Cobalah Untuk Menerima, atau Pergilah.. (Part 2)

2 menit waktu baca

Sebenarnya, tanggapan tentang facebook sudah banyak ditulis di berbagai media termasuk blog. Terakhir, saya baca di kompas, facebook difatwakan haram di beberapa daerah di Indonesia. Kenapa sih facebook sampai jadi topik pembicaraan seheboh itu? Kenapa kok ndak diambil santai saja?

Jujur, saya baru mengenal facebook setahun yang lalu dari teman-teman di Gateway College Bali. Sebelumnya saya cuma tau friendster. Tapi diantara murid-murid asing, ternyata facebook lebih terkenal dibandingkan friendster. Setiap berkenalan dengan seorang murid, mereka tanya akun facebook. Setelah dibujuk beberapa teman, saya setuju untuk bergabung.

Apa yang saya dapat dari facebook? Saya berani bilang, ndak ada. Ya memang seperti itu kenyataan yang saya rasakan. Hampir ndak ada pentingnya facebook untuk saya. Beberapa games/fitur yang tersedia juga ndak sampai membuat saya rela menghabiskan banyak waktu nongkrong di facebook. Ada juga yang bilang, facebook menjadi tempat untuk saling bertukar ilmu pengetahuan atau cuma pendapat pribadi. Tapi buat saya, lebih asyik bertukar lewat blog. Update status? Hmmh, saya bukan siapa-siapa tuh, sampai harus “mengumumkan” status terbaru saya kepada orang lain. Maklum, saya blum bermental selebritis seperti orang-orang yang aktif memperbaharui statusnya di facebook. Kalau dibilang facebook cuma buat bersenang-senang saja, jujur, memang ada beberapa hal yang menyenangkan, yang bisa didapat di facebook. Tapi saya merasa lebih mengasyikkan kalau hal-hal menyenangkan itu saya dapatkan di dunia nyata.

Tapi saya juga ndak setuju kalau facebook sampai ditolak sedemikian rupa, apalagi kalau sampai diharamkan. Kenapa? Facebook ndak bersalah apa-apa kok. Tergantung yang menggunakannya saja. Kita ambil contoh, komputer. Apa kalau banyak orang yang menggunakan komputer cuma untuk nonton bokep yang diunduh dari internet, komputer akan diharamkan juga?

Kenapa yang mengharamkan facebook ndak berprinsip, “kalau ndak suka, pergi sajalah”. Kalau memang ndak suka, ya jauhi saja facebook. Jangan mengurusi orang yang pro-facebook. Paling ndak, buat mereka yang suka, facebook ternyata ada gunanya juga. Mungkin untuk sekedar berinteraksi dengan teman-teman yang berjauhan. Mungkin juga untuk menyebarluaskan undangan pernikahan misalnya. Biarlah itu menjadi urusan masing-masing. Kalaupun seseorang jadi masuk neraka karena sering nongkrong di facebook, toh mereka juga yang menanggung akibatnya, bukan siapa-siapa. Walaupun yang anti-facebook juga blum tentu masuk surga. Hehe!

Tapi buat yang pro-facebook juga sebaiknya ndak usahlah bilang bahwa yang anti facebook tuh katrok, gaptek, atau malah terbelakang. Hehe! Ya, pokoknya yang sejenis itulah. Mereka yang ndak ber-facebook blum tentu karena ndak tau caranya bergabung di facebook. Tapi mungkin lebih karena mereka ndak menemukan manfaat dari facebook. Mungkin juga mereka lebih memilih bersenang-senang, atau berinteraksi dengan orang lain tanpa facebook.

Dalam beberapa hal, facebook justru malah merugikan. Misalnya, di beberapa kantor para pegawai malah menggunakan fasilitas internet gratis untuk kepentingan pribadi termasuk facebook. Kalau yang seperti ini kan malah merugikan orang lain. Maka sebaiknya sih, yang pro-facebook tetap saja menikmati waktu dengan facebook-nya, selama ndak mengganggu kepentingan pihak yang anti-facebook dan ndak merugikan kepentingan pihak lainnya.

Intinya, jadi orang tuh, cobalah untuk ndak peduli. Selama kepentingan masing-masing ndak terganggu, kenapa harus meributkan hal yang ndak penting seperti facebook? Kalau ndak suka facebook, ya sudahlah jauhi saja. Gitu juga yang pro-facebook. Kalau ndak suka dengan sikap orang-orang yang anti-facebook, ya jauhi saja mereka kalau ndak mau terganggu saat anda menikmati facebook. Gampang banget, kan? Hehe! Serius, gampang banget. Malu banget ma negara lain kalau di Indonesia, hal ‘ecek-ecek’ seperti facebook malah jadi bahan perdebatan sengit.

Yang anti-facebook, sudahlah, masih banyak hal yang lebih penting untuk diurus daripada facebook. Buat yang pro-facebook, ndak usah sampai mengganggu kepentingan orang lain. Jadi sama-sama enak, kan? Hihi!

Related Post

2 thoughts on “Cobalah Untuk Menerima, atau Pergilah.. (Part 2)”

  1. kalo saya tidak ikut2an dengan berbagai macam new social networking karena Reaksioner saja. tidak ada alasan ideologis. cuma reaksioner saja. hehehehe..

    Kalo blog, lebih nyaman. walaupun bisa dikategorikan new social networking tersebut. Tapi saya menggunakan fasilitas kantor nih.. Gimana dong.. :D :D

    Lha ini..! Salah satu orang yang pakai fasilitas kantor. Hehe!

  2. xixixiix… setuju…. jangan ngeributin hal – hal kecil… kayae edisi buku2 motivasi jaman dulu entu perlu nambah satu judul….
    “Don’t sweat small stuff for idiots” xixixixi…. *peace

    Setuju!! :)

Comments are closed.