Ada Apa Dengan Teuku Umar?

2 menit waktu baca

Semua orang pasti tau, siapa Teuku Umar.  Saya sih, sebenarnya ndak tau pasti siapa dia. Saya cuma tau dia lewat buku-buku sejarah. Tapi saya tau pasti tentang jalan Teuku Umar Denpasar. Selalu semrawut dan berantakan. Ada apa dengan jalan ini?

Saya setiap pagi menjelang siang selalu lewat jalan ini menuju ke kantor di Kerobokan. Saya sebenarnya cukup familiar dengan jalan ini, karena saya sempat bersekolah di SD 4 Saraswati yang letaknya di sekitaran jalan ini. Gitu juga waktu saya sekolah di SMUN 4 Denpasar, untuk pulang ke Panjer, saya kadang-kadang lewat jalan ini. Tapi waktu itu, jalanan masih lengang, karena selain daerah sana blum padat dan jalanannya juga lebar.

Sekarang, keadaan berubah banget. Okelah, jalan Teuku Umar sebelah timur masih cukup lapang untuk dilewati. Jalan Teuku Umar mulai dari perempatan Kimia Farma sampai simpang Libi masih bisa saya jajal dengan kecepatan 40-50 km/jam.

Tapi, kemacetan mulai terasa setelah lewat simpang Libi itu. Rasanya, di jalan Teuku Umar bagian tengah inilah yang paling banyak menyedot energi positif saya. Pertama, tentu saja karena macetnya. Kedua, pemandangan sekitar jalan yang sama sekali ndak enak dilihat. Bangunan gedung berdiri seenaknya seperti ndak memperhatikan keindahan dan kenyamanan mata. Ketiga, panas banget, karena jumlah pohon perindang di jalan ini bisa banget dihitung dengan jari sebelah tangan. Hehe!

Pinggiran jalan ini dipenuhi segala macam bentuk bangunan dengan fungsinya masing-masing. Ada restoran, toko hp, bengkel, toko buku, pusat perbelanjaan, distro, salon, dsb. Bahkan, saya baru sadar kalau ternyata di jalan itu ada kampus. Saya baru sadar setelah saya perhatikan dengan teliti bangunan yang dulunya saya kira ruko atau toko kelontong atau pabrik sepatu itu, karena bentuknya yang ndak jelas tapi selalu ramai dengan sepeda motor dan mobil yang parkir itu, ternyata kampus toh! Hihi!

Saya pikir, kemacetan diawali dengan ndak disiplinnya pengguna jalan. Baik yang lagi berkendara maupun yang lagi parkir. Pengguna jalan yang lagi berkendara, suka nyelap-nyelip seenaknya. Parahnya, ndak cuma sepeda motor yang seperti itu. Mobil juga sama saja. Selain ulah pengguna jalan yang ndak disiplin, jalan Teuku Umar bagian tengah ini menyempit saat mendekati perempatan Imam Bonjol. Jadi setiap ada lampu lalu lintas, antrian kendaraannya jadi panjang banget ke belakang.

Kalau masalah panas, ya mau bagaimana? Saya perhatikan, pinggiran jalan sudah habis untuk bangunan gedung dan lahan parkir. Pohon perindang mau ditanam di sebelah mana? Selain ndak ada pohon perindang, karena macet, sepeda motor yang saya tunggangi cuma bisa melaju di sekitaran 10-20 km/jam, jadi ndak ada hembusan angin yang menyejukkan badan seperti kalau kita bersepeda motor dengan kecepatan yang lebih tinggi.

Setelah lewat perempatan Imam Bonjol, saya sudah bisa sedikit bernafas lega karena jalan Teuku Umar bagian barat ini masih cukup lengang, walaupun panasnya masih sama saja. Saya yakin, kalau tanah kosong di sekitar sana nanti juga habis dipakai untuk mendirikan bangunan tanpa memperhatikan keindahan, kenyamanan dan ketertiban lingkungan sekitarnya, terutama jalanannya, jalan ini akan sama saja dengan jalan Teuku Umar bagian tengah tadi.

Uh, pokoknya lewat di jalan ini benar-benar menghabiskan semua energi positif saya. Jadi, kalau sampai di kantor, saya ndak bisa langsung kerja karena saya harus beristirahat sebentar untuk mengembalikan semua energi yang terkuras di jalanan. Walaupun rasanya mustahil, saya masih berharap jalan Teuku Umar, terutama yang bagian tengah, ndak akan jadi lebih parah dari yang sekarang.

Related Post

4 thoughts on “Ada Apa Dengan Teuku Umar?”

  1. begitulah, gung. kota ini memang seperti tidak ditata. semua campur aduk di satu tempat. jadinya macet dan berantakan di mana2.

    btw, boleh dong aku ambil artikelmu buat balebengong. :)

    trus kapan futsal lagi? hihihi..

    Wah, balebengong? Tulisanku kan bukan tulisan koran Ton.. :P

  2. wah, saya pas lagi di teuku umar nih, tepatnya di kampus stikom nyari sesuap nasi..

    semrawut sih iya, tapi masih kalah rame dengan kerobokan – canggu (trutama di banjar anyar) kalau pas jam 5 sore, hehehehe

    Iya sih, di kerobokan jam segitu macetnya luar biasa. Tapi ndak bisa dibandingin donk sama Teuku Umar. Jalanan di kerobokan sempit, sementara Teuku Umar lebar banget. :P
    Kalau saya nyari sesuap nasi ke dapur bli, bukan ke kampus. Hehe, becanda!

  3. AAAhhh….Kirain cerita perang jaman Belanda, tp ada lah sedikit masalah perangnya. Bli, template dah jadi tp kupake heheheheh….coba review aja dengan mengklik namaku

    Ah, kau Chan! Template pesanan malah kau pakai sendiri!

  4. Teuku Umar emang ramai banget…plus panasnya minta ampun… sering berasa malas kalau disuruh ke kuta lewat Teuku Umar… Gimana ya solusinya biar tidak seperti ini lagi? hehe

    sorry baru baca….baru gabung didunia perBLOGingan

    Solusinya? Hm.. Memang agak susah sih. Sepertinya sudah kusut banget, jadi kalau mau diurai lagi, harus digunting dulu.

Comments are closed.