Kangen Gelora Dewata

4 menit waktu baca

Beberapa hari lalu, saya menonton pertandingan antara Persija Jakarta vs PSM Makassar di tivi. Seru banget, gol penyama kedudukan terjadi di injury time. Ndak tau kenapa, setelah pertandingan berakhir, muncul rasa kangen di benak saya menikmati suasana hiruk pikuk yang sesungguhnya saat kita menonton pertandingan sepakbola di stadion.

Iya, saya kangen berat dengan suasana stadion Ngurah Rai saat menonton tim Barak-Putih-Selem (merah-putih-hitam), PS. Gelora Dewata ’89. Bertemu dan duduk bersebelahan dengan penonton lain yang ndak kita kenal ndak pernah jadi masalah karena saat kita diskusi tentang Gelora Dewata sebelum pertandingan dimulai, rasanya kita sudah lama saling mengenal.

Ndak peduli cuaca, saya enjoy duduk di tribun ekonomi sebelah timur stadion karena dari sana sudut pandangnya lebih bisa menjangkau setiap sudut lapangan. Bolos sekolah (waktu smp saya pernah kebagian jam sekolah siang hari) pun pernah saya jalani demi menonton tim kebanggaan saya.

Pernah juga saya harus berhujan-hujan demi bisa menjadi saksi pertandingan seru melawan Persebaya Surabaya, yang datang ke Denpasar dikawal oleh ribuan bondo nekatnya. Pertandingan di dalam dan di luar lapangan sama-sama seru. Suporter Gelora Dewata dan bonek seperti saling bersahut-sahutan melempari pendukung lawan dengan batu yang kalau mampir di kepala lumayan bisa bikin kepala bocor. Hehe!

Saya juga pernah malah menangis sesenggukan di dalam stadion. Bukan karena Gelora Dewata kalah, tapi karena tangan saya sakit banget kena sabetan gesper ikat pinggang bapak tentara waktu saya nekat memanjat tembok stadion demi menonton pertandingan walaupun lagi ndak punya uang.

Wah, pokoknya banyak banget kejadian yang pernah saya alami di stadion Ngurah Rai waktu mendukung Gelora Dewata secara langsung, yang sampai sekarang ndak bisa saya lupakan. Walaupun sebenarnya, Gelora Dewata ndak pernah mengangkat tropi juara nasional. Seingat saya, prestasi terbaik Gelora Dewata adalah menjadi runner-up Piala Liga setelah kalah 0-1 dari Pelita Jaya Jakarta. Status runner-up itu ternyata menjadi pintu buat Gelora Dewata untuk berlaga di ajang Winners Cup Asia, karena Pelita Jaya harus berlaga di Champions Cup Asia karena waktu itu, Pelita Jaya juga menjuarai kompetisi Galatama.

Pertandingan Winners Cup Asia benar-benar menjadi pertandingan terbesar yang pernah diadakan di stadion yang terletak di Jalan Melati Denpasar ini. Saya ingat betul, sekitar 16.000 orang mendatangi stadion mendukung Gelora Dewata menghadapi Perak FC dari Malaysia. Padahal kapasitas stadion cuma 12.000 tempat duduk. Penuh banget!!

Mungkin saya berlebihan, tapi saya merasa bumi berguncang hebat waktu Abel Campos mencetak gol pertama untuk Gelora Dewata di pertandingan itu. Kalau saya ingat-ingat lagi bagaimana gemuruh suara penonton yang kompak berteriak “Gol!” waktu itu, saya merinding hebat. Ternyata ndak cuma saya, waktu saya baca di koran nasional keesokan harinya, pemain-pemain tim lawan pun merasa takjub dengan suasana stadion seperti itu. Kata mereka, selama mereka berhadapan dengan tim-tim lain, paling banyak ditonton oleh sekitar 5.000 orang saja.

Sayangnya, kemenangan 2-0 Gelora Dewata atas Perak berakhir tragis. Gelora Dewata didiskualifikasi oleh AFC karena legiun asing Gelora Dewata waktu itu, Vata Matanu Garcia, Abel Campos, dan Jeremy, blum resmi didaftarkan oleh PSSI ke AFC. Uh, kecewa banget!

Tapi apapun itu, sampai sekarang blum ada suasana dan sensasi sehebat itu yang pernah saya alami di stadion sepakbola sampai sekarang. Memang, saya pernah menonton pertandingan sepakbola di beberapa stadion di Jawa, bahkan di Gelora Bung Karno. Tapi ndak ada geregetnya karena yang saya tonton bukan tim kebanggaan saya. Terakhir, saya mencoba mencari suasana itu di Gelora Bung Karno saat Persija Jakarta melawan Persijap Jepara beberapa bulan lalu. Cuma ya, saya ndak antusias. Setiap gol yang terjadi, saya tanggapi cuma dengan tepuk tangan lemah.

Saya kangen Gelora Dewata. Saya kangen karena cuma Gelora Dewata yang mampu mengundang tim dan pemain-pemain hebat nasional datang ke Denpasar. Tapi melihat kondisi sekarang, rasa kangen itu sepertinya harus saya pendam lebih lama lagi. Ndak ada lagi kesebelasan dari Bali yang berlaga di kancah sepakbola nasional. Terakhir, Bali punya Persegi Bali FC. Tapi nasibnya sama dengan Gelora Dewata, harus tutup buku karena masalah finansial. Bangkrut!

Saya ndak tau sampai kapan Bali akan sepi dari pertandingan sepakbola nasional. Rasanya sih, kalau pengusaha-pengusaha di Bali diwadahi oleh pihak-pihak berkompeten di pemerintahan mau duduk semeja dan membicarakan tentang ini, Bali mampu membentuk tim sepakbola. Okelah, ndak usah membentuk tim sementereng Persija Jakarta atau Arema Malang yang membutuhkan dana puluhan miliar. Yang penting, nama Bali beredar lagi di sepakbola nasional, walaupun harus dimulai dari level terbawah.

Kapan lagi masyarakat Bali bisa menyaksikan pemain-pemain terbaik nasional kalau ndak punya kesebelasan yang ikut berlaga di liga nasional. Bayangkan kalau sekarang Bali punya tim sepakbola di kancah Liga Super Indonesia, pemain-pemain top macam Bambang Pamungkas, Ponaryo Astaman, dsb., akan bisa kita saksikan secara langsung. Bahkan mungkin lebih hebat lagi daripada itu.

Asal tau saja ya, Bali seringkali dikunjungi tim-tim luar negeri. Tapi mereka cuma berlibur saja. Sebut saja AC Milan, SS Lazio, Sampdoria, dan PSV Eindoven (waktu itu masih diperkuat Ronaldo). Tapi ya itu tadi, mereka ke Bali cuma untuk berlibur semalam, sebelum bertolak lagi ke negara lain untuk mengadakan pertandingan persahabatan.

Andaikata Bali punya tim sepakbola level nasional seperti Gelora Dewata (yang tentu saja didukung oleh stadion yang lebih baik dari stadion Ngurah Rai), rasanya ndak mustahil Manchester United akan memilih Bali sebagai tempat melangsungkan pertandingan tour Asia mereka bulan Juni nanti, bukan Jakarta.

Oke, tujuan itu memang bukan yang utama. Pembinaan lebih penting lagi. Sekarang buat apa kita punya klub sepakbola amatir kalau pemain-pemainnya ndak punya target tertinggi lagi. Dulu, kita punya Gelora Dewata yang mampu mengangkat pemain lokal kita ke level nasional seperti I Kadek Swartama, Wayan Sukadana, dsb.

Memang sih pemain-pemain lokal kita bisa mengadu nasib di klub luar Bali seperti yang dilakukan Bayu Sutha di Persema Malang, I Made Wirawan (Persiba Balikpapan), I Komang Adnyana (PSMS Medan), dsb., tapi mereka pasti lebih menyenangi bermain untuk klub Bali. Eh, ndak usah menuduh saya ini masih berfikir kedaerahan. Pemain-pemain Eropa yang konon profesional pun sering merasa lebih senang bermain di klub kota kelahiran mereka.

Tapi ya, begitulah. Gelora Dewata, saya rasa akan selamanya cuma jadi kenangan. Tapi, apa Bali akan selamanya menjadi penonton sepakbola nasional? Saya ndak pernah tau..

Related Post

4 thoughts on “Kangen Gelora Dewata”

  1. miris memang, tapi mau gimana lagi…

    yang penting ntar malem MU lolos ke final Liga Champion, hehehe

    Tapi pasti bisalah bali punya tim sepakbola lagi. Cuma masalahnya, ndak tau kapan.

  2. tulisanmu makin hari makin nyak cak, gung. salut..

    –Saya juga pernah malah menangis sesenggukan di dalam stadion. Bukan karena Gelora Dewata kalah, tapi karena tangan saya sakit banget kena sabetan gesper ikat pinggang bapak tentara waktu saya nekat memanjat tembok stadion demi menonton pertandingan walaupun lagi ndak punya uang.–

    soal ini, laporin saja tentara itu ke mertuamu. biar disabet balik. :D

    Aku blum nikah, jadi mertuaku yang mana ya? :P

  3. heheehhe… ketika saya buka blog ini, langsung terkaget-kaget melihat ada nama Gelora Dewata. Saya juga kangen berat dengan nama ini. Seolah ketika mendengarnya, kita jadi ikut ber-Gelora! :)

    Hidup Gelora Dewata deh pokoknya!! :D

Comments are closed.