Empire XXI Jogja

3 menit waktu baca

Saya yang memang hobinya nonton film, senang banget waktu melintas di jalan Urip Sumoharjo Jogja beberapa hari kemarin. Saya memang sudah dengar dari Rini bahwa ada gedung bioskop baru di kawasan ini, tapi blum tau seperti apa bentuknya. Nah, waktu keadaan di jalan itu agak padat merayap, saya memanfaatkan waktu untuk memperhatikan keadaan gedung bioskop dari luar.

Empire XXI, nama bioskopnya. Ndak ada poster-poster film di halaman depan seperti bioskop-bioskop lama yang ada di Indonesia. Parkir tertata cukup rapi walaupun kelihatannya ndak luas banget. Saya ndak sabar untuk segera nonton. Bersama Rini, saya segera menuju bioskop baru, yang konon ndak akan menayangkan film-film lokal.

Sampai di sana, uh, satu kelemahan saya temukan. Pintu masuk ke areal parkir kok jadi satu antara mobil dan sepeda motor? Bukannya apa-apa, saya jadi kesulitan mengambil karcis parkir karena banyaknya sepeda motor yang melintas di antara mobil yang saya kendarai dan loket parkir. Si mbak yang bertugas di loket jadi harus keluar “kantornya” untuk menyerahkan karcis parkir. Saya yakin, kalau antrian mobilnya banyak dan untuk mengurusi 1 mobil saja butuh waktu dari 2 menit, akan memacetkan jalan Urip Sumoharjo nantinya.

Apalagi ternyata tempat parkir mobil ndak terlalu luas. Untungnya masih ada tempat kosong waktu itu. Bayangkan kalau bioskop menayangkan film dengan rating box office yang mampu menyedot minat penonton. Pasti kendaraan pengunjungnya bakal meluber sampai ke jalanan. Kalau sudah gitu, jalan Urip Sumoharjo yang memang padat, bakal tambah ndak karu-karuan jadinya.

Sampai di dalam, saya merasa berada di Studio 21 Ambarukmo Plaza (sering dibilang Amplaz 21). Bedanya adalah, Empire terlihat lebih luas dan lapang. Loket karcis bioskop ada di sebelah kiri pintu masuk utama. Lagi-lagi saya berpikir, gimana kalau antrian penontonnya banyak. Saya cuma heran, kenapa posisi loket ditempatkan di sana, sementara posisi bar berada di tempat yang seharusnya lebih strategis untuk mengantri. Kalau posisinya masih seperti ini, bayangkan gimana kroditnya lobi utama. Sebab, antrian penonton akan memotong jalan masuk penonton yang datang belakangan, atau penonton yang sudah memegang karcis untuk segera masuk atau sekedar membeli makanan dan minuman di bar.

Penempatan poster film di lobi utama juga mengusik pikiran saya. Bukan posternya sih, tapi beberapa sofa yang ditempatkan di depan poster-poster itu. Orang yang pengen memilih film yang akan ditontonnya dengan melihat posternya, akan terganggu dengan orang-orang yang duduk di sofa. Gitu juga sebaliknya, orang yang duduk di sofa, akan terganggu dengan orang yang berdiri di hadapannya untuk melihat poster filmnya. Sepasang pengunjung langsung menghentikan obrolannya, waktu saya nekat berdiri di depan mereka untuk melihat sebuah poster film yang ada di belakang sofa mereka. Intinya, mereka merasa terganggu.

Untuk pilihan makanan dan minuman di bar, saya ndak terlalu ambil pusing. Malah saya bahagia karena di Empire juga dijual hotdog favorit yang selalu saya beli di Amplaz 21 untuk teman nonton film. Ndak heran sih, Empire XXI dan Amplaz 21 kan memang 1 grup. Sayangnya, ada yang mengganggu di bar ini. Seorang mbak yang jaga di sana berteriak-teriak memanggil calon penonton untuk membeli makanan dan minuman. Buat apa? Ndak usah dipanggil pun mereka akan datang kalau memang pengen membeli makanan atau minuman karena memang di sana satu-satunya tempat untuk membeli makanan dan minuman.

Untuk film-film yang ditayangkan, saya cukup puas walaupun masih ada satu film lokal yang ditayangkan. Tapi ndak apa-apalah. Sejelek-jeleknya film lokal, ndak salahnya ditayangkan di Empire. Satu kekurangan lain yang saya temukan, ndak berkaitan dengan bisokopnya sih. Tapi penontonnya. Penonton bioskop di Jogja sangat berisik, apalagi kalau yang nonton adalah segerombolan pelajar. Mereka bukannya nonton, malah becandaan di dalam studio.

Selebihnya, kualitas Empire XXI cukup bagus. Harga karcis menonton cukup pas untuk saya. Kualitas makanan dan minuman juga enak. Ada 6 studio yang “dalemannya” cukup bagus. Toiletnya pun nyaman. Semoga saja kualitas bagus ini ndak cuma karena Empire masih baru, tapi memang standarnya seperti itu. Semoga dengan beroperasinya Empire XXI, mampu mengurangi minat masyarakat Jogja untun menonton film dari vcd bajakan.

Untuk sementara, urusan bioskop, Jogja unggul jauh atas Denpasar yang masih cuma mengandalkan Wisata dan Galeria 21. Jadi pengen ke Jogja lagi untuk pacaran dan nonton film tentunya. Hehe!

Related Post

3 thoughts on “Empire XXI Jogja”

  1. dijane bli bioskop ne… beh.. jeg antosine rage out uli jogja mare ade bioskop. Pidan kanggoang pilihanne cuman mebalih vcd bajakan ato ke mataram nonton bareng si mickey mouse :D

    Ditu be bioskopne. Sekitaran jalan solo

Comments are closed.