Move On, Dong!

1 menit waktu baca

Setelah kekalahan Basuki-Djarot pada pilkada Jakarta bulan April lalu, ajakan yang lebih bernada sindirian seperti “Move ondong!” kerap disampaikan oleh para pendukung Anies-Sandi kepada pendukung paslon rivalnya.

Memang, sejak Basuki-Djarot dipastikan kalah, banyak pendukungnya dan warga lainnya yang mengekspresikan rasa sedihnya dengan mengirim ungkapan kekecewaan berbentuk karangan bunga.

Jumlahnya bahkan sampai tidak tertampung di Balaikota.

Rasa kecewa itu harus ditambah lagi dengan putusan pengadilan Jakarta Utara yang menjatuhi pidana penjara selama 2 tahun terhadap Basuki alias Ahok pada kasus dugaan penistaan agama.

Maka sejak itu, selain karangan bunga, masyarakat mengungkapkan keprihatinannya melalui aksi doa bersama bertema 1000 lilin. Tidak hanya di Jakarta, tapi juga di banyak kota di wilayah Indonesia.

Apakah mereka belum move on?

Menerima kenyataan pahit memang tidak semudah yang kita bayangkan. Seberapa besar pun kita berusaha legowo, kenyataan pahit akan tetap membekas seperti rasa cabai yang meninggalkan rasa pedas di lidah.

Memang akah hilang, tapi butuh waktu.

Bayangkan dengan mereka yang sampai sekarang belum sepenuhnya bisa menerima kekalahan pada pilpres 2014. Bahkan sampai sekarang pun hampir sebagian pendukung pihak yang kalah masih memendam rasa kebencian terhadap pemerintahan Jokowi.

Sebut saja Jonru, salah seorang yang tidak pernah lelah mengejar kesalahan dan keburukan pemerintah. Bahkan kalau perlu membuat hoax atau berita bohong.

Maka begitu pula pendukung Basuki-Djarot.

Mereka saat ini jelas belum bisa menerima kenyataan. Tapi kalau saya perhatikan bagaimana cara mereka mengungkapkan rasa sedih dan kecewa mereka melalui bunga, lagu dan doa, tanpa anarki, saya yakin mereka akan lebih cepat pulih dibandingkan mereka yang kalah pada pilpres 2014.

Apalagi kalau Anies-Sandi sebagai gubernur dan wakil gubernur terpilih bisa menunjukkan kapasitas dan kinerja yang lebih baik daripada Basuki-Djarot, tentu akan menjadi obat perangsang untuk segera melupakan kekalahan di pilkada 2017.

Atau dengan menegakkan keadilan misalnya menghukum pelaku penghinaan agama lain dengan pidana yang setimpal, sekalipun tersangkanya tidak jantan menghadapi proses hukum dan memilih untuk mengungsi ke negara lain.

Saya yakin, 2 hal tersebut dapat membantu para pendukung Basuki-Djarot lebih cepat untuk melupakan rasa pahit ini.

Mereka pasti move on.

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2017 Agung Pushandaka

Related Post