My Superhero

2 menit waktu baca

Sejak kecil, saya dibiasakan membaca oleh orang tua saya, terutama ibu. Sejak itu juga, saya menggemari komik pewayangan bikinan R. A. Kosasih. Maka, ndak heran saya pun menggemari tokoh-tokoh pewayangan yang diceritakan di dalamnya. Gatotkaca, akhirnya saya pilih menjadi jagoan idola saya. Kuat, gagah, dan bisa terbang adalah alasan saya waktu itu setiap ditanya kenapa saya mengidolai putra sang Bima itu.

Tapi beberapa tahun kemudian, saya juga mengenal jagoan dari dunia lain, yaitu dunia barat. Kehebatan mereka ndak kalah seperti Gatotkaca, terutama Superman. American Superhero yang satu ini punya kekuatan yang hampir sama persis seperti Gatotkaca versi saya, yaitu kuat, gagah dan bisa terbang juga. Tapi anehnya, saya ndak mengidolai Superman seperti saya mengidolai Gatotkaca. Saya lebih tertarik dengan sosok superhero lainnya, yaitu Batman.

Saya mengidolai Batman karena saya mencoba berpikir realistis, bahwa ndak ada superhero seperti Gatotkaca dan Superman. Ndak ada lagi superhero yang berotot kawat-bertulang besi seperti Gatotkaca dan mungkin Superman. Yang ada hanya bahwa setiap orang bisa menjadi superhero, minimal untuk dirinya sendiri. Itulah yang saya temukan pada sosok Batman.

Batman, adalah Bruce Wayne, sosok manusia biasa yang kulitnya bisa terluka setiap saat oleh semua jenis benda tajam, memiliki rasa takut, sombong, munafik, dan semua sifat manusia biasa lainnya. Bruce juga seorang playboy (ini yang paling saya suka, hehe!). Sifat manusiawi Bruce ndak bisa ditutupi sepenuhnya oleh kostum hitam Batman yang terlihat misterius banget. Berbeda dengan Superman, yang meski tanpa topeng, ndak bisa dikenali oleh orang-orang terdekatnya sebagai Clark Kent, wartawan cupu yang teledor dan blo’on.

Setebal apapun topeng yang dipakainya, sekuat apapun bahan kostumnya, sifat manusiawi Bruce Wayne ndak bisa ditutupi oleh Batman. Ke-superhero-an Batman terletak pada intelektualitasnya, kemampuan menganalisanya, ditambah dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, kekayaan, keberanian dan sifat intimidatifnya terhadap orang lain. Tapi Batman tetap sosok yang bisa marah, dendam, angkuh, sakit hati, dsb., persis seperti Bruce Wayne.

Hal lain yang membuat saya makin jatuh hati pada superhero yang satu ini adalah karena kostumnya yang hitam dan gelap. Saya adalah pengagum berat warna hitam dan kegelapan. Buat saya, hitam menunjukkan sifat misterius, egois, dan terlihat simple dari luar walaupun ternyata blum tentu sesimple yang terlihat saat anda berada di dalamnya. Saya merasa warna ini benar-benar mewakili saya dalam banyak hal.

Batman, adalah tokoh superhero hasil kreasi Bob Kane dan Bill Finger. Sosok Batman terinspirasi dari film The Mark of Zorro (tahun 1920) dan The Bat Whispers (1930), juga Doc Savage, The Shadow, dan Sharlock Holmes. Sementara sosok Bruce Wayne, menggambarkan 2 tokoh yang menjadi inspirasi nama itu. Bruce, diambil dari nama Robert Bruce, pahlawan Skotlandia. Sedangkan nama Wayne, terpikirkan dari nama “Mad” Anthony Wayne, tokoh militer ternama Amerika.

Dari Batman saya bisa belajar, bahwa menjadi superhero ndak harus kuat, gagah, dan (apalagi) bisa terbang. Menjadi superhero ndak harus menjadi manusia sempurna. Seperti Bruce Wayne, setiap orang bisa menjadi superhero dari apa yang dimilikinya, termasuk juga kekurangannya. Dari sosok Batman, saya merasa mampu menjadi superhero, minimal untuk diri saya sendiri. Sejak mengenal Batman, saya sekarang memiliki my real superhero, yaitu saya sendiri. Seperti superhero dalam komik yang selalu melindungi dan menjaga dunia dari kejahatan, maka cuma sayalah (sebagai superhero) yang bisa melindungi dan menjaga diri saya sendiri. Thanks to you, Batman.

* Terima kasih terbesarku hari ini dan selamanya adalah untuk Tuhanku dan Keluargaku.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2014 Agung Pushandaka

Related Post