Tidur Berselimut Sejarah

4 menit waktu baca

Surabaya, 27 Mei 2009. Saya sampai di lobby Hotel Majapahit setelah menempuh perjalanan yang krodit dan penuh polusi dari bandara Juanda, Surabaya. Nyaris ndak ada perbedaan antara hotel ini dibandingkan hotel lain yang pernah saya datangi. Semua nyaris sama. Tapi kemudian di belakang meja penerima tamu, terpampang sebuah foto besar karya Kurkdjian dengan judul Oranje Hotel, Soerabaja.

“Apa hubungan hotel ini dengan Hotel Oranje?” tanya saya ke salah satu mbak cantik yang ada di seberang meja keesokan harinya. Maka beginilah ceritanya..

Prasasti Pendirian Hotel Oranje
Prasasti Pendirian Hotel Oranje 1910

Bangunan hotel ini didirikan oleh “the famous” Sarkies bersaudara. Hotel ini oleh Lucas Martin Sarkies kemudian diberi nama Oranje Hotel. Lucas Sarkies adalah anggota keluarga Sarkies yang tersohor sebagai pemilik hotel-hotel megah di Asia, antara lain the Raffles (Singapura), the Strand (Rangoon), dan Oriental (Penang). Diberi nama Oranje karena pada saat awal berdirinya, warna dinding hotel ini adalah oranye yang pekat. 

Tahun 1936, bagian depan hotel ditambah dengan bangunan bergaya Art Deco, yang pada pembukaannya kemudian dihadiri oleh Charlie Chaplin, si komedian film bisu itu. Selain berfungsi sebagai lobby (bertahan sampai sekarang), gedung baru ini juga terdapat toko kue dan es krim “Hoen Kwee” dan “Van Dorp Stationery Shop”

Saat Perang Dunia II berlangsung sekitar tahun 1942, Jepang menguasai Nusantara. Hotel ini pun ndak luput dari penguasaan Jepang dan berubah nama menjadi “Yamato Hoteru” atau Hotel Yamato, dan bertahan sampai 3,5 tahun berkuasanya Jepang.

Pada tahun 1945, tepatnya tanggal 19 September pukul 6 pagi, tentara Belanda yang datang kembali ke Surabaya bersama tentara sekutu, mengibarkan kembali bendera Merah-Putih-Biru di tiang bendera utama hotel ini. Pengibaran bendera ini bertujuan untuk menunjukkan kekuasaan pemerintah kolonial Belanda setelah bersama sekutu berhasil menang dalam Perang Dunia II. Pemuda Surabaya marah, karena merasa pengibaran bendera Belanda itu adalah sebuah penghinaan terhadap Prokalamasi Kemerdekaan Indonesia yang sebulan sebelumnya dikumandangkan di Jakarta oleh Soekarno-Hatta.

Menara Hotel Majapahit
Menara Hotel Majapahit

Ndak menunggu lama, sekitar pukul 6:30, para pemuda yang marah itu berbondong-bondong mendatangi hotel. Pekik merdeka mengiringi beberapa pemuda yang nekat menaiki menara tempat berkibatnya bendera, dan kemudian merobek bagian biru bendera itu sehingga hanya tersisa 2 warna, yaitu Merah-Putih. Dalam insiden ini, Pluegman, pemimpin tentara Belanda waktu itu, tewas di lobby hotel ini setelah terlibat perkelahian melawan seorang pemuda Surabaya.

Kejadian ini kemudian seperti memicu kejadian yang lebih besar, yaitu terbunuhnya seorang komandan Inggris di bulan Oktober, yaitu Aubertin Walter Sothern Mallaby yang tewas dibom oleh pejuang Surabaya di dalam mobilnya. Konon katanya, Mallaby juga menginap di hotel ini pada waktu itu. Kejadian besar selanjutnya tentu saja invansi besar-besaran pasukan Belanda yang diawali pada tanggal 10 November 1945. Beberapa bulan kemudian, hotel ini kemudian dikenal sebagai Hotel Merdeka atau Liberty Hotel.

Tahun 1946, hotel ini kembali dikuasai oleh Lucas Sarkies dan diberi nama Hotel L.M.S (singkatan dari Lucas Martin Sarkies). Sampai kemudian pada tahun 1969, pemilik baru hotel ini memutuskan untuk memberi nama baru, yaitu Hotel Majapahit, diambil dari salah satu nama kerajaan besar yang pernah berdiri di Jawa Timur. Tapi setelah perbaikan selama 2 tahun, hotel ini kemudian berubah nama menjadi Mandarin Oriental Hotel Majapahit, hotel mewah berbintang 5. Hotel ini pun semakin memantapkan posisinya sebagai hotel utama di kota Surabaya. Sampai akhirnya pada tahun 2006, hotel ini kembali bernama Hotel Majapahit.

Berhubung si mbak cantik harus segera pulang karena jam kerjanya sudah berakhir, cerita dilanjutkan oleh mas-mas yang biasa saja. Hihi! Bangunan hotel ini diklaim masih asli seperti saat berdirinya, kecuali warna catnya yang berubah putih cerah. Kalau saya perhatikan memang masih sama dengan yang terpampang di foto di meja penerima tamu tadi. Waktu saya tanya ke mas-mas di meja penerima tamu, bangunan mana saja dari hotel ini yang punya nilai sejarah spesial, mereka serempak menjawab, “Room 33”

Ada apa di kamar nomor 33? Kamar ini ditempati oleh petugas Anglo Dutch Country Section pada waktu tentara Belanda kembali ke Surabaya. Pada hari insiden perobekan bendera itu, Roeslan Abdulgani mendatangi kamar ini untuk meminta penjelasan mengenai pengibaran bendera Belanda. Kamar ini letaknya paling ujung, berkelas suites room. Sementara dari beberapa informasi di internet, ada satu lagi kamar nomor 44 yang punya nilai sejarah istimewa. Kamar ini adalah kamar langganan anggota keluarga Sarkies kalau berkunjung ke Surabaya. Nama Sarkies sendiri kemudian diabadikan sebagai salah satu ruangan di hotel ini sebagai Sarkies Seafood Restaurant, yang menempati ruangan bekas Van Dorp Stationery Shop. Sampai sekarang, blum ada lagi keturunan keluarga Sarkies yang berkunjung ke hotel ini.

“Ada hal-hal gaib, mas?” tanya saya memancing cerita yang lebih seru. Lagi-lagi dengan kompak para mas berseragam itu menjawab. “Ndak ada mas” jawab mereka. Tapi salah seorang dari mereka kemudian menambahkan, hal-hal seperti itu tergantung tamu masing-masing. Mereka juga menambahkan, di hotel ini ndak memiliki sejarah menyeramkan seperti pembantaian yang terjadi di sekitar Pasar Genteng yang terletak di dekat hotel ini. “Tapi, namanya juga bangunan tua, mungkin ada hal-hal seperti itu” jawab salah satu mas. Sudahlah, saya juga ndak terlalu tertarik untuk mengorek lagi kejadian-kejadian gaib yang pernah terjadi di hotel ini.

“Penambahan bangunan hotel yang paling baru apa mas?” tanya saya lagi. Mereka pun menunjuk lobby ini. “Lobby yang dibikin tahun 1936 ini yang terbaru?” tanya saya lagi untuk memastikan. Mereka (lagi-lagi) serempak menjawab, kali ini dengan anggukan kepala. Semua bangunan dan ruangan adalah asli peninggalan bangunan lama. Terbersit rasa kagum di benak saya untuk manajemen hotel ini yang mampu dan mau mempertahankan nilai sejarah bangunan ini di tengah-tengah modernisasi kota Surabaya yang seperti ndak pernah berhenti bergeliat.

Cerita tentang hotel ini sungguh menyenangkan, walaupun akhirnya seperti menjadi dongeng sebelum tidur untuk saya karena beberapa jam kemudian, mata mulai terasa berat. Akhirnya saya memutuskan kembali ke kamar dan merebahkan diri di ranjang empuk dan nyaman. Kali ini saya memutuskan untuk tidur tanpa menggunakan selimut tebal yang disediakan hotel, karena sejak tiba di hotel ini, saya sudah tidur berselimut sejarah, yang semoga akan terus bertahan abadi.

 

*Hotel Majapahit, berlokasi di Jalan Tunjungan No. 65 Surabaya. Pada tahun 2006, oleh ASEAN Tourism Association diberi penghargaan sebagai “the 2006 Best ASEAN Cultural Preservation Effort”

Related Post