Mengapa Sebaiknya Kita Tidak Menghina Orang Lain

2 menit waktu baca

Berikut arti kata menghina menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,

hina » meng.hi.na

  1. v merendahkan; memandang rendah (hina, tidak penting): ia sering ~ kedudukan orang tuanya
  2. v memburukkan nama baik orang; menyinggung perasaan orang (seperti memaki-maki, menistakan): tulisannya dalam surat kabar itu dipandang ~ kepala kantor itu

Orang tua selalu menasihati bahwa menghina orang lain adalah perbuatan yang tidak baik. Tidak sesuai ajaran agama, kata mereka.

Tapi menurut saya ada beberapa alasan lain, mengapa kita sebaiknya tidak menghina orang lain.

  1. Kita tidak boleh menghina kekurangan orang lain, baik jasmani maupun rohani, sebab sama saja kita merendahkan Tuhan sebagai pencipta seluruh umat manusia dan makhluk hidup lainnya.
  2. Kita jangan merendahkan prestasi orang lain, karena kita sendiri belum tentu bisa menyamai atau melebihi prestasinya.
  3. Apalagi menghina kegagalan orang lain karena kita sendiri belum tentu sanggup menghadapi kegagalan dari suatu usaha kita.
  4. Kita sebaiknya tidak menghina orang lain saat melakukan kesalahan karena kita tidak akan pernah selalu benar.
  5. Jangan menghina orang lain karena aibnya, sebab kita pun tidak akan luput dari aib.
  6. Tidak baik pula menghina tradisi, budaya apalagi agama orang lain, karena hanya akan menistakan agama kita sendiri di mata mereka.
  7. Menghina orang lain dapat pula menjerumuskan kita ke dalam penjara karena delik aduan pencemaran nama baik atau penghinaan.
  8. Dan yang terpenting adalah, saat kita menghina orang lain, kita sedang menunjukkan kepada orang lain seberapa hinanya kita. Sebab di saat satu jari kita menunjuk orang lain maka jari lainnya sedang menunjuk ke arah diri kita sendiri.

Itulah mengapa menurut saya sebaiknya kita tidak menghina, merendahkan atau menjelekkan sesama.

Inti dari semua itu adalah bahwa penghinaan akan menyakiti orang lain, dan sebenarnya juga menyakiti diri sendiri.

Kalaupun kita tidak bermaksud untuk menghina, atau hanya sekadar bercanda, tapi saat orang lain merasa terhina atas ucapan kita, segeralah minta maaf dengan tulus.

Kebanyakan orang saat ini, terutama di media sosial, begitu mudah untuk menghina orang lain. Bahkan hinaan itu bisa berlanjut pada perbuatan bullying.

Media sosial jadi tidak sehat. Hampir tidak ada satu pun topik yang bisa lepas dari tanggapan atau komentar yang bernada hinaan.

Lalu bagaimana kalau kita dihina?

Kalau saya dihina, saya akan tersinggung, kesal atau marah. Bahkan cenderung untuk membalas penghinaan itu dengan hinaan pula.

Tapi sikap itu hanya akan membuat saya hidup dalam lingkaran setan yang tidak ada putusnya. Setiap orang yang dihina akan mencari-cari kesalahan, aib atau bahkan mendoakan kegagalan dari orang yang menghinanya sehingga bisa membalas hinaan tersebut.

Maka sejak ada niat itu, hidup kita tidak akan pernah tenang dan damai. Kita selalu sibuk mencari-cari hal yang dapat kita hinakan kepada orang yang menghina kita.

Lagipula, apa bedanya kita dengan mereka yang menghina saat kita melakukan perbuatan yang sama?

Maka cara terbaik menyikapi suatu penghinaan adalah introspeksi diri dan memaafkan pelakunya sekalipun tidak diminta.

Sebab sebenarnya tidak ada sepatah kata pun dari orang lain yang dapat menghina kita, selain perbuatan kita sendiri.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2017 Agung Pushandaka

Related Post