Jessica, Apa Kabar?

2 menit waktu baca

Lama ndak mengikuti beritanya, terakhir saya tonton di tivi ternyata persidangan kasus pembunuhan Mirna sudah sampai tahap pemeriksaan saksi. Awalnya, saya mengikuti kasus ini karena begitu hebohnya di media massa dan media sosial. Hampir semua orang membicarakan kasus ini. Banyak alasan kenapa kasus ini semarak di koran dan tivi. Pertama, karena pembunuhannya ndak lazim, konon katanya diracun dengan sianida. Kedua, locus delicti-nya juga ndak seperti kasus pembunuhan lainnya, yaitu di sebuah cafe di mall terkemuka di Jakarta yang jelas itu tempatnya orang-orang berduit. Plus, kasus ini sudah menjadi gosip di akun facebook pihak-pihak yang terlibat langsung dengan penyelidikan kasusnya.

Saya bukan ingin membela Jessica, karena saya bukan temannya apalagi saudaranya. Tapi apa yang banyak saya lihat di sekitar saya, bahwa banyak orang menghujat dia, menyumpahi dia segera dipenjara, dsb., membuat saya iba. Sejak lama saya diajarkan, jangan main hakim sendiri yang bahasa kerennya adalah kedepankan praduga tak bersalah. Kalaupun Jessica pelakunya, itu baru akan sah di mata hukum setelah vonis hakim menyatakan demikian. Bukan sekarang, saat pemeriksaan di pengadilan masih berlangsung.

Saya sendiri blum sepenuhnya yakin Jessica yang melakukan pembunuhan itu, yaitu dengan memiliki dan menuangkan sianida ke dalam kopi yang diminum oleh korban. Kata orang, motifnya adalah kisah cinta seorang lesbian yang ditinggal pujaan hatinya menikah dengan lelaki lain. Tapi sampai sekarang saya blum mendengar bahwa dia adalah seorang lesbian.

Kata orang lainnya, muka si Jesicca lempeng banget saat temannya sekarat, seperti membiarkan temannya meregang nyawa. Kalau saya adalah pelakunya, maka saya akan berpura-pura panik untuk menutupi kejahatan saya. Trus buat apa Jessica membiarkan temannya mati yang akan membuatnya semakin dituduh sebagai pelaku?

Cuma memang, posisi Jessica yang membuat orang begitu yakin bahwa dialah pelakunya. Masih juga ditambah dengan dugaan-dugaan dari bapaknya Mirna yang akhirnya mau ndak mau menggiring pendapat masyarakat bahwa pelakunya sudah sangat terang dan jelas. Padahal sampai saat sekarang ini, ndak ada satu orang pun yang mengetahui dengan pasti, melihat dengan kepala sendiri, bahwa Jessica benar-benar memiliki dan menuangkan sianida ke dalam kopi yang diminum Mirna.

Masalahnya kemudian adalah bahwa Jessica ndak punya alibi. Dia berada di tempat kejadian, seorang diri tanpa ada saksi yang melihat apa yang dia lakukan sejak awal. Plus, dia yang memesankan kopi yang diminum Mirna dan tetap seorang diri setelah kopi pesanan disuguhkan. Ditambah lagi dengan karakternya yang tenang, membuat Jessica semakin dihujat karena nampak sengaja membiarkan temannya mati, padahal konon katanya dia ikut bertindak tapi ndak dengan mimik muka yang panik.

Iya, Mirna mati setelah minum kopi yang dipesankan Jessica. Ternyata kopi itu mengandung sianida. Artinya, Mirna mati dibunuh dengan mencampur sianida di dalam kopi yang diminumnya. Itu sudah jelas.

Tapi siapa yang menuangkan sianida itu?

Apakah Jessica?

Atau ada pelaku lain? Pembuat kopi? Atau teman Mirna lainnya, Hani?

Ndak ada orang lain yang bisa dengan pasti membuktikannya. Cuma Tuhan dan pelaku yang mengetahuinya.

Saya bersimpati dengan perjuangan Jessica membela diri di hadapan majelis hakim. Saya juga berduka cita untuk kematian Mirna. Tapi besar banget harapan saya bahwa pembuat putusan akan berlaku adil. Kalau memang Jessica yang menuangkan racun itu, pidanakan dia. Kalau ternyata bukan, atau ndak ada bukti yang menunjukkan bahwa Jessica yang melakukannya, maka pelakunya bisa saja orang lain.

Sekadar mengingatkan, ada prinsip yang berlaku universal di ranah hukum, “Lebih baik membebaskan 100 orang yang bersalah, daripada menghukum 1 orang yang tidak terbukti bersalah”

Digiprove sealThis article has been Digiproved © 2016 Agung Pushandaka

Related Post