. Sekali lagi, si Ibu menyarankan saya membelinya dan dia (sekali lagi) akan menunggu.

Ndak mau membuat Bu Karmini menunggu lebih lama lagi, saya berlari ke koperasi pegawai Puspem Badung dan segera kembali menemuinya. Akhirnya, semua urusan saya selesai kurang dari 1 jam.

Jujur, saya sudah lama ndak berurusan dengan staf pemerintahan. Jadi saya sudah lupa apa pelayanan di kantor pemerintahan memang sebaik ini atau cuma ulah ‘oknum’ saja. Mungkin pujian saya kali ini terlalu tergesa-gesa karena SITU HO yang saya mohonkan blum selesai. Tapi paling ndak, perlakuan yang saya dapatkan dari staf yang berhubungan langsung dengan masyarakat seperti yang dilakukan Bu Karmini, cukup membuat perasaan saya menjadi tenang, bahkan senang.

Semoga memang standar pelayanan instansi pemerintahan sekarang seperti ini. Tapi kalaupun ternyata blum semua seperti ini, paling ndak saya harus mengucapkan terima kasih banyak untuk Bu Karmini untuk perlakuannya terhadap saya.

Related Post

2 thoughts on “Service Memuaskan UPT PUSPEM Badung”

  1. Wah, pengalaman yang menarik. Menurut saya, tidak semua PNS bersikap buruk, walaupun kadang ada beberapa yg biasanya arogan… Semoga PNS bisa semakin menjaga nama baik..


    Saya rasa juga begitu, Pak Wira. Menurut saya, secara umum kinerja mereka sudah lebih baik, paling ndak dari segi keramahannya. Kalau profesionalisme mereka, saya blum bisa menilainya. Tapi sepakat dengan anda, semoga mereka bisa semakin menjaga nama baik.
    Terima kasih untuk komentarnya.

  2. PNS itu katanya untuk melayani masyarakat juga… tapi kadang gimana yah…

    1. Kalo ke kantor pemerintahan, kita kadang tengsin sendiri sama tatapan mereka. Ujung rambut mpe ujung kaki… untungnya banyak yang langsung negur, “eh adeeeek…” jadi nggak malu2 gitu ngeliat jempol kaki udah kayak kepiting rebus huehehehe…
    2. Masih ada yang gak gitu peduli sama masyarakat yang ‘butuh’ gituh… malah asyik ngerumpi aja sendiri. Yang datang celingak-celinguk deh.

    Tapi tetap ada PNS yang bekerja DENGAN HATI. Contohnya itu ada seorang ibu namanya ibu Vera, dia baik banget dan melayani sepenuhnya. Andai saja semua PNS punya senyum secerah bu Vera, seramah bu Vera dan baik seperti dia… hehehehe :D

    Wah, Mbak Tuteh. Selamat datang di mari.
    Iya mbak. Seiya sekata deh, yang penting PNS bisa benar-benar mengabdi untuk masyarakat. Tapi kita juga harus mendukung untuk kesejahteraan mereka. Selama ini, gaji mereka naik, sembako udah loncat harganya.
    Kalau mereka sejahtera, mungkin mereka lebih profesional dan iklas lagi mengabdi untuk masyarakat.

Comments are closed.